Thursday, February 2, 2012

Concong Luar, desa nan tak tersentuh

2 tahun sudah tak menginjakkan kaki di tanah kelahiran, Concong Luar. Terdengar aneh? Yaah namanya memang sangat unik dan mungkin bagi sebagian orang pertama kali mendengarnya atau hanya pernah mendengarnya dari cerita Dee. Concong Luar, kecamatan Concong (dahulunya masih masuk dalam kecamatan Kuala Indragiri, sejak pemekaran kecamatan menjadi kecamatan Concong, Concong Luar menjadi pusat pemerintahan kecamatan Concong) dapat dikatakan sebagai kecamatan yang sangat tertinggal. Sebagai ibukota kecamatan, listrik disini belum  24 jam. Masyarakat hanya merasakan listrik dari pukul 17:00 hingga pukul 07:00 (ideal-nya tapi kenyataan di lapangan tidak seperti itu), listrik pun masih sering giliran 2-1 artinya 2 hari nyala 1 hari mati. Untuk soal alat komunikasi, sampai sekarang tidak ada telkom yang online di Concong, padahal proyeknya udah dilakukan sejak tahun 2000, entah mengapa terbengkalai.

Peralatan komunikasi pertama disini adalah menggunakan telepon satelit yang mahalnya ajubile dengan tarif premium seperti yang Anda rasakan ketika menelepon ke line telepon 0809xxxxx. Kemudian jaringan telepon selular mulai berkembang di tahun 2004, yah semuanya berbondong bondong membeli antena eksternal yang kayak antena televisi 'demi' mendapatkan sinyal yang cuma 1 atau 2 bar, yang penting bisa buat komunikasi murah! Ga ada gunanya handphone desain bagus karena pasti akan lecet akibat gesekan dengan antena yang diikat pake karet gelang! biar sinyalnya ga ilang-ilang, aijaaaah! so nostalgic yo... Telkomsel mulai masuk kira-kira taon 2006, ketika Dee mulai kuliah di Jakarta, itu pun masih sering mati kalo minyaknya abis yah ga dinyalain :p Jangan mengharapkan 3G, sampai sekarang masih belum ada tuh yang namanya 3G, bisa browsing aja udah syukur banget dah :)) Tahun 2011, XL mulai mengembangkan bisnis-nya untuk mematahkan monopoli Telkomsel di Concong. Alhamdulillah tahun ini pulang yang make XL masih sedkit, BBM pake XL ga pake pending parah.

Taon 2009 ketika Blackberry mulai menjamur di Jakarta, 2 tahun lalu, cuma Dee yang make Blackberry, sungguh sangat menyenangkan, ga ada yang namanya lemot dan Blackberry masih dipandang sebagai benda 'alien', karena masih pada makai Nokia/Sony Ericsson yang harganya mahal banget ataupun iphone. Blackberry merupakan benda unik, iyaa saya menjadi orang pertama yang memakai Blackberry di Concong (cliiing). Tapi tahun ini 2012, semua orang telah memakai Blackberry, barang wajib 1 Blackberry + satu ponsel lainnya. Lemot, ga bisa browsing kalo lagi peak hours...

Ngomongin soal internet.. aiiiih.. jangan harap lah ada First Media, Speedy ataupun penyedia jaringan internet lainnya. Alhasil yah hanya modem lah yang bisa dipake, itupun kembang kempis, sakit hati ga bisa browsing, bener-bener ga bisa eksis dah kalo dikampung! Ga bisa jadi anak gaul sosial media, hihihi...

Untuk akomodasi bisa dibilang sangatlah minim, transportasi laut yang menjadi penggerak utama. Jalanan belum di aspal, 90% masih terbuat dari papan dan banyak yang udah bolong + goyang-goyang, buat yang tidak terbiasa akan sangat sulit sekali berjalan di Concong Luar, sangat mengerikan, apalagi kalo lagi berjalan beramai-ramai. Goyang Inul aja kalah deh ama goyangan ini jalan, hihihi.. Untuk mencapai daerah Concong seperti yang sudah pernah Dee tulis di beberapa artikel terdahulu, ada beberapa opsi, kebetulan pulang kampung kali ini Dee memilih opsi lewat Batam, pulang kampung bareng ke Concong dengan check point di Batam. Dari Batam ke Concong dengan private ferry bersama 47 orang lainnya, kali ini ditempuh dengan waktu kurang lebih 4jam. Sepanjang perjalanan ngobrol-ngobrol bareng teman, hahahihi bersama sambil melihat laut, merenungi apa yang telah saya lakukan selama 2 tahun ini. Dee kangen pulang kampung!

