Thursday, May 5, 2011

Suku Duano - "Menongkah" Surfing Lumpur

Concong merupakan kampung halaman tercinta, dengan berbagai sumber daya yang berlimpah namun teknologi yang terbatas. Hidup dekat dengan alam, bersahabat dengan alam dan tidak merusak alam. Tak ada kendaraan bermotor yang merusak segarnya udara, hutan hijau, langit biru dan angin laut menjadi santapan setiap hari.

Desa Concong Luar, mungkin sebagian orang belum pernah mendengarnya. Tak akan terlihat di peta sama sekali, satu desa di kecamatan Concong Kabutapen Indragiri Hilir, Riau. Sebagai gambaran, dari Jakarta ada 3rute untuk mencapai daerah Concong Luar.
- Opsi Pertama via Pekanbaru, Jakarta-Pekanbaru by plane, dari Pekanbaru dilanjutkan dengan perjalanan darat kurang lebih 7jam menuju ke Tembilahan. Dari Tembilahan naik Speed Boat dari pelabuhan di dekat Masjid Al huda setiap jam 1 siang dengan waktu tempuh 1.5-2jam.

- Opsi Kedua via Batam, Jakarta-Batam by plane, dari Batam dilanjutkan dengan naik Speed Boat sekitar 5-6jam langsung ke Concong di hari-hari tertentu saja. Seminggu ada 4 boat yang langsung ke Concong. (Rute ini baru dibuka di tahun 2011). Sebelumnya yah harus naik ferry ke Tembilahan dan dilanjutkan dengan naik boat.

- Opsi Ketiga via Jambi, Jakarta-Jambi by plane, dari Jambi perjalanan darat ke Tembilahan 6jam kemudian dilanjutkan dengan naik boat di pelabuhan dekat Al-huda. Katakan saja mau ke Concong.

Sekian perkenalan tentang Concong, next perkenalan tentang suku Duano dan tradisi "menongkah" aka surfing lumpur.


Papan luncur atau “Tongkah” merayap di atas lumpur yang menyembul ketika laut surut. Saat itu pula, Imi (9) sang anak Duano, memiliki harapan bisa panen kerang dari ceruk dan lubang di lumpur itu.

IMI dan enam ribu jiwa warga Suku Duano (data terakhir Dinsos Inhil, red) lainnya yang termasuk dalam kategori Komunitas Adat Terpencil (KAT) senantiasa bergelut dengan laut, bibir sungai, lumpur dan beting, meski yang mereka lewati ini sebenarnya lebih berbau tradisional. Aroma berbeda ini semakin mencolok ketika harus dibandingkan dengan pola hidup masyarakat umum yang jauh dari amisnya bau lumpur.

Memang, di beberapa bagian masyarakat Duano, perkembangan mampu mengubah beberapa sendi kehidupan mereka. Namun secara umum, mereka tetap melakoni apa yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak ratusan tahun lalu hingga kini.

Apa yang dilakukan Imi di permukaan lumpur, pantai Desa Concong Luar, Kecamatan Concong, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau, adalah aktivitas rutin. Gerakannya meliuk-liuk mirip sekali dengan pemain ski di hamparan salju.

Dengan lutut menempel pada punggung tongkah, tangan bocah ini terlihat begitu cekatan bergerak. Setiap lubang dan cekungan di pantai yang diyakininya sebagai lubang kerang, moluska yang tinggi gizi dan bernilai ekonomi, diobok-oboknya.

Tradisi inilah yang kemudian berkembang dan dikemas menjadi even budaya “Menongkah” yang rutin digelar Pemerintah Kabupaten Inhil dan sudah dikenal secara luas.

Ya, menongkah kerang rutin dilakukan Imi bersama dengan puluhan warga lain ketika air laut sedang surut. Biasanya pada musim pasang dalam dan pantai tidak dapat ditongkah, merupakan masa dimana kerang berkembang biak, hingga nanti setelah surut kembali fauna pantai itu pun menyembul.

Hasil menongkah kerang di pantai, selanjutnya dikumpulkan pada sebuah perahu kecil dan kemudian dibersihkan. Setelah itu dijual kepada penampung. Uangnya dipergunakan untuk membeli beras, dan jika berlebih ditabung sedikit untuk keperluan hidup lain. Ada juga di antara Suku Duano yang menjual sendiri hasil tangkapannya di Tembilahan, ibu kota Kabupaten Inhil, dengan cara memajangnya. Biasanya ini bisa ditemukan di Parit Sebelas, Tembilahan.

Ada juga kalangan Duano yang menjaring ikan dan memancing serta memasang bubu. Semua dilakukan secara sederhana. Tetapi untuk kalangan Duano yang bermukim di Desa Kuala Patah Parang, Kecamatan Reteh, kebanyakan telah mempergunakan perahu bermesin dan tingkat kehidupanya cukup baik.

Satu kemajuan yang sudah terlihat nyata sekarang pada Suku Duano adalah kebiasaan menetap di daratan. Berbeda ketika pada 1980-an lalu dimana suku tersebut lebih merasa nyaman hidup di atas perahu. Kini Imi, bersama dengan orangtuanya sudah tinggal di gubuk hasil bantuan dari Pemerintah Provinsi Riau dan Pemerintah Kabupaten Inhil.

Secara keseluruhan, Suku Duano yang terdapat di Kabupaten Inhil menyebar di beberapa kecamatan di pesisir seperti Tanah Merah, Reteh, Mandah, Kateman, Concong dan Kuindra. Tingkat pendidikannya rata-rata masih sekolah dasar, dan dari data sementara baru terdapat sekitar 10 orang yang mampu menyelesaikan pendidikan hingga ke jenjang S1.

Terdapat satu orang yang telah menyelesaikan pendidikan S2, yakni Hasmawi, Sag. MM. dan saat ini menjadi PNS di lingkungan Pemkab Inhil. Tokoh-tokoh masyarakat Duano seperti Hasanuddin, Hasmawi, Ir. Sarpan Firmansyah sangat berharap perhatian yang serius dari Pemkab Inhil agar kehidupan suku tersebut dapat ditingkatkan.

”Lautan merupakan sumber penghidupan kami, tetapi sedihnya kemampuan ekonomi warga Duano saat ini sangat terbatas dan tingkat pendidikan masih rendah. Semuanya masih bersandar pada pola tradisional,” terang Hasanuddin, yang juga pengurus Keluarga Besar Duano Riau Cabang Inhil ini.

Di lain pihak, Pemerintah Kabupaten Inhil melalui Dinas Sosial tiap tahunnya tetap menyiapkan program yang sifatnya pemberdayaan. Bantuan tongkah dari bahan fiber yang kokoh dan kuat sudah diberikan. Demikian juga dengan alat tangkap nelayan seperti motor pompong telah dialokasikan.

Itu semua, menurut Kadis Sosial Drs. Mohd Zaini, MPd. sebagai upaya untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Suku Duano. ”Selain itu kita juga berupaya membantu warga Duano yang putus sekolah dengan program pembinaan agar memiliki keahlian hingga dapat dipergunakan untuk mencari nafkah dan meningkatkan taraf hidupnya,” tegas Zaini.

Kini, tongkah fiber sudah di tangan masyarakat Suku Duano, dan dari alat yang meluncur di lumpur itulah diharapkan akan menghasilkan butiran-butiran beras agar mereka bisa bertahan hidup.

Sumber : www.riaupos.com, pengalaman hidup tinggal bersama mereka :)

No comments: