Showing posts with label pulang kampung. Show all posts
Showing posts with label pulang kampung. Show all posts

Sunday, March 24, 2013

Dee, Pulang Kampung 2013

Ini adalah kisah seorang anak perantauan pulang ke peradabannya

Hp, Passport dan Powerbank adalah hal paling utama

Di Bandara SSQ-II memulai perjalanan panjang pulang kampung

Di setiap perhentian, menunggu perhentian selanjutnya

perhentian yang memberi harapan masih ada orang yang menuggu di sana
Terkadang, nasihat tak pernah kita hiraukan

Menyusuri jalan setapak demi mencapai tujuan

Lebatnya hutan tak membuat keinginan ini tertahan

Hingga tercapai laut yang memberi harapan

Hamparan laut yang memberi ketenangan

Kesederhanaan yang memberi harapan

Ku berlari kau terdiam

Aku pergi, kau menghilang

Kadang aku merasa penuh

Di sisi lain ku merasa hampa




Aku berlari menerjang arus

Melawan ombak yang menjadi aral
Ku ingin pergi, terbang menjauh

Terbang menggapai cita-citaku

Thursday, February 2, 2012

Dee and Chinese New Year 2012



22 Januari 2012, Chinese New Year Eve, dan setidaknya Dee berasa dirumah hari ini, terhitung 2 tahun sudah tidak pulang kampung. Chinese New Year tahun lalu Dee habiskan waktu di Jakarta, ngucapin "Xin Nian Khuai Le" hanya lewat telepon saja. Tahun lalu, Chinese New Year Eve pun dihabiskan dengan makan bareng temen yang ga pulang kampung di Clover Place dan karaoke di Inul Vista. Finally tahun 2012 ini bisa kembali bareng keluarga lagi, tapi rencana yang telah disusun agak berantakan soalnya di kampung dalam keadaan sakit, mimisan terus menerus, batuk berdahak. Yah rencana ingin meng-explore kampung halaman untuk di-share kepada para pembaca setia blog pun tidak tercapai.

Selain kondisi tubuh yang tidak fit, keadaan cuaca dan alam pun tidak mengizinkan, selama dikampung tiap hari mendung, air pasang, dan hujan terus menerus. Tidak dapat melihat sunrise atau sunset, menongkah kerang pun tak dapat terekspos, soalnya hanya bisa dilakukan kalo air dalam keadaan surut kering. Karena kondisi tubuh yang tidak fit, alhasil juga tidak diperbolehkan untuk jalan-jalan :'( Maaf, tidak bisa menepati janji untuk memperkenalkan Concong. Keadaan diperparah lagi, 3 karyawan tidak ada yang masuk kerja di Chinese New Year Eve ini, dan kebetulan hari minggu itu hari Pasar, dan toko bakalan rame banget. Alhasil yaah Dee sibuk dari pagi hingga sore, naik turun tangga, ke gudang, angkat beras, anterin bareng, aaiih sibuk dan berasa cape banget, sudah lama tidak merasakannya. Pantesan aja dirumah pada langsing singset tanpa fitnes, kerjaannya berat booo!

Setelah tutup toko karena CNY Eve, finally makan-makan bareng keluarga. Dengan kondisi bokap yang pasca stroke tidak ada makanan yang banyak lagi, disesuaiin dengan kondisi yang tidak berlemak, menghindari makanan yang ga boleh dimakan oleh bokap juga. Bumbu-bumbu nya sebisa mungkin tidak berminyak dan se-plain mungkin.

