Sunday, December 11, 2011

Concong, Alhamdulillah yah sesuatu...

Jakarta, 11 Desember 2011, Minggu, Pukul 12:00. Rencananya hari ini akan istirahat saja. Iseng-iseng nyalain laptop, buka facebook ada sesuatu yang menarik. Alhamdullilah yah sesuatu, ada yang meng-upload foto "SENTENG".

"Senteng" Concong Luar, juicy banget.
Yah mungkin tidak ada yang pernah mengetahui apa ini, melihatnya saja belum pernah. Saya juga masih belum tahu disebut apa dalam bahasa Indonesia yang sesuai dengan EYD. Tapi, penduduk lokal seperti kami menyebutnya sebagai "SENTENG". Biasanya Senteng dijual per kaleng, ataupun per plastik, dengan kondisi masih segar dan berlumpur. Bila kita membelinya dan ingin mengkonsumsinya, kita harus membersihkan lumpur-lumpur tersebut, disini kerjasama keluarga sangat diperlukan. Yah, untuk mengkonsumsinya saja penuh perjuangan, dan lebih disarankan untuk makan dalam keadaan segar. Artinya Senteng yang didapat/dibeli pada hari itu sebaiknya dimakan pada hari itu juga untuk mendapatkan tekstur senteng yang masih juicy dan fresh. Ah, Dee lapar sekali, mana belum makan siang jam segini :)

Dee terlahir sebuah desa kecil di pedalaman provinsi Riau (bukan Kepulauan Riau), yang dikelilingin oleh hutan dan sepanjang mata memandang hanya hutan dan laut saja. Dengan pantai yang berlumpur, Concong bukanlah suatu tempat destinasi wisata dan sangat terisolir. Penduduk asli Concong Luar adalah suku Duano, atau suku laut, yang dulunya mereka masih hidup di perahu atau kapal. Tapi seiring modernisasi sudah tidak ditemukan lagi suku Duano yang tinggal dikapal di Concong Luar. Semuanya sudah diwajibkan untuk sekolah, memperoleh pekerjaan. Walaupun kebanyakan hanya menjadi buruh kasar karena terbatasnya lapangan pekerjaan dan rendahnya pendidikan suku Duano.

Kondisi Concong Luar yang dikelilingi oleh laut membuat sangat sulit terjangkau, terisolir dan tidak tersentuh oleh pembangunan pemerintah. Concong Luar terbagi menjadi dua bagian yang dipisahkan oleh sungai 20m. Concong dan "Seberang", yah unik sekali yah namanya, Dee juga bingung kenapa disebut demikian dan tidak ada yang bisa menjelaskannya. Dengan kondisi jalan yang tak beraspal sama sekali, jangan harap bisa melihat mobil disini :)).  Transportasi yang digunakan untuk menyebrang adalah kapal pompong/sampan, semua jalan masih terbuat dari kayu (walaupun sudah beberapa tempat dibuat beraspal) tapi masih tak membantu. *segitu dulu yah cerita tentang Concong, fokus utama kali ini bukan menceritakan kondisi Concong.

Tumbuh kembang dari kecil di Concong, yang paling ngangenin adalah SEAFOOD! Dengan kondisi dikelilingin oleh laut, Dee terbiasa makan ikan setiap hari. Ikan adalah menu utama di meja makan dengan kondisi yang sangat fresh ditangkap dari laut. Kalo rajin mancing, tinggal lemparin kail saja dengan umpan udang, alhasil pasti akan mendapatkan ikan "Sembilang".

Ikan "Sembilang", mirip dengan lele tapi hidup di air asin, Rasanya jauh lebih enak dibandingkan lele, apalagi di asam pedas.
Yah laut yang kaya ikan dan masih bersahabat dengan alam membuat tidak ada yang kelaparan bila tinggal di Concong. Kumpulin jala bekas, lempar saja ketika air pasang, alhasil udang/ikan belanak atau kalo lagi hoki ikan sembilang akan masuk ke dalam jala! Canggih kan! Kalo urat malu sedikit putus ada cara lebih gampang kok, ke pasar ikan aja. Kalo ada kapal yang baru datang, minta ikan aja! Pasti dikasih, asal ga banyak. Ikan sekilo pasti dikasih kok :)