Sebagai ibukota kecamatan, Concong belum berubah sama sekali, banyak hal yang perlu di tata, terutama urusan birokrasi, infrastruktur dan manner penduduknya. Tak ada perubahan berarti, malah sebagian jalan semakin tidak tertata dengan beberapa motor yang seliweran ga efektif di jalan yang sudah tak layak ini, sungguh sangat menjengkelkan melihat motor seliweran yang sangat ga efektif dan hanya memberi polusi suara dengan knalpot yang menimbulkan suara yang sangat berisik terutama di malam hari.

Dee masih bingung kenapa sampai sekarang Concong masih sangat terbelakang dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia yang pernah Dee kunjungin. Sungguh sangat menyedihkan telah sekitar 4 tahun setelah pemekaran kecamatan, nyaris tidak ada perkembangan sama sekali. Masalah sampah juga tidak menjadi prioritas utama, padahal sampah merupakan issue yang sangat memprihantinkan disini. Tidak adanya tempat pembuangan akhir membuat masyarakat membuang sampah langsung ke laut, sehingga banyak sampah yang menumpuk dan tidak terbawa ombak ke laut. Sampah semakin menumpuk di lumpur sehingga merusak ekosistem yang hidup di habitat lumpur tersebut. Susah sekali menemukan binatang yang hidup bebas di lumpur, sudah tidak ada lagi kepiting warna warni yang biasa saya lihat ketika SD, Sekarang semuanya dihiasi oleh sampah yang tidak bisa di daur ulang, menumpuk. Siapa saja yang menjadi camat atau kepala desa nantinya di Concong, Dee sangat mengharapkan perbaikan infrastruktur dan sampah menjadi fokus utama. Semoga Concong tidak lagi menjadi kecamatan yang terbelakang dengan potensi alam yang sangat besar ini.

Depan rumah diambil dari kamar Dee


Ada bangau sedang bertengger

Walet dimana-mana


Elang terbang bebas mencari makan



Penjemurah ebi

Depan rumah

sunset


suasana pukul 6 pagi

 

Mendung :(

Kapal penangkap ikan

Depan rumah

samping rumah

SD 045 (Dulu)

Jalan ke SMP

Puskesmas satu-satunya, belum ada rumah sakit

Jemur ikan asin di jalan

Rumah guru penuh kenangan

Disini dulu ada SD 009, SD Dee dulu

Rumah Dee yang warna biru


5 comments:

Anonymous said...

Hi Dee, senang sekali ngeliat foto2 Concong Luar :) Saya dulu pernah KKN di sana sekitar tahun 2004/2005. Kami anak KKN dari Unri. Saya masih inget banget dengan Bang Mahyuni dan Bang Man. Juga teman saya Indra yang rumahnya persis di depan rumah pak Kades (atau sekarang sdh mantan kali ya?)
Salam buat warga Concong ya, kalo pulang lagi. Salam dari Opie :)

Surya said...

Oooh, ini toh kampung halamannya Dee. Kerja yang rajin biar sukses, Dee, terus pulang membangun Concong biar nggak kalah sama Singapura deh ;)

Anonymous said...

Hi, dee sya tertarik nih sma kampung halaman mu, mudah2 sya Bisa ke concong luar buat wisata IMLEK nanti .
Sya tinggal di Jawa barat gk kebayang klo pindah ke concong,
Anak2 mudanya klo nongkrong/ maen kmana nii ??
:s

Simalin Kundang said...

Ko anak siape dee??
Itu wrna biru rmah tempe kah??

Eddy Lee said...

Hi,

Ini dengan siapa yah?
Rumah biru itu rumah saya kok :)