Plain Fried Chicken
Abalone with Hoisom
Shabu-Shabu

Ekado Spring Roll
Capcay



 
Setelah acara makan-makan keluarga, Chinese New Year Eve-ya dilanjutkan ke vihara, ada acara yang dibuat oleh pemuda-pemudi setempat, dan ada Lucky Draw dengan hadiah utama kulkas. Mau ga mau kita harus beli tiket Lucky Draw yang satuannya seharga 20rb, patungan kita pun membeli 5 buah kupon seharga 100rb. Setelah sekian lama menunggu undian, dan udah pasrah tidak akan mendapat apa-apa, akhirnya kita mendapatkan juga. Yah kupon kita dipanggil! Wooohooooo! tapi kita cuma dapat angpao 80rb, masih tekor nih 20rb :))

Hometown Dee, Concong, punya kebiasaan unik, mereka mengikuti waktu +8 seperti di Singapore, sejak kecil Dee merasa bingung kenapa orang-orang ini memakai waktu +8 bukan +7 seperti WIB, tapi karena mereka lebih senang untuk memakai waktu +8, minoritas yah mengalah aja. Sebelom pukul 23:00 WIB kembang api mulai dinyalakan, ga terlalu banyak sih, tapi lumayan lah untuk suasana Chinese New Year Eve, kembang apinya lumayan heboh juga.












Setelah acara bakar-bakaran kembang api, dan Dee seperti biasa di daulat menjadi tukang foto, sehingga tidak ada foto diri sendiri selama chinese new year eve T_T... Tapi terima sajalah, jiwa tukang foto, terima sajalah nasib. Pulang ke rumah, tidur siap-siap buat chinese new year besok, sembahyang ke kelenteng, sambil ber-gong xi fat chai ria disana. Jadi ga perlu lagi kunjungin banyak rumah, cukup di kelenteng saja.



23 January 2012, agak telat ke kelenteng-nya, sekitar jam 8an, dan ternyata pada telat juga ke kelentengnya, jadi masih ketemu banyak orang. Sembahyang bersama, sambil ber-Gong Xi Fat Chai di kelenteng, saling memberi harapan di tahun yang baru. Senang, nostalgia, ketemu lagi sama teman-teman. Banyak yang berubah, dan semuanya comment "Dee tambah gendut", aduuuh senangnya, padahal kalo di Jakarta Dee paling kurus dan paling kecil. Kalo di kampung, udah termasuk cukup tinggi, cukup putih dan ga terlalu kurus lho, banyak yang lebih kurus dan lebih hitam akibat sinar matahari yang sangat menyengat kalo dikampung. Semua kolega bokap comment "Wah udah gede yah sekarang, udah ga ngenalin lagi", "Wah udah ga kurus lagi yah kayak dulu". Perasaan senang deh, di Jakarta ga malu-maluin, ga makin kumel ataupun ga terawat. Walaupun anak kos, makanan tetap terjaga yaaah!

Satu hal yang membuat Dee merasa alien di kampung adalah masalah fashion, 90% dengan Korean Style dengan rambut di cat warna warni, sedangkan Dee 'plain', rambut pun hitam, baju hasil jarahan diskonan tanpa model yang macam-macam seperti baju Korea.. Aduuuh berasa salah kostum banget, tapi pede aja, paling beda dari yang lain bukan berarti paling low fashion kan. Secara walaupun diskonan make baju branded semua kok *nunduk malu*. Kalo ga jalan-jalan dan dirumah doang, Dee selalu pake tanktop, panasnya di kampung ga tahan dah, Jakarta ga ada apa-apanya, keluar cuma malam hari karena kondisi badan yang kurang fit juga. Malas panas-panasan, dan pengen punya waktu lebih banyak ama keluarga, ngobrol banyak ama nyokap + bokap. Anaknya udah lama mak ga pulang kampung, hihihi.. Hari pertama CNY yah nothing special, lebih banyak dirumah, sambil bongkar bongkar foto lama.Yaaah nostalgia, dari kecil Dee emang banci kamera, banyak juga albumnya. Hahaha.. 

Hari kedua, cici pertama pulang kampung ama suami dan anaknya. Wooohoo semuanya ngumpul lagi dengan ada baby K yang pertama kali mudik ke kampung emaknya. Anak kota masuk desa, dan si Baby K itu nakalnya ajubile dah.. Ga mau disentuh/digendong ama siapapun. Ribet banget dah nih anak, emaknya  aja pusing, alhasil susternya kudu extra kerja keras biar si Baby K tidak nangis. Difoto ga mau, disuruh makan ga mau, disuruh tidur ga mau, yaah hari kedua cuma ngurusin Baby K yang bandel tapi lucu juga, rumah jadi rame banget...







