Showing posts with label japanese. Show all posts
Showing posts with label japanese. Show all posts

Sunday, March 2, 2014

Dee, Ichiban Japanese Restaurant - Tanjung Duren

Sunday, 2 March 2014, Ondy will treat me for his post degree graduation day few weeks ago. And we are craving for Japanese food, and found that Japanese restaurant just opened few days back nearby my area. So we decided to try it.

Ichiban, sound bit familiar, I don't know related with Ichiban Sushi chain's or not, but the logo and interior is different.

My first impression when I saw the menu list is "wooow so cheap!, is it eatable?", Okay, we will not know if we don't dare to try. what! they have sambal sauce in house, I never trust japanese restaurant with sambal sauce x))

We ordered some fussion roll, california - rainbow salmon - crunchy - chicken katsu - fish katsu, beef spicy ramen, sake sashimi, steamed gyoza, unfortunately chuka idako was out of stock and they don't serve unagi (it is a big minus).

Sashimi 20K - 27K
Sushi roll around 15K - 32K.
Udon 13K - 35K
Ramen 20K - 27K
Tempura Set 25K - 40K
Bento Set 25K - 40K
Appetizer 10K -25K

very cheap!!


Okay, first I will try the sashimi, fresh and eatable, good impression


Next, they serve our sushi roll, Bit plain for the california and rainbow salmon, but chicken katsu roll is my favorite, 15K with tender chicken, where dan you get like this?! 


I didn't take photo of beef spicy ramen, only 26K, the taste is good, clear soup without lard.. x)


So, overall I give 7/10 for this restaurant, the biggest plus is price with all dishes we ordered, only 165K, I will come often for dinner after back from office with this cheap price. I will try another menu, and maybe can recommended another menu.

Ichiban Japanese Restaurant
Tanjung Duren Utara 4
Nearby Pisang Ijo Pemuda

Monday, October 14, 2013

Dee, Zenbu - Kota Kasablanka



Perdana, menginjakkan kaki di negeri antah berantah, Kota Kasablanka yang ngehits itu..
Kesan pertama... wuiiiih gede juga mall-nya... Kesan kedua... Loooh kok konstruksi-nya ngak pol-polan, kayaknya ada sesuatu yang kurang... Dan setelah masuk mall-nya, ini mall kok sempit banget, sirkulasi udaranya ngak bagus, geladaknya rendah banget dan penyusunan tenant-nya kok berantakan. Iiih bikin gampang nyasar jugaaak! Nyebelin...


Akhirnya mutar muter nyari restaurant untuk bersantap malam, akhirnya menjatuhkan pilihan pada Zenbu. Yah we are craving for Donburi.. Let's eat at The House of Mozaru (Donburi)..

Restaurant-nya quiet cozy, dengan interior design yang japanese abis... Hmm.... Tapi lukisan dan gambar sepanjang dindingnya kelihatan kurang hidup karena dikejar target penyelesaian yang mungkin terlalu ketat. At least,the interior designer shows that s/he has capability...


Kali ini kita cukup lapar, sehingga pesan makanan agak membabi-buta... Iya mah, anakmu lapar banget, ga cukup kayaknya kalo cuma makan nasi semangkuk. Porsi makanan lumayan gede dengan harga yang affordable. Kali ini pesan chicken fried curry donburi and fried softshell crab. Nom nom nom...


Chicken curry dengan bumbu yang meresap. Nasinya ditanak dengan baik, tidak terlalu lembek atau keras. House of Mozaru, their speciality.. Best donburi don in town.. Untuk service is so so..






Price : 7/10
Taste : 7/10
Service : 6/10
Interior : 710

Overall : 6.75/10


Tuesday, October 16, 2012

Dee, Karena Nila Setitik - Rusak Susu Sebelanga

16 Oktober 2012, Oryx Rotana Hotel, Doha. Hari ini bangun agak telat, jam 6 baru kebangun, padahal biasanya jam 4an udah bangun, enggak tahu kenapa hari ini berapa cape banget. Beres-beres mandi, kemudian sarapan lah pukul 7 AM. Kelar sarapan 7:45, saatnya perjuangan nyari taxi! Iya, di hotel ini susah banget dapat taxi-nya...

Tunggu punya tunggu, lihat orang-orang dijemput, rasanya asik banget, aku juga mau.. Tapi sedihnya ngak ada yang jemput, ya udah sih terima nasib aja, jangan suka meratap :))

5 menit, satu pun taxi ga ada yang lewat.. Ah tunggu lagi lah bentar..

10 menit... Karwa ga muncul juga batang hidungnya..

15 menit.. Lah kok ga ada yang masuk ke hotel..

