Sunday, May 13, 2012

Meooow.....! Kuching!



Belum lengkap ke negeri Sarawak kalo melum mengunjungi kucing. Patung kucing di pusat kota inilah yang menjadi spot primadona para wisatawan.


Airasia rute Kota Kinabalu - Kuching membawa kami ke bumi Borneo. Dari angkasa bisa kita lihat hijaunya tanah Borneo ini ( Januari 2010).  Pesawat membawa kami di Kuching pukul 15:30, sudah lumayan sore dan kami putuskan untuk beristirahat di hotel saja. Trip kali ini kami memilih hotel di Jalan Bishop Gate, budget hotel dengan suasana yang lumayan oke. Get what you pay..




Dengan harga yang cukup terjangkau dan fasilitas yang oke serta bersih tentunya, sesuai dengan harga yang kami bayar. Sekarang tunehotels sudah buka branch Kuching di Jalan BishopGate juga, tentu bisa menjadi pilihan Anda untuk menjadi tempat menginap. Karena sudah cukup malam, kami putuskan untuk mencari makan di mall saja. Sudah terlalu lama kami tidak merasakan sushi, hanya makan seafood saja di Sipadan, Semporna dan makan seadanya di Kinabalu. Kangen rasa sushi, siapa tahu di mall menyediakan sushi buat kami, pilihan jatuh ke Kuching City Mall, mall terbesar disini.





Tampilan mall-nya terasa peranakan Tionghoa banget, dengan kain berjuntai di langit-langit dan berbagai ornamen warna-warni yang dulu terlihat agak aneh, tapi sekarang jadi tren :) Kebetulan di food court ada restoran yang meyajikan sushi, finally bisa makan sushi lagi, Dee sudah ngidam berat walaupun hanya beberapa sushi roll, yang penting ada chuka idako! :)




Setelah menyantap makan malam kami, tentu saja nanti makan akan lapar dan kita tidak berniat untuk jalan-jalan lagi di malam hari, mengingat badan udah rontok pada saat pendakian di Kinabalu, yang kami inginkan hanya beristirahat, donut pun menjadi pilihan untuk camilan malam.

Local doughnuts yang oke :)

Keesokan pagi-nya kami bangun agak siang berjalan menyusuri sudut kota Kuching. Bangunan kota yang unik-unik di jalan yang sempit tersaji disini. Bangunan-bangunan yang cukup tua dijadikan toko-toko oleh para pedagang. Kota ini tidak begitu ramai dan waktu terasa begitu lambat. Kangen suasana seperti ini yang tidak akan dirasakan di Jakarta.









Untuk sarapan + Lunch, Min Joo dan Min Kuang menjadi pilihan. Restoran ini cukup terkenal di Kuching, harganya pun sangat murah berkisar antara RM 3.50 - 6.50 saja untuk shongshui komplit.





Pesanan kami disajikan dengan cepat, walaupun restoran cukup ramai, pelayanannya juga cukup cepat. Ah foto bisa menjelaskan segalanya, mie-nya enak dan tentunya mie Cantonese hampir sama dengan mie bangka, dengan ciri khas shong sui (campuran dari daging babi, hati, ampela, darah, jantung, lemak, otak-otak, tahu dan lain lain tergantung restoran yang menyajikan jeroan apa saja). Bedanya disini tidak memiliki jeruk kunci! :)

Shong Shui




Perjalanan kami lanjutkan untuk mengunjungi tempat wisata, yang terbagi menjadi pavilion-pavilion dengan keunikan masing-masing. Dengan kondisi taman yang asri serta cuaca yang bersahabat, Kuching terasa begitu bersahabat terhadap kami.



Di Kuching juga ada patung Cheng Ho, kita masih dalam satu nenek moyang, jadi sesama tetangga jangan saling bermusuhan yaaah... Banyak yang berdoa di patung Laksamana Muda Cheng Ho.





Suasana tenang dan sepi, cukup menyejukkan hati, santai-santai di pavilion sambil sharing cerita tentang perjalanan 'gila' kami 2 minggu ini.  Untuk hi-tea time kami ke toko Joo Foong untuk membeli banana cake, kabarnya the best in town dan juga menjadi oleh-oleh wajib bila mengunjungi Kuching.



Di temani es campur + banana cake, hi-tea time terasa sangat nikmat.

