Showing posts with label dee. Show all posts
Showing posts with label dee. Show all posts

Sunday, March 24, 2013

Dee, Pulang Kampung 2013

Ini adalah kisah seorang anak perantauan pulang ke peradabannya

Hp, Passport dan Powerbank adalah hal paling utama

Di Bandara SSQ-II memulai perjalanan panjang pulang kampung

Di setiap perhentian, menunggu perhentian selanjutnya

perhentian yang memberi harapan masih ada orang yang menuggu di sana
Terkadang, nasihat tak pernah kita hiraukan

Menyusuri jalan setapak demi mencapai tujuan

Lebatnya hutan tak membuat keinginan ini tertahan

Hingga tercapai laut yang memberi harapan

Hamparan laut yang memberi ketenangan

Kesederhanaan yang memberi harapan

Ku berlari kau terdiam

Aku pergi, kau menghilang

Kadang aku merasa penuh

Di sisi lain ku merasa hampa




Aku berlari menerjang arus

Melawan ombak yang menjadi aral
Ku ingin pergi, terbang menjauh

Terbang menggapai cita-citaku

Dee, Chinese New Year Eve 2013 Dinner

Shabu - Shabu
Big bowl of Meat Balls

Spring-roll

  
Sea cucumber, leeks, spleen fish, carrot, dan chicken


Shark fin soup
 
Brocolli, leeks, and chicken

Traditional fried chicken (red onieon & onion spice)

Pig flank, sea cucumber, shitake mushroom, onien with oyster sauce

home made sweet sour sauce for spring roll & chili sauce

vinegar and soy sauce with chili padi
Ready to CNY dinner
Start the party with Red Wine


All foods are cooked by my mom's. Chinese new year always remembering me that I still have a family who always wait for me at home. HOME SWEET HOME. Since I was young until now, we always have CNY dinner at home. Time to remember what had we donealong the year.

Sunday, October 14, 2012

Dee, Doha

10 Oktober 2012, akhirnya kabar itu datang juga, setelah visa diberesin, jadwal keberangkatan ke Doha diurus. Perut mulai mules-mules, soalnya bakalan ke Doha sendirian. Setelah berkali kali gagal ke Doha, akhirnya hari itu akan datang juga. Nervous tingkat parah.

11 Oktober 2012, kepala pusing, susah tidur, perut mules, ga fokus, besok malam akan terbang sendirian. Mules!

12 Oktober 2012, hari ini datang juga. Banyak yang bilang aku agak aneh hari ini, tentu saja, nervous ntar malam akan pergi sendirian. Akhirnya tukar dollar, pake uang sendiri. SPPD belum turun coba! kesal!

08:10 PM, taxi datang lebih cepat dari waktunya, yaudah sih langsung ke bandara biar lebih cepat.. udah jalan mau keluar tanjung duren, syal ketinggalan, bisa kedinginan di pesawat, akhirnya balik lagi. Then saatnya berangkat ke bandara. Alhamdulillah walaupun jalanan tersendat, nyampe di bandara pukul 9 PM.

Ternyata counter check-in di Qatar Airways udah panjang banget, antri deeeh.. Sambil ngelihat kelakuan penumpang yang aneh-aneh, deg-deg an lagi, apakah kali ini berhasil untuk check-in, siapa tahu gagal lagi :))

Alhamdulillah kali ini tidak ada hambatan, cuma mbak-nya merasa aneh gitu, tujuan akhir Doha, ga salah? kan yang lain pada transit :))

Boarding pass CGK-DOH

Luggage Claim

Passport Stamp

Perjalanan kali ini 100% disponsorin oleh perusahaan tempat bekerja, jadi pas masuk mau boarding lihat logo perusahaan dimana-mana, rasanya gimana gitu :))

QNB Kesawan @Terminal 2, Soekarno Hatta International Airport

Terbang bersama Qatar Airways, pilotnya cewe loh! Ga nyangka Qatar ga sekonservatif seperti yang dibayangkan! Tapi pramugari-nya agak ga ramah dan kurang helpful yah.. Ga kayak Singapore airlines atau Cathay Pacific yang lebay abis :))

Qatar Airways

Terbangun di tengah malah (5 PM Jakarta time), perjalanan masih 3 jam lebih untuk nyampai di Doha
Flight to Doha

From Jakarta (CGK) to Doha (Doh)

Sekitar pukul 4-an waktu setempat, akhirnya nyampai di Doha, lebih cepat dari jadwal seharusnya. Setelah ambil bagasi, segera mencari Oryx Rotana hotel untuk naik shuttle bus gratis. Finally.. Aku nyampe Doha..