Dengan kekayaan laut yang sangat kaya, saya pun terlatih untuk makan seafood dari kecil dalam keadaan yang segar. Sedikit "Shock Culture" ketika makan ikan/seafood di Jakarta yang notabene walaupun dikatakan "fresh" pasti masih kurang fresh dengan bau-bau yang kurang enak tercium ketika masuk ke lidah Dee. Yah, lidah saya emang beda, sebagian teman menganggap saya terlalu berlebihan bila makan *maaf yah buat yang sering makan bareng saya, saya selalu complain kalo soal makanan*, kebiasaan makan makanan 'yang benar' menurut keluarga saya, saya selalu terlatih makan dengan baik. Makan dengan sehat, makan yang fresh sehingga terkadang perut saya tak bisa bertoleransi ketika makan sembarang tempat atau pinggir jalan, tapi saja tak pernah menolak ketika diajak, yah resiko saya tanggung sendiri kalau sakit perut, dan saya ga pernah mengeluh kan gara-gara siapa. :)

Hisit, Tripang, Tiram, Escargot, Lobster, Udang, Kepiting, Kerang, Limfe, Ikan dan aneka seafood lainnya adalah hal yang paling ngangenin atau membuat para penduduk asli yang sudah merantau lama keman-mana akan pulang ke Concong. Harganya pun sangat murah dibandingkan daerah manapun :)) Bayangkan saja, kerang dara bisa didapat dengan harga Rp. 1,500.- per kilogram, Udang segar segede jari orang dewasa bisa didapat mulai dari Rp. 10,000 per kilogram atau bahkan lebih murah tergantung jenis udangnya. Udang nenek aka Ronggeng bisa didapat dengan harga Rp. 1,000 / pcs untuk ukuran <20cm, untuk ukuran 25-30cm dihargai Rp. 30,000.-/pcs dan untuk ukuran yang lebih besar (>30cm) biasanya di ekspor ke Singapore (keluarga saya enggan membelinya karena terlalu besar, lebih prefer ukuran 20-30cm saja). Untuk urusan tiram, mungkin sangat sulit mencarinya lagi di Concong, entah mengapa, tapi sejak SD saya sudah puas merasakan enaknya tiram *bukan saos tiram yah :p.

Oh iya untuk Senteng, direbus saja sudah enak, tapi mama saya biasa membuat seperti okonomiyaki senteng, karena tiram sudah sangat sulit di peroleh. Rasanya maknyus deh dibandingkan Okonomiyaki yang ada di restaurant Jepang. *saya baru tau apa yang saya makan dari kecil itu namanya Okonomiyaki*.  Untuk urusan escargot, tidak semua penduduk berani untuk memakannya, karena bisa mengakibatkan keracunan. Untuk Lobster, Hisit aaah.. udah puas makan sejak kecil, jadi kalo makan di restaurant rasanya ga worthed dengan harga yang ajubile mahalnya dan ga masuk akal. Mending beli tiket buat pulang kampung, makan sepuasnya deh (note: untuk pulang kampung tiket saja sekitar 2juta :p), tapi makannya PUAS PUAS PUAS!! hahahaa.. (buat yang mau makan hisit gratis tisss tisss silahkan ikut saya pulang kampung aja ketika sincia.. makan all u can eat hisit, saya jamin lebih enak dibandingkan restaurant manapun di Jakarta*, guarantee! Tapi tiket beli sendiri yah dan ga ngeluh kondisi Concong yang terbelakang.

Ah udahlah, Dee lapar MAK! Sekian dulu yaaaaaa.. Ga sabar bulan depan mau balek kampong, ketemu teman, makan bareng keluarga. Reunian of the Year! Yah semua perantau bakalan balek kampung pas IMLEK. Kalo ada yang mau ikutan Dee balek kampung silahkan, rencanain aja di tahun 2013 karena kalo 2012 sudah terlalu mepet, tiket pulang pergi Jakarta-Concong sekitar 2juta. Untuk akomodasi di Concong, semuanya Gratis tiss tisss, dengan satu syarat "Jangan mengeluh/complain kondisi Concong yang terbelakang, complain rumah Dee yang mirip gudang". Tapi kalo mau menemukan surga, emang harus ada pengorbanan kan?

Dee, Duta Visit Concong ^^v

1 comment:

Abdul Gapur said...

ayo..saya juga mau kesana.;..see u there ho:)