Untuk makan malam, atas referensi dari teman, Restoran After Three yang dipilih, sesuai namanya, restoran ini baru buka setelah pukul 3 sore,




Restoran chinese food yang menyajikan berbagai macam makanan disini, sungguh menggugah selera. Perbedaan chinese food di Kuching dengan Penang, bila dibandingkan dengan daerah di Indonesia analoginya seperti makanan bangka vs makanan medan. Makanan Kuching lebih berbumbu sedikit dibandingkan makanan di Penang. Dinner terakhir di pulau Borneo, perut sudah minta diisi, dimsum, mie, ayam, fried meat ball, sapo tahu semuanya di-order untuk memenuhi keinginan naga di perut. Tidak lupa Dee mencoba kaya toast di Kuching, karakteristiknya sama dengan di KL, jadi belum ada kaya toast yang seperti di Singapore kecuali di kampung Dee, Concong Luar. :)












Setelah makan malam yang banyak dilanjutkan dengan snack yang cukup banyak, nyemal-nyemil hingga malam hari, langsung kembali ke hotel untuk beristirahat. Tidak ada yang bisa dilihat di malam hari, Kuching seperti kota mati tanpa ada hiburan malam. Waktu terasa begitu lambat disini, jadi lebih baik kita tidur saja. Keesokan harinya, kembali bangun siang dan menikmati sarapan di hotel saja, karena flight pagi sudah menunggu membawa kembali ke Kuala Lumpur. By the way, kenapa kota ini disebut Kuching? Yah karena di pusat kota banyak kucing meong meong!!! Dee ngak suka kucing, jadi foto patungnya aja, malas banget suruh fotoin kucing jalanan, di kampung juga banyak! Hahaha..

Kuching? Kuceng? Miaaw.. Meooooong....

Saturday, May 12, 2012

Dee and Blog

Pertama kali nulis blog itu tahun 2006, ketika friendster memperkenalkan fitur blog, Dee agak lupa nulis apa di friendster, tapi kalo untuk blogger ini terinpirasi dari Raditya Dika, so mau ceritain kejadian ajaib-ajaib selama kuliah, namun niat itu gagal, tidak seiring dengan tingkat kerajinan untuk menulis. Sering-nya cerita garing dan tidak layak dibaca, kurang inspirasi, dan sibuknya kuliah pun membuat blog ditulis jarang-jarang. Alhasil blog di friendster akhirnya penuh dengan buletin-buletin yang tidak jelas, copy paste pertanyaan dan jawab sesuka hati.

Kemudian, mulailah mengenal blogspot dan wordpress. Awalnya masih bingung mau mulai menulis dimana untuk blog yang dahulu-nya diproyeksikan untuk jadi diari pribadi. Seiring berjalan waktu, sebulan hanya menelurkan satu sampai tiga posting, atau tidak sama sekali. Jumlah hint di-blog pun kecil banget, traffic-nya juga sangat memprihatinkan. Content dan layout juga ngasal banget, yang penting ini blog.

Proyeksi menulis blog yang baik pun mulai mengaung lagi di tahun 2009. Topik skripsi yang akan berhubungan dengan blog dan mendapatkan cerita atau opini dari blog, 'memaksa' untuk mempelajari script html, content, isi dan kesatuan bahasa dalam menulis suatu blog. Ditambah lagi dengan 'pelajaran' thesaurus dari dosen pembimbing, sehingga proses editing sekarang terasa lebih cepat, skill editing lebih terasah walaupun masih sering terjadi typo sana-sini.

Keinginan menulis lebih baik dan lebih beragam pun tercanangkan. Target menulis disamping kesibukan skripsi, asisten dosen dan online shop. Keharusan memiliki blog yang baik juga dituntut, pastinya nanti dosen akan menanyakan blog pribadi saya. Akibat tuntutan skripsi, akhirnya membuat blog yang baru di wordpress, weebly dan tumblr. 

Isi blog mulai beragam, mulai yang sentimentil, cerita pribadi, travelling, photography, politik, review dan apa saja yang terpikir untuk ditulis. Traffic perlahan mulai naik, walaupun tidak singnifikan. Setidaknya setiap hari ada yang ngintip di blog. Walaupun cukup sering jalan-jalan, pertama kali menumpahkan cerita jalan-jalan ke dalam blog di tahun 2012 ini. Karena tuntutan teman yang semakin sulit untuk bertemu sambil cerita travelling, jadi lebih efektif dituangkan dalam tulisan. Apalagi katanya dia menyukai cara Dee menceritakan tentang travelling yang men-detail dan tentunya pasti ada cerita-cerita unik selama travelling yang jarang terjadi pada orang lain. Mater-materi unik mulai dikumpulkan dan beberapa tulisan pun telah di-publish.