20 menit.. Makin banyak yang antri taxinya, belum ada yang datang juga..

25 menit... Lah ini gw udah telat.. gimana ini?? Piyeee???

30 menit... Loooooh masih ga ada taxi juga, aku kan antrian pertama, makin banyak yang nunggu taxi..

33 menit... Taxi datang, siap-siap untuk masuk.. jriiiiiiit! Antrian gw disela ama orang Jepang, iiih ga tahu malu banget sih! Loooh kok ambil antrian gw ga pake minta izin!! Gw kan udah telaaaat!!!!!! Grr.. Ini 30 menit baru ada taxi, masa gw harus make limo lagi???!!

Grrrrr....! kesel tingkat panasnya Doha deh...
Tiba-tiba ada mobil lewat, ya udah sih, taxi gelap, naik aja, lebih mahal sih, Qar 20 sekali jalan, tapi dibandingkan nunggu taxi ga datang-datang lagi, kan ngeselin...

Akhirnya dapat mobil juga yang nganterin ke kantor.. QAR 20, mahal sih, jaraknya deket gini, tapi yah udahlah..

Orang Jepang itu ngeselin bener deh, pengen gw taboook! Mulai dari sekarang, tidak ada lagi anggapan kalo orang Jepang itu selalu sopan dalam mengantri!! Ini ada yang nyela, antrian gw lagi!! Grr....!

POKOKNYA ORANG JEPANG JUGA GA BISA NGANTRI DENGAN BAIK DAN BENAR!!!!

Paradigma Japanese teratur dan tertib hancur sudah! Karena nila setitik, rusak susu sebelanga! Kalo besok ketemu lagi, gw mau bikin perhitungan!!!!

Saturday, June 16, 2012

Dee, Ramen Nation, Jurong Point

I was at Jurong Point Mall Singapore, I don't know what to eat here. I don't like the mall, too crowded and long queue in every restaurant! At least 10 peoples, queueing in front of in every restaurant at the mall, even the chinese food restaurant maybe go more than 20 peoples! My friend said the food is not cheap, but it nice, I am still thinking, how nice the food make it worthed to queue for about an hour? Ah, I don't want to try, just find a short queue restaurant for me. I wanted japanese food, craving for ramen. Honestly I want Marutama Ramen, but I must go to Clarke Quay, then forget it, just find Ramen Restaurat/Japanese restaurant at Jurong Point and the shortest queue.

My friends asked me to queue at Ichiban Sushi. Do you kidding me??! Even at Jakarta I don't want to eat at Ichiban Sushi, and now you are asking me to queue at Ichiban Sushi for more than 20 peoples still queueing there?! Aiyooooh! I prefer don't eat anything lar.. Hahaha... But all Japanese restaurant is full, everywhere is queueing! I was hungry and I prefer the shortest queue, and I found the Ramen Nation was the shortest queue, 'just' 8 peoples in the queue. Okay, we were IN!

By the way, just for me or us, mostly Singaporean doesn't allow to take picture at the mall or restaurant. Altough I took my camera, I didn't be allowed to take any pictures there. But, I tried to take picture from my Blackberry without any voice and nobody know! I wanna share it for you, and you! Yes, you! My dearest readers. Hahaha...

Ramen Nation


And here we go, I ordered the Kyoto Pork Charsiew Ramen. The ramen served with Kyoto Ramen, 5 slices of pork charsiew, bean sprouts, half boiled egg, seaweed, and chives. I added sesame oil, pepper, soyu sauce and bit fish oil there.. And taraaa... I like the ramen soup! The pork soup is nice, the balance of seasoning and ingridients are good, not like Hakata Ikkousha which full with lard, euuuw.. I swear it was the first and last one I taste Hakata Ikkousha! The ramen at Ramen Nation, hmmm.. not too nice, just like Indonesian bakmi, so nothing special. The pork charsiew is good, but Marutama Ramen still the best one! But the most interesting ingridient there is bean sprouts! Yeah, the best bean sprouts ever in the soup. I don't know how to describe it, but the bean sprouts was really chewy on the mouth, and the texture was so good. It must be boiled perfectly by the chef. I will try to get the same texture and taste someday!

Kyoto Pork Charsiew Ramen

For the side dish, I ordered Chicken Karage, fried boneless chicken breast, and just so so. I am too full by the ramen. The side dished cost me SGD 5.50, yeah bit too expensive for side dish. (6/10)

Chicken Karage (Boneless Breast)

The ramen is not cheap, SGD 17.90 per portion for 5 slices or pork charsiew. I think a bit overprice if comparing with Indonesian price, but for Singapore price, it was worthy for every cent you paid. It was finger licking good if you ordered the bean sprouts soup! Hahaha.. But, I was eat ramen, not bean sprout soup, so SGD 17.90 was overprice! (6.5/10) If you compare with Sanpachi, yeah for me Ramen Nation is better than Sanpachi or Hakata Ikkousha, Ajisen or Gokana ramen not on my list at all.