Live tweet kalo dapat wifi yah! Cerita lainnya tunggu kalo sempat!

Sunday, June 3, 2012

Dee, I am Indonesian

I am Dee and I am Indonesian.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, saya mengalami krisis identitas kewarganegaraan untuk beberapa kenalan baru misalnya kolega baru di kantor ataupun kenalan baru pada saat travelling. Kenapa saya sebut sebagai krisis kewarganegaraan? Yah, mostly mereka tidak percaya kalo saya orang Indonesia asli, oke saya persempit jadi orang Indonesia keturunan Tionghoa. Bahkan ada yang tidak tahu bahwa di Indonesia terdapat etnis Tionghoa! Aaaah.. Itu saatnya saya mempromosikan Indonesia dengan keberagaman sukunya.

Diskriminasi pertama yang paling saya sering terima adalah ketika di taxi. Supir taxi selalu menganggap saya sebagai warga negara tujuan saya akan terbang, misalnya saya mengatakan akan terbang ke Kuala Lumpur akan ditebak sebagai Malaysian, kalau saya bilang mau ke Singapore selalu dianggap sebagai Singaporean, bila akan terbang ke Bangkok saya juga akan berlagak sebagai orang Thailand. (Ini berlaku bila saya mencegat taxi di jalan, bukan dari booking-an). Dan karena sudah terbiasa, saya menjalani peran sebagai warga negara yang si supir taxi tebak, hitung-hitung menyenangkan hati mereka.

Diskriminasi tidak diakui sebagai warga negara Indonesia selanjutnya terjadi dan sering dilakukan oleh pramugari/pramugara. Pernah saya minta kartu entrance yang perlu kita isi kepada pramugari, dia tidak mau memberikan kepada saya, dia tidak percaya saya Indonesia sampai saya memperlihatkan paspor saya. Sedangkan salah satu pramugara dari Hongkong malah mempertanyakan apa yang saya cari untuk terbang ke Indonesia jauh-jauh dari Hongkong? Wooah, saya disangka Hongkong? Wajah Cantonese saya darimana coba? Fiiiiiuuuh..

Pengalaman disangka warga negara asing tidak sampai disitu, bulan April 2012, saya melakukan perjalanan di Yogyakarta. Yang ini benar-benar random abis! Kesal sekaligus bingung, supir mobil yang saya booking mengira saya orang Thailand karena sedang membicarakan rencana trip ke Bangkok bersama teman saya. Penjaga karcis di Prambanan tidak percaya saya orang Indonesia, dia meminta menunjukkan ID sebagai bukti saya bukan Singaporean?! Random berikutnya saya dituduh Taiwanese oleh penjaga tiket di Borobudur hingga harus menunjukkan ID dan dituduh Malaysian oleh guide di Borobudur. Diskriminasi tidak sampai disitu saja, saya kembali dituduh Japanese oleh resepsionis hotel tempat kami menginap, dan dituduh sebagai Korean oleh guide di Alun-Alun Utara! Tidak cukup sampai disitu, saya kembali dituduh Hongkong oleh tukang becak di Taman Sari! Ah begitu random-nya kah wajah saya??! I am truly Asia!

Penolakan sebagai warga negara Indonesia juga sering terjadi bila ada kunjungan client di kantor. Pernah saya dituduh sebagai Korean gegara sering pakai scarf di kantor, padahal gegara kantor dingin banget! Pernah dituduh sebagai Singaporean karena Singlish yang lancar! (lol). Terutama kolega Singaporean yang selalu confirm kalo saya Singaporean, yeah I said confirmed NOT lar! (still with Singlish).

And ketika di Rumah Sakit Siloam tahun 2008, saya dituduh sebagai Japanese oleh dokter yang merawat saya! Ciiih... Diskriminatif sekali, saya selalu dapat makanan khusus dan perlakuan khusus dari dokternya! Maksih yah pak.. ermm.. Saya udah lupa sih, ngak mau lagi urusan ama dokter, tidak mau kenal-kenal lagi. bweeek :p

Krisis identitas paling sering saya terima bila saya di Singapore atau Malaysia! Saya selalu dituduh penduduk lokal oleh para turis! Alhasil saya selalu ditanyain jalan oleh para turis padahal saya tidak tahu jalan juga. Sorry Madam/Sir, I don't know, I am a tourist like you! :))