Tentunya kalau menulis searah saja dan tanpa penilaian dari orang yang membacanya tetap tidak berguna. Dee punya teman yang berani menilai dengan jujur tulisan Dee. Tidak lupa melihat gaya penulisan beberapa teman dalam ng-blog. Evaluasi sedikit demi sedikit pun mulai dilakukan, perubahan gaya menulis belum terlalu terlihat, tapi sedang mengarah kesana. Belum tahu kapan dapat menghasilkan tulisan yang baik dan dapat menjadi konsumsi publik. Syukur-syukur bisa diterima di majalah atau suatu saat bisa buat buku. Tentu saja cara menulis di blog dan di buku tidak akan sama, tapi suatu saat harus dapat menulis dengan baik. Penulis Indonesia terbaik yang Dee tahu adalah Dewi Lestari.

Perkenalan dengan Twitter tentunya berpengaruh terhadap dunia blog. Konsep micro blogging di Twitter sebenarnya mulai menggeser fungsi utama blog. Rangkaian kata-kata 140 karakter membuat blogging semakin menarik dilakukan di Twitter. Istilah kultwit pun muncul dengan Twitter berseri. Lama-kelamaan timeline yang didominasi oleh kultwit berseri ini mulai ditinggalkan karena terasa sangat menggangu, apalagi bila sudah menginjak seri ke-20 bahkan ada yang sampai 100. Belum lagi keribetan menyusun kata 1 seri hanya dalam 140 karakter. Memang lebih bijaksana ditulis dalam blog saja, lebih mudah dibaca, tidak ribet ng-scroll dan informasi menjadi lebih padu.

Posting terbaru di blog akan di-share di Twitter atau Facebook, secara tidak langsung promosi blog secara gratis, tentunya akan meningkatkan traffic view. Followers yang awalnya hanya mengintip, suatu saat mungkin akan menjadi pembaca setia. Buat para pembaca setia, diharapkan kripik pedas-nya yah demi kemajuan dan kepentingan bersama tentunya.

Thursday, May 10, 2012

Dee, Lovely Man

10 Mei 2012, Thursday, saatnya #KamisKeBioskop, dan kebetulan hari ini Lovely Man baru tayang. Film yang dibintangi oleh aktor laga lawas, Donny Damara, yang berperan 180 derajat berbeda dari film-film sebelumnya. Kali ini Donny Damara berperan sebagai waria, iya Anda tidak salah baca waria di Taman Lawang. Sebenarnya tidak terlalu tertarik untuk menonton film ini, tidak tertarik tema ataupun cerita. Yang membawa Dee ke bioskop hanya satu, seperti apa akting Donny Damara di film ini sehingga bisa menyisihkan Andy Lau dan meraih gelar best actor di Asian Film Award 2012 ini. Rasa penasaran itu tidak akan hilang bila tidak menyaksikan film ini.

Donny Damara as a transgender father

Pukul 19:00 berangkat ke bioskop terdekat, dan seperti perkiraan, pasti tidak akan ramai, walaupun filmnya 19:15 yakin pasti dapat, dan memang beneran masih kosong melompong ini studio, beli tiket langsung masuk ke bioskop, duduk dengan kaki terangkat karena depan kosong semua. Serasa bioskop milik pribadi. Film diputar sekitar 30 menit udah beberapa langsung keluar bioskop dengan umpatan jijik melihat banci, kayaknya nih orang beli tiket tanpa baca sinopsis atau liat trailer kali yah, berasa salah masuk bioskop dan dibawa ke Taman Lawang. :))

Film ini menceritakan seorang anak kampung yang bernama Cahaya yang sudah 15 tahun tidak bertemu ayahnya. Cahaya melakukan pencarian terhadap ayahnya yang bernama Saiful yang diperankan oleh Donny Damara. Dalam pencariannya, Cahaya harus menghadapi kenyataan bapaknya bekerja sebagai banci dengan nama Ipuy, konflik antara anak dan bapak pun terjadi sepanjang film.

Film ini termasuk film yang low budget banget, lokasi syuting sekitar daerah Kuningan - Taman Lawang. Diceritakan hanya terjadi semalam suntuk saja, konflik antara bapak dan anak ini. Lucu, nyeleneh khas banci Jakarta, dan drama yang tidak murahan tersaji disini. Satu hal yang menjadi sorotan, akting Donny Damara sebagai banci yang cukup natural. Dandanan yang cukup merepresentasikan banci-banci di Jakarta, artikulasi suara yang natural, semuanya terasa go with the flow saja. Tidak heran bisa menyabet aktor terbaik Asia tahun ini.

Kalo soal cerita, konflik disini terlalu banyak, namun karena ceritanya hanya satu malam, tidak semuanya disorotin, dan terkesan terlalu cepat untuk diakhiri. Berbeda dengan review Modus Anomali yang Dee katakan film seharusnya pendek tetapi dipanjang-panjangin, Lovely Man ini malah seharusnya bisa lebih dari 75 menit. Tentu saja, akting-akting pemeran pendukung lainnya bisa lebih di-explore lagi. Dan anti klimaks 'jatuh tapai' untuk mengakhiri drama keluarga ini bisa dihindari, sehingga pesan akan dapat tersampaikan lebih baik lagi.

For me, dari segi cerita dan keseluruhan, I give 6.7/10, better than Modus Anomali. But, buat yang tidak suka drama, mendingan jangan nonton sih, Anda tidak akan disuguhi action apapun disini, pure drama!


Wednesday, May 9, 2012

La Biere, Guiness Time!

Friday night again, time to chill out with friends.. Free dinner at La Biere, French bar and restaurant located at Central Park Mall, West Jakarta. Big thanks to Puly! You are always be our hero for free entertain night but we must order Guiness products, not a big deal for us :)

La Biere



New Menu Book at La Biere

I was very hungry, we argue too long time, which place to have dinner first before our long night to hoping several bar which sell Guiness product in our area. So, I ordered Spicy Prawn Angel Hair Pasta Aglio Olio. The representation looks not too nice, I could see the angel hair bit overcook, so I couldn't get "al dente" angel hair, bit dissappointed about it.





Not just the angel hair pasta, the prawn looks too dry and I think not fresh, and the bread is too dry, they must put some butter, and I was very dissappointed for my pasta before I eat it. And, finally time to eat, I was very dissapointed! The prawn was not fresh at all, too dry, not juicy and in my opinion the prwan was on the freezer more than 3 days. The smell is not good, prawn meat already wrecked (not melted) after you bite it. And they chili symbol on the menu is not a joke, very spicy for Italian food, the cayenne pepper bit help the prawn's taste. And the angel hair was mushy! How come they serve food like this? 5/10 for the prawn angel hair and 6/10 for the carbonara.



I was try Puly's food, beef carbonara pasta, and very cheesy, fatty and not look like Italian food. The taste also not good, again I was very dissapointed. This is not the first time I come to La Biere, but I never order pasta before, so this is my first time to order pasta, and I suggest you all to don't order their pasta. I ordered their pizza before, I was like it, thin, crunchy, full topping and taste good, i give 7/10.

Guiness for drink

Next we was order drum stick for snack, the drum stick looks nice, and the taste was good, we was very like it, 7.5/10.




And finally, the fajitas which ordered by Wita. I never order the fajitas before but the fajitas smell good. It server with avocado and tomato sauce, very fresh. The fajita serves with beef, paprika, onion, carrot, and scallion on the hot plate. Wita also get three crepes to wrap it. I tried the meat on the hot plate, and the taste same with the smell, it was really good, I give 7.8/10! For fajitas, my favorite still in Chili's restaurant.




After my dissappointed opinion, I think La Biere still my favorite place to hangout in friday night. We can't blame them caused La Biere is not Italian Restaurant, but as France they must have high standard for their food but La Biere is a bar. And of course, rarely to get good food in bar, do you agree? :)

After La Biere, we went to Pivo for next Guiness visit mission, this place is really disguisting, you must put Pivo on your blacklist place. Small place, smelly, and the bartender was horrible, can't serve good drink. And their price not cheap at all, same as La Biere, so I prefer hangout at La Biere with good ambience, good service and not smell bad at all.

Puly, we are waiting your next invitation for next bar :)

Dee for Guiness Time!

And in the end, we must take a photo on Guiness booth, and join the Guiness Time competition to get an ipad 2. I will share the link, please vote for me! Thanks all!