By the way, I want to try Santouka Ramen at Plaza Indonesia, it opened at 16 May 2012 at Plaza Indonesia Mall. Sentouka Ramen is Hokkaido style ramen. They just served 20 portion pork cheek's everyday, due to very limited supply at Indonesia. So, just wait my review for Santouka Ramen, I wish I can try soon their pork cheek. Be patient!

Sunday, June 3, 2012

Dee, I am Indonesian

I am Dee and I am Indonesian.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, saya mengalami krisis identitas kewarganegaraan untuk beberapa kenalan baru misalnya kolega baru di kantor ataupun kenalan baru pada saat travelling. Kenapa saya sebut sebagai krisis kewarganegaraan? Yah, mostly mereka tidak percaya kalo saya orang Indonesia asli, oke saya persempit jadi orang Indonesia keturunan Tionghoa. Bahkan ada yang tidak tahu bahwa di Indonesia terdapat etnis Tionghoa! Aaaah.. Itu saatnya saya mempromosikan Indonesia dengan keberagaman sukunya.

Diskriminasi pertama yang paling saya sering terima adalah ketika di taxi. Supir taxi selalu menganggap saya sebagai warga negara tujuan saya akan terbang, misalnya saya mengatakan akan terbang ke Kuala Lumpur akan ditebak sebagai Malaysian, kalau saya bilang mau ke Singapore selalu dianggap sebagai Singaporean, bila akan terbang ke Bangkok saya juga akan berlagak sebagai orang Thailand. (Ini berlaku bila saya mencegat taxi di jalan, bukan dari booking-an). Dan karena sudah terbiasa, saya menjalani peran sebagai warga negara yang si supir taxi tebak, hitung-hitung menyenangkan hati mereka.

Diskriminasi tidak diakui sebagai warga negara Indonesia selanjutnya terjadi dan sering dilakukan oleh pramugari/pramugara. Pernah saya minta kartu entrance yang perlu kita isi kepada pramugari, dia tidak mau memberikan kepada saya, dia tidak percaya saya Indonesia sampai saya memperlihatkan paspor saya. Sedangkan salah satu pramugara dari Hongkong malah mempertanyakan apa yang saya cari untuk terbang ke Indonesia jauh-jauh dari Hongkong? Wooah, saya disangka Hongkong? Wajah Cantonese saya darimana coba? Fiiiiiuuuh..

Pengalaman disangka warga negara asing tidak sampai disitu, bulan April 2012, saya melakukan perjalanan di Yogyakarta. Yang ini benar-benar random abis! Kesal sekaligus bingung, supir mobil yang saya booking mengira saya orang Thailand karena sedang membicarakan rencana trip ke Bangkok bersama teman saya. Penjaga karcis di Prambanan tidak percaya saya orang Indonesia, dia meminta menunjukkan ID sebagai bukti saya bukan Singaporean?! Random berikutnya saya dituduh Taiwanese oleh penjaga tiket di Borobudur hingga harus menunjukkan ID dan dituduh Malaysian oleh guide di Borobudur. Diskriminasi tidak sampai disitu saja, saya kembali dituduh Japanese oleh resepsionis hotel tempat kami menginap, dan dituduh sebagai Korean oleh guide di Alun-Alun Utara! Tidak cukup sampai disitu, saya kembali dituduh Hongkong oleh tukang becak di Taman Sari! Ah begitu random-nya kah wajah saya??! I am truly Asia!

Penolakan sebagai warga negara Indonesia juga sering terjadi bila ada kunjungan client di kantor. Pernah saya dituduh sebagai Korean gegara sering pakai scarf di kantor, padahal gegara kantor dingin banget! Pernah dituduh sebagai Singaporean karena Singlish yang lancar! (lol). Terutama kolega Singaporean yang selalu confirm kalo saya Singaporean, yeah I said confirmed NOT lar! (still with Singlish).