Nah cerita terakhir ketika saya ke Singapore Mei 2012, dari beberapa orang yang di sekitar saya, saya selalu 'terpilih' oleh turis yang bingung dan tidak tahu jalan. Pertama bapak dari Pakistan yang buta arah jalan dan tidak tahu cara membeli tiket one-way MRT, saya bantuin deh, dan setelah berbicara basa-basi dia tidak percaya di Indonesia ada keturunan Chinese, dan dia tidak percaya ada Indoenesia-Chinese yang kulitnya kuning kecoklatan seperti saya! Aaaah bapak kurang pergaulan saja, kelamaan di Thailand sih :p

Pengalaman kedua ketika saya sedang di Bugis, jalan sendirian, seorang bule menghampiri saya, menanyakan arah jalan! *bapak saya bukan Singaporean, tapi saya bantu sebisa saya yah! Semoga yang saya kasih tahu kemaren tidak membuat bapak jadi nyasar! Turis Australia tersebut menganggap saya Singaporean juga! Jiaaaaaah... Baiklah, saya tunjukkan kemampuan Singlish saya, biarin dah! Hahaha

Pengalaman ketiga, ketika saya sedang asik melahap 1 dollar ice cream, tiba-tiba seorang perempuan Singaporean menghampiri saya, meminta saya mengisi form survey untuk Singaporean. Woooah! Saya dikira Singaporean oleh Singaporean! Emezing! Sorry miss, I am not Singaporean! I am tourist from Indonesia.

Pengalaman keempat, di MRT menuju ke Orchard, sedang menunggu MRT di Bugis, ada pasangan bule, dari banyaknya Singaporean di sekitar saya, eh malah nanya jalan kepada saya! Aiyooooh! I am not Singaporean lar.. But I think I can help, cause we are on the same way to Orchard! Hehehe.. Pasangan Canada-South Africa yang saya tebak sebagai pasangan baru nemu di jalan itu,  dimana si bule perempuan saya tebak berumur dipenghujung 40-an menuju 50 sedangkan sang negro berumur yah kira-kira 20-an menuju 30 dengan rambut gimbalnya yang *maaf* baunya ajubile! Hahaha... Mereka menanyakan kepada saya bagaimana 'kabur' dari Singapore untuk mendapatkan stay permit at least one month again, setelah pembicaraan panjang saya ajarin untuk ke Johor yang transfer dari Woodlands dengan biaya yang murah meriah! Semoga berhasil yah!

Dan pengalaman kelima di Singapore kemaren ketika naik MRT ke lakeside point, seorang PRC menanyakan saya arah MRT, karena saya terlihat sebagai Singaporean. Yishun, transfer dimana (pake mandarin), saya terdiam sejenak, ermm... Yah yah keluar aja dari City Hall sambil tunjuk-tunjuk, transfer disitu (sambil bolak balik map), semoga cici ngak nyasar yah, saya bukan Singaporean dan cara bertanya yang baik tidak seperti itu, tetapi jawaban saya kemaren bener kok! Kalo nyasar salah sendiri!

Ada yang punya pengalaman lebih parah dari saya? Sejauh ini masih okelah dianggap sebagai warga negara asing masih dari negara-negara Asia, terutama dari tetangga. Singapore, Malaysia adalah yang paling sering, yah mungkin akibat Singlish, Teochew, Malaylish atau Melayu saya yang lancar bila di negara tersebut. Hongkong, Korean, Japanese, Thailand, Taiwanese juga sering didapatkan. Yang saya bingung tidak ada yang pernah menebak saya sebagai orang China! Tetapi emang berbeda sih yah, walaupun saya sipit, mereka lebih sipit lagi sih :)) Sebenarnya yang paling saya inginkan gitu ditebak sebagai bule gitu, kan kerenan dikit dianggap sebagai Caucassian gitu (ngimpi kali mana ada Caucassian kulit berwarna dan pendek kayak elu), dianggap African kayaknya kan juga keren tuh, kalo tidak Indian gitu dengan kulit begini kan sebagai suatu keajaiban! Atau mata itu orang udah katarak atau buta. Hahaha..

Tetapi sebagai seorang Indonesian sejati, aku mau dianggap sebagai orang PAPUA! Itu cita-cita saya, kalo kamu?


Whatever you say about me, I am still Indonesian

Saturday, April 14, 2012

Dee with Partikel



13 April 2012, Friday 13th, tepat pukul 4:44 PM, peluncuran novel terbaru Dewi 'Dee' Lestari resmi diluncurkan. Partikel, potongan terkecil dari suatu zat akhirnya terlahir juga! Setelah penantian 8 tahun, hari ini datang juga! Sekumpulan 'alien' berbondong-bondong ke toko buku untuk mendapatkan cetakan perdana! Lucky me, Dee bisa pesan via online di bukukita.com + discount 15%, Dan menerima buku-nya sebelum Partikel dijual di toko buku, jadi bisa curi start duluan.

Buku bercover hitam dengan font berwarna hijau ini sangat menarik perhatian. Sesak menyeruak di dada kala ingin merobek plastiknya. Book orgasm. Halaman pertama, Brad Pitt?! What?! Tapi tunggu dulu, kejutannya belum dimulai! Hahaha..

Perlahan tokoh Zarah mulai diceritakan dan dideskripsikan dengan detail. Zarah yang mendapat special treatment sedari kecil, yang membawanya ke hobby fotografi. Dari hobby-nya menjadi sumber penghasilan, membawanya ke pedalaman negeri ini dan melihat indahnya dunia ini. Hidup adalah petualangan! Bagaimana Zarah mencari seorang Pencari, dan Hara menjadi seorang Penjaga..

Deskripsi ayah Zarah, Firaz, yang seorang dosen mikologi yang berlaku 'aneh'. Ketajaman science dan penelitian mendalam teruji disini. Studi literatur hampir 8 tahun membuat Partikel benar-benar telah matang. Terlebih tentang dunia fungi. Berbagai teori kontroversi terpapar disini, terutama mengenai konsep Ketuhanan dan Asal Mula Manusia. Yup, untuk membaca dan mendalami buku ini, alangkah lebih baik Anda meninggalkan atribut keagamaan Anda, untuk menyelaminya. Open-minded sangat diperlukan disini.

Petualangan Zarah dari sebuah kampung di Bogor dan akhirnya bisa keliling dunia dari hobby-nya sebagai seorang fotografer sangat inspiratif. Berbagai keputusan hidup kontroversial, pembangkangan, keteguhan hati, persistensi, ego, pengkhianatan, kesetiakawanan, cinta dan lainnya tersaji dengan menarik tanpa romansa murahan.

Pengamatan terhadap cara hidup binatang juga tak lepas dari mata ibu suri. Ibu suri meracik ramuan ini selama 8 tahun. Racikannya terasa pas dan tidak berlebih, sesuatu yang kita sebut SEMPURNA. Gejolak emosi tak terhindar, kata demi kata mengguncang rima hati ini. Scene paling bikin mewek buat Dee adalah ketika Zarah mendapatkan 'gift' saat berada di pusat rehabilitasi orang utan di Kalimantan

Tidak hanya sampai disitu, Partikel menceritakan secara gamblang mengenai Alien, Crop Circle, Iboga, kehidupan di Afrika dan tidak lupa membawa petualangan ke London. Perjalanan alam bawah sadar juga tidak lupa dibahas disini. Bersahabat dengan alam adalah hal utama yang perlu disadari. Hubungan cinta dengan mahluk hidup, kesabaran fotografer, pengkhianatan teman, kemunculan alien, fenomena crop circle yang membingungkan disajikan dengan apik.

Namun setiap ada kesenangan tentu selalu diikuti dengan kesedihan. Penantian 8 tahun ini, berakhir dengan 5 jam saja melahap 500 halaman Partikel. Haruskan Dee menunggu lagi? Berapa lama lagi harus menunggu untuk kelanjutan Supernova? Hanya Ibu suri yang bisa menjawabnya. Sebagai reader, semoga kita terus bisa bersabar! Buat para @addeection yang belum memiliki buku ini, jangan sampai terlewatkan. Pasti menambah ketidaksabaran menunggu seri berikutnya. Buat ibu suri, Dee cuma bisa sembah sujud bisa meracik adonan seperti ini! Terasa pas dihati dan dipikiran. Can't wait the next book! Terima kasih telah menghadirkan buku ini!

With Love,
Dee

Thursday, February 2, 2012

Dee, Teman Datang dan Pergi, Teman Sejati Selalu di Hati


Mengutip Quote dari film Arisan!2 yang ditonton beberapa waktu yang lalu "Teman Datang dan Pergi, Teman Sejati Selalu di Hati". Yah, renungan lah yang terjadi, memori-memori seperti berjalan lagi di otak ini, terlihat begitu jelas apa yang selama ini telah terjadi. Siapa teman, siapa lawan, siapa yang memanfaatkan, siapa yang selalu bersama. Teman datang dan pergi.. Tak perlu ada clausul "Gw temen lo, lo temen gw bukan?", seharusnya sebagai seorang teman tak perlu menanyakan atau minta macam-macam dari teman, teman mengerti Anda dan akan selalu ada bila saatnya dia harus muncul.

Tahun 2011, mungkin menjadi tahun pengujian pertama bagi Dee, tidak ada lagi dunia perkuliahan, memasuki dunia pekerjaan yang cukup membuat pusing kepala, stress tidak terhindarkan lagi. Teman-teman kuliah udah jarang ketemu lagi, teman-teman SMA apalagi, tapi beruntunglah banyak teman-teman baru di tahun 2011 ini. Sebagai pribadi yang tidak pernah memilih teman, dan menuntut macam-macam dengan teman, ga perlu menyatakan "gw temen lo lho!", atau apalah clausul yang menyatakan diri sebagai teman. Asal asik ngobrol, nyambung dan bisa ngumpul-ngumpul akan dianggap sebagai teman, siapapun itu. Beberapa teman banyak yang menilai kalo Dee itu terkadang terlalu memberi perhatian lebih pada teman, bagi Dee selama Dee tidak merasa dirugikan dan tidak merugikan siapapun, Dee akan bantu siapapun itu, teman atau bukan, sebisa mungkin. Yah rugi-rugi dikit gapapa lah, kesempatan bisa membantu orang itu langka loh, priceless, jadi selama masih bisa membantu yah lakukan saja.

Sebagai solo traveler, Dee berusaha menempatkan diri sebagai host, treat them as you want to threat, jangan terlalu banyak perhitungan dengan teman tapi jangan juga terlalu loyal, sangat mudah dimanfaatin orang. Yah setidaknya mereka akan menghargai apa yang telah kita lakukan, beberapa teman kadang merasa berhutang budi dengan hospitality yang biasa Dee lakukan, tapi Dee ga pernah menuntut macam-macam kok :)

Dee punya teman yang sering hangout bareng, sering makan bareng, sering shopping bareng ataupun travelling bareng, yah Ondy namanya. Pertemanan mulai dijalin sejak SMA, yah sekarang sudah sekitar 8 tahunan, sampai sekarang sih belum pernah bertengkar hebat, kalo lagi kesel paling diem-dieman aja selama beberapa hari, terus kalo lagi redaan yah sapa menyapa lagi seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Selama SMA kita tidak pernah sekelas, untunglah ga pernah sekelas, kalo sekelas mungkin persaingan akan semakin sengit :p Maklum sama-sama juara kelas bahaya kan kalo sekelas! Hahaha.. Jadi yah Dee ranking 1 di kelas Dee, dan Ondy juara kelas di kelas-nya. Tapi untuk juara umum tetap dong bersaing, setidaknya Dee lebih unggul untuk satu ini! Hahaha..

Kuliah pun di universitas yang sama dengan jurusan yang berbeda, jadi sampai sekarang belum pernah sekelas dengan Ondy! Kos-kosan yang dekat-dekatan dan tinggal jauh dari orang tua, walalupun jarang bertemu setidaknya kita kadang-kadang masih ketemuan sesekali buat dinner bareng ataupun nonton. Setelah Ondy berhasil menurunkan berat badan, size baju pun jadi sama. Jadinya yaaaah pinjem-pinjeman! Ondy juga jadi hobby shopping sehingga bisa titip-titipan, size sepatu juga sama, jadinya bisa pinjam-pinjaman. Kalo lagi butuh sepatu pantofel, jas yah biasanya si Ondy minjem ama Dee. Yang penting pas balikinnya udah di cuci atau di laundry! Dan untuk urusan kartu kredit, bisa pinjam-pinjaman, yang penting nyadar aja abis dipake dibayar. Jangan ga tau diri! Hahaa..

Sejak ada web yang menjual voucher layaknya dealkeren atau disdus, yah sering titip-titipan beli, nanti uangnya di ganti atau gantian treat, pokoknya kita udah ga perhitungan lagi kalo soal duit. Travelling bareng merupakan hal yang biasa kita lakukan bersama, saking sering bareng-nya banyak yang bilang kalo kita sodaraan. Padahal ga ada mirip-miripnya, hihihi.. Kita berdua punya hobby yang 'unik' dan agak gila, tapi karena punya jiwa humor yang mirip, kita bisa saling menertawakan tanpa harus saling melecehkan. Sikap toleransi yang tinggi emang perlu dimiliki.

Dee punya cerita agak lucu bareng Ondy, kalo lagi mau jalan bareng sekarang kita biasanya janjian dulu, kalo ngak yaaaah yang terjadi adalah kita bakalan pakai baju dengan warna yang sama atau setidaknya mirip. Kejadian ini berulang berkali-kali, sampai tiap mau jalan harus ingetin dulu "aku hari ini pake baju warna ini!". Nah, ketika di Singapore sebelum packing kita udah janjian untuk bawa baju dengan warna yang berbeda agar ga sama lagi, semuanya sudah diatur sedemikian rupa. Dan dihari kedua, ketika akan mengunjungi Universal Studio, udah ditentukan si Ond pake baju merah dan Dee akan pake baju warna biru. Tapi dasar otaknya mirip-mirip, tahu apa yang terjadi??? Kita memakai short pant dengan warna yang sama, warna HIJAU! Hahaha....
Short pant HIJAU



Dee juga punya teman yang sebenarnya udah jarang ketemuan, kadang-kadang saja kita BBM-an, soalnya Dee di Jakarta dan dia di Batam. Teman sekampung, saling ledek-ledekan, mungkin udah kayak sodaraan sih, soalnya sesama keluarga juga berteman, sering nginep bareng rumah dia. Kalo lagi di Batam, rupiah saya tidak berlaku, semuanya di treat hahaha.. Yah sadar diri juga lah, gantian yang ngetreat juga, pokoknya kita juga ga gitu perhitungan kalo soal duit. Walaupun dia udah punya pacar, tapi yaah udah saling ngertiin lah, kadang mereka udah ga malu-malu lagi bertengkar kalo ada Dee :))

Party dikampung, nostalgia
 
Sekian lah share tentang 2 teman Dee, selebihnya kapan-kapan lagi yah, kalo sama teman jangan terlalu perhitungan dan jangan terlalu menuntut. Jalanin aja, ga perlu neko-neko, ga perlu mikirin "kalo dia temen gw harus gini, kalo gw temen dia harus gini", kalo benar-benar temen ga akan nuntut macam-macam kok. Jalin hubungan antar teman dengan baik hidup akan terasa lebih indah. Jangna saling memusuhi atau curigation yaah! Love you friends..

Saturday, December 17, 2011

Dee, full time traveler

Singapore, Sejak memutuskan diri untuk menjadi traveler *ciyailah* di tahun 2006 karena sudah dibolehin untuk bepergian sendiri tanpa keluarga ataupun saudara, semangat untuk menjadi single traveler itu semakin mengebu-gebu. Sejak umur 14tahun sudah tidak tinggal bareng mami papi lagi.. Yah demi mendapatkan pendidikan yang lebih baik semasa SMA, Dee pun merantau ke ibukota kabupaten demi mendapatkan sekolah favorit yang menjadi sekolah unggulan. Yah si anak kampung masuk ke kota, jauh dari orang tua, tapi masih ditemenin cici saya tercinta yang sangat berarti bagi hidup saya. I love You :* hugs... Cici-cici saya adalah orang yang paling berarti buat hidup saya selama kuliah, terutama cici kedua saya, kenapa? karena dia tidak pernah lupa mengirimkan uang bulanan kepada saya, tanpa dia mungkin saya udah jadi gembel di Jakarta selama kuliah mengingat mami papi pasti ga sempet  buat ngirimin duit *atau malah lupa anaknya ada di Jakarta? pastinya sih ngak yah

Lanjut deh soal pertama kali travelling, di umur 14 tidak tinggal bareng mami papi membuat saya yang dulunya manja minta ampun karena anak bungsu cowo satu-satunya menjadi lebih mandiri. Bangun pagi walaupun awalnya masih dibangunin cici, akhirnya Dee bisa mandi sendiri ga dimandiin ama cici lagi*maksud lho?! buahaha... Mengurus diri sendiri tanpa pembantu diumur 14 membentuk pribadi saya yang boleh dikatakan dewasa sebelum waktunya. di umur 15tahun, travelling pertama saya bersama teman, walaupun ga masih di satu provinsi, tapi excited banget, yah ini travelling tanpa cici, tanpa mami papi! Wooohooo! Akhirnya bisa pergi bareng teman-teman ke Pekanbaru! (FYI: menempuh perjalanan 7jam dari Tembilahan ke Pekanbaru bukanlah suatu hal yang biasa saja kan tanpa pengawasan ortu).

Diumur 16tahun, trip pertama saya ke Jakarta! Yah bareng teman SMA, kita bertiga nekat ke Jakarta, sekalian liat-liat universitas yang akan kita masukin nantinya. *kasianilah SMA kami yang ga melek informasi tentang universitas hingga saya menjadi sekarang ini*. Tahun 2006, Dee kuliah di Jakarta, jauh dari orang tua, tidak ada lagi cici yang ngawasin, cuma dianterin bokap sampai bandari Sultan Syarif Qasyim, ditemanin seorang yang antah berantah saudara dari mana, kita berdua naik pesawat Garuda Business Class! Wooow! Yah di umur 16tahun belum genap 17tahun, sekitar 1bulanan lagi baru 17tahun, Dee naik Business Class sendiri! Woooohooooo! *ada sih yg nemenin tapi Dee ga kenal, makasih yaaa!

Setiap liburan semester Dee pulang setidaknya ditemanin oleh satu teman, baik itu ke Batam, Jambi atau Pekanbaru sampai tahun 2007. Tahun 2007 akhir, inilah perubahan terbesar dalam hidup Dee, yah terbang sendiri ke Batam! *walaupun di Batamnya masih dijemput*, sendirian, pagi-pagi ke Bandara, check-in sendiri, nunggu sendiri di lounge *terima kasih papi selalu ngasih platinumnya ke saya, boleh dong sekarang dikasih lagi.. Sejak umur 12tahun Dee udah terbiasa ngurusin keuangan toko dan dipercayai keluar masuk uang, jadi kita sekeluarga selalu dipercaya untuk megang uang.

Yah setelah itu menjadi single traveller bukanlah hal yang baru bagi Dee. Booking pesawat, booking travel agent, makan sendiri, nunggu sendiri merupakan hal yang lumrah dilakukan dimana-mana. I am SINGLE traveler! Mulailah tour keliling Jawa Barat dilakukan sendiri, Singapore, Malaysia... Yah dulu belum punya kamera, modal kamera hape doang! Dulu kamera masih mahal, jadi uang jajan habis buat beli tiket, ga bisa buat beli kamera! hahahaa... Barulah taon 2009, Uang angpao sincia sekitar 3jutaan, Dee beliin kamera! *eh jadi dari 2009 sampai 2011 uang angpao itu menurun yaaah? LOL

Yah seluruh jawa mulai dijelajain dari ujung ke ujung, Sumatera mulai ditaklukan dan menginjakkan kaki ke Kalimantan.. Sendiri ataupun dengan komunitas travelling, mau gaya backpackeran atau ala tourist pun dijabanin. Dee ga pernah peduli gimana gaya travelling, yang penting itu jalan-jalan dan uang Dee masih ada! Asia Tenggara mulai dijelajahin tak hanya Malaysia dan Singapore saja. Thailand, Vietnam, Kamboja, Laos mulai ditaklukkan,. *ciyailah gaya-nya selangit* Hongkong, Macau, China,.. yah masih sedikit sih negara yang dikunjungin, tahun 2010 merupakan puncak travelling dimana kuliah cuma tinggal skripsi doang( DOANG?! skripsi lu itu dah bikin elo sengsara gitu), jadilah banyak waktu 'long weekend buat jalan-jalan dengan support uang yang lumayan dua arah, modal online shop dan uang bulanan ortu yang tiba-tiba dinaekin sekitar 30%! Makasih lagi cici tercintah! 

Dee belom mampu untuk ke US, UK, Europe, Korea, Japan, Aussie.. Iya apalagi kalo bukan soal visa yang ga jelas di approve atau ngak-nya, dan ga mau ambil resiko tiket hangus gara-gara VISA ga diapprove! Jadinya cuma disitu-situ doang, tapi selalu ada hal yang baru. Baik itu cuma haha hihi bareng temen, ke tempat terpencil untuk berinteraksi dengan masyarakat lokal, ataupun cuma sekedar mendapat fresh air akibat Jakarta yang sumpek ini! *betah ga betah tetap tinggal di Jakarta yah.. but someday Dee akan keluar dari Jakarta, hope soo! (Teman-teman jangan sedih yaaah,,, masih ada facebook kok! :* kecup basah!)

Yah suatu hari, Dee, harus menginjakkan kaki setidaknnya di seluruh pulau gede di Indonesia dan di seluruh benua. Dari ujung ke ujung, dunia ini terlalu indah untuk tidak dinikmatin! Biarlah orang menyinyirin travelling yang 'ala' gembel katanya, Dee ga peduli :) Setidaknya dari kecil pernah hidup di daerah yang lebih terpencil dibandingkan daerah yang dikunjungi. (Buat teman-teman yang kemaren bareng ke Pulau Pramuka, kampung Dee, Concong Luar, itu jauh lebih terpencil dibandingkan Pulau Pramuka). Selama travelling masih makan 3kali sehari, masih bisa ngemall juga kok, masih bisa shopping, masih bisa menikmati perjalanan, so nothing to lose for me :) 