And ketika di Rumah Sakit Siloam tahun 2008, saya dituduh sebagai Japanese oleh dokter yang merawat saya! Ciiih... Diskriminatif sekali, saya selalu dapat makanan khusus dan perlakuan khusus dari dokternya! Maksih yah pak.. ermm.. Saya udah lupa sih, ngak mau lagi urusan ama dokter, tidak mau kenal-kenal lagi. bweeek :p

Krisis identitas paling sering saya terima bila saya di Singapore atau Malaysia! Saya selalu dituduh penduduk lokal oleh para turis! Alhasil saya selalu ditanyain jalan oleh para turis padahal saya tidak tahu jalan juga. Sorry Madam/Sir, I don't know, I am a tourist like you! :))

Nah cerita terakhir ketika saya ke Singapore Mei 2012, dari beberapa orang yang di sekitar saya, saya selalu 'terpilih' oleh turis yang bingung dan tidak tahu jalan. Pertama bapak dari Pakistan yang buta arah jalan dan tidak tahu cara membeli tiket one-way MRT, saya bantuin deh, dan setelah berbicara basa-basi dia tidak percaya di Indonesia ada keturunan Chinese, dan dia tidak percaya ada Indoenesia-Chinese yang kulitnya kuning kecoklatan seperti saya! Aaaah bapak kurang pergaulan saja, kelamaan di Thailand sih :p

Pengalaman kedua ketika saya sedang di Bugis, jalan sendirian, seorang bule menghampiri saya, menanyakan arah jalan! *bapak saya bukan Singaporean, tapi saya bantu sebisa saya yah! Semoga yang saya kasih tahu kemaren tidak membuat bapak jadi nyasar! Turis Australia tersebut menganggap saya Singaporean juga! Jiaaaaaah... Baiklah, saya tunjukkan kemampuan Singlish saya, biarin dah! Hahaha

Pengalaman ketiga, ketika saya sedang asik melahap 1 dollar ice cream, tiba-tiba seorang perempuan Singaporean menghampiri saya, meminta saya mengisi form survey untuk Singaporean. Woooah! Saya dikira Singaporean oleh Singaporean! Emezing! Sorry miss, I am not Singaporean! I am tourist from Indonesia.

Pengalaman keempat, di MRT menuju ke Orchard, sedang menunggu MRT di Bugis, ada pasangan bule, dari banyaknya Singaporean di sekitar saya, eh malah nanya jalan kepada saya! Aiyooooh! I am not Singaporean lar.. But I think I can help, cause we are on the same way to Orchard! Hehehe.. Pasangan Canada-South Africa yang saya tebak sebagai pasangan baru nemu di jalan itu,  dimana si bule perempuan saya tebak berumur dipenghujung 40-an menuju 50 sedangkan sang negro berumur yah kira-kira 20-an menuju 30 dengan rambut gimbalnya yang *maaf* baunya ajubile! Hahaha... Mereka menanyakan kepada saya bagaimana 'kabur' dari Singapore untuk mendapatkan stay permit at least one month again, setelah pembicaraan panjang saya ajarin untuk ke Johor yang transfer dari Woodlands dengan biaya yang murah meriah! Semoga berhasil yah!

Dan pengalaman kelima di Singapore kemaren ketika naik MRT ke lakeside point, seorang PRC menanyakan saya arah MRT, karena saya terlihat sebagai Singaporean. Yishun, transfer dimana (pake mandarin), saya terdiam sejenak, ermm... Yah yah keluar aja dari City Hall sambil tunjuk-tunjuk, transfer disitu (sambil bolak balik map), semoga cici ngak nyasar yah, saya bukan Singaporean dan cara bertanya yang baik tidak seperti itu, tetapi jawaban saya kemaren bener kok! Kalo nyasar salah sendiri!

Ada yang punya pengalaman lebih parah dari saya? Sejauh ini masih okelah dianggap sebagai warga negara asing masih dari negara-negara Asia, terutama dari tetangga. Singapore, Malaysia adalah yang paling sering, yah mungkin akibat Singlish, Teochew, Malaylish atau Melayu saya yang lancar bila di negara tersebut. Hongkong, Korean, Japanese, Thailand, Taiwanese juga sering didapatkan. Yang saya bingung tidak ada yang pernah menebak saya sebagai orang China! Tetapi emang berbeda sih yah, walaupun saya sipit, mereka lebih sipit lagi sih :)) Sebenarnya yang paling saya inginkan gitu ditebak sebagai bule gitu, kan kerenan dikit dianggap sebagai Caucassian gitu (ngimpi kali mana ada Caucassian kulit berwarna dan pendek kayak elu), dianggap African kayaknya kan juga keren tuh, kalo tidak Indian gitu dengan kulit begini kan sebagai suatu keajaiban! Atau mata itu orang udah katarak atau buta. Hahaha..

Tetapi sebagai seorang Indonesian sejati, aku mau dianggap sebagai orang PAPUA! Itu cita-cita saya, kalo kamu?


Whatever you say about me, I am still Indonesian