Untuk jalan-jalan, Dee tidak menganjurkan untuk ambil tour dari negara asal kita. Emang sih katanya lebih ga ribet, tapi selama ini Dee ga pernah merasa ribet untuk booking dan mencari tour di kota tempat dikunjungi. Semua cuma masalah mindset aja kok, kalo udah sering terbiasa ga ada yang ribet. Just enjoy the process :) So, mau jadi backpacker/flashpacker/tourist yang penting happy aja. Ga usah peduli dengan pandangan orang lain, do what you want! Kalo mikirin apa kata orang lain, kapan mulainya? :p

Sampai sekarang kalo ditanya, kerjaan apa? Dee selalu jawab Full-time Traveler, Part-Time IT Officer. Yah, jalan-jalan ke kantor, itu juga suatu proses, nikmatin saja, kita masih bisa melihat kiri kanan apa yang terjadi di sekitar kita setiap hari. Pasti ada sesuatu yang baru, walaupun jalan yang kita lewati itu-itu saja, orang yang kita temui itu-itu saja, tapi mulai dari sinilah proses untuk perjalanan selanjutnya. Weekend cuma di Jakarta? Yah jalan-jalan aja di Jakarta, sudah berapa lama tinggal di Jakarta? Udah ke semua objek wisata? Masih banyak kan yang belum pernah masuk ke Monas? Kunjungin museum-museum di Jakarta? Ke TMII? Ragunan? Taman-taman Jakarta? Kalo belum yah masih bisa travelling kok walaupun masih di dalam kota :)

Past is experience, Now is Present, Tomorrow is Future.. My life is Travelling, Everyday, i get new experience.

Tuesday, July 5, 2011

Review Madre

4 Juli 2011, kejenuhan kerjaan kantor mulai menumpuk dengan semangat hampir redup akibat weekend yang terlalu cape. Yah.. Mengantuk lah yang terjadi dikantor. Ditengah kantuk yang mendera, tiba-tiba telpon berdering....
Dari orang yang saya tunggu-tunggu, kurir buku dari inibukudotcom! Akhirnya Madre-ku dianterin juga!
Buku yang telah ditunggu-tunggu, tak sabar untuk membacanya yang seharusnya telah ditangan dan telah dibaca, namun karena adanya kesalahan teknis dalam proses pengiriman, tanggal 4 Juli 2011 proses delivery dilakukan (seharusnya tanggal 1).

Jeng .. Jeng....
Konflik batin untuk segera membuka dan membaca Madre, tapi masih dikantor. Waktu pulang kantor pun ditunggu-tunggu, agar Madre segera diexplorasi.

Total sekitar 40 menit untuk membaca Madre, gejolak emosi bercampur aduk, lebih berantakan dibandingkan roti yg baru akan menjadi adonan. Yah Madre menceritakan tentang toko roti. Biang roti yang berusaha untuk hidup kembali, yang telah berusia 70 tahun dan mati suri selama 5 tahun, menghidupkan cerita-cerita yang telah lama mati suri. Menghidupkan harapan-harapan para jompo yang telah lama dikubur.
Tak terbantah, pesan-pesan sosial yang selalu dihantarken terasa begitu dekat. Pada part 'have you ever' dan 'Cinta dan Tuhan', pesan yang tersirat dibuat gamblang, sehingga akan diresapi sesuai dengan keyakinan dan ketahuan pembaca.

Part "layang-layang", menarasikan dua orang yang berbeda prinsip, beda pola tingkah, beda kehidupan berusaha untuk saling mengisi. Pencarian arti hidup, cinta dan persahabatan yang kompleks dibuat sederhana. Salah satu part yang patut untuk diresapi.

Sedangkan part-part lainnya, puisi-puisi prosa yang dengan pemilihan kata yang baik dan dalam.

Satu hal yang akan membuat tertegun, pemilihan kata yang pas dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar tak luput membuat kata demi kata mengalir dengan sempurna. Tapi tak ada gading yang tak retak, human error masih bisa kita lihat di halaman 145, terjadi typo, penggunaan kata yang tidak tepat dan tidak sesuai dengan EYD. Selanjutnya akan dicoba kembali apa saja typo yang ada pada first print ini. Sejauh ini ada 3 yang telah dilaporkan pada sang maestro, mbak Dewi 'Dee' Lestari.

Setelah Filosofi Kopi kita diajak untuk menelaah lebih jauh teman sang kopi, Madre, roti yang memberikan inspirasi. Tak sabar menunggu lanjutan yang penuh kejutan yang akan di hadirkan sang Maestro.

Madre! Simple but deep inside.