Baby K and papinya

Tak terasa, cici udah punya anak

Selama di kampung, Baby K baru perdana menampakkan diri, jadilah perkenalan ke orang-orang sekampung, ini loh cucu pertama papi Dee. Hohoho... Pada nanya, umur berapa? Kok gede amat? Baby K umurnya 20 bulan dan untuk anak seumur dia, emang bobotnya berlebih dibandingkan anak-anak dikampung, Baby K bisa dibilang terlalu cepat besar, jadi ibu-ibu muda yang lain agaknya pada ngiri deh ama Baby K, apalagi banyak yang umurnya lebih gede, pertumbuhannya ga sebagus Baby K. Walaupun nakalnya ajubile tapi jujur Baby K termasuk anak yang pintar menurut saya, dia bisa berakting dan ber-strategi apa saja demi mendapatkan apa yang dia inginkan. Sudah bisa makan sendiri, sudah bisa manggil orang dan mengenali orang. Sudah bisa katakan "ndak", sudah mulai sulit diatur, hihihi..

Sebenarnya cici saya sangat mengkhawatirkan Baby K bakalan ga betah kalo di Concong, soalnya Baby K tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Tetapi, kekhawatiran itu tidak menjadi kenyataan, Baby K betah loh di rumah, dia kelihatan senang sekali sampai hari terakhirnya di Concong. Rumah terasa rame sekali dengan kehadiran seorang cucu, walaupun Dee ga terlalu suka dengan anak-anak, Dee  merasa ada sesuatu yang baru disini. Kebandelannya suatu saat akan menjadi cerita yang lucu ketika baby K dewasa. Foto-foto nan aneh ini akan menjadi memori, kok Dee jadi kangen yah ama Baby K. Suatu hari kita pulang kampung bareng lagi yaaah! Concong, we love you full!

Concong Luar, desa nan tak tersentuh

2 tahun sudah tak menginjakkan kaki di tanah kelahiran, Concong Luar. Terdengar aneh? Yaah namanya memang sangat unik dan mungkin bagi sebagian orang pertama kali mendengarnya atau hanya pernah mendengarnya dari cerita Dee. Concong Luar, kecamatan Concong (dahulunya masih masuk dalam kecamatan Kuala Indragiri, sejak pemekaran kecamatan menjadi kecamatan Concong, Concong Luar menjadi pusat pemerintahan kecamatan Concong) dapat dikatakan sebagai kecamatan yang sangat tertinggal. Sebagai ibukota kecamatan, listrik disini belum  24 jam. Masyarakat hanya merasakan listrik dari pukul 17:00 hingga pukul 07:00 (ideal-nya tapi kenyataan di lapangan tidak seperti itu), listrik pun masih sering giliran 2-1 artinya 2 hari nyala 1 hari mati. Untuk soal alat komunikasi, sampai sekarang tidak ada telkom yang online di Concong, padahal proyeknya udah dilakukan sejak tahun 2000, entah mengapa terbengkalai.

Peralatan komunikasi pertama disini adalah menggunakan telepon satelit yang mahalnya ajubile dengan tarif premium seperti yang Anda rasakan ketika menelepon ke line telepon 0809xxxxx. Kemudian jaringan telepon selular mulai berkembang di tahun 2004, yah semuanya berbondong bondong membeli antena eksternal yang kayak antena televisi 'demi' mendapatkan sinyal yang cuma 1 atau 2 bar, yang penting bisa buat komunikasi murah! Ga ada gunanya handphone desain bagus karena pasti akan lecet akibat gesekan dengan antena yang diikat pake karet gelang! biar sinyalnya ga ilang-ilang, aijaaaah! so nostalgic yo... Telkomsel mulai masuk kira-kira taon 2006, ketika Dee mulai kuliah di Jakarta, itu pun masih sering mati kalo minyaknya abis yah ga dinyalain :p Jangan mengharapkan 3G, sampai sekarang masih belum ada tuh yang namanya 3G, bisa browsing aja udah syukur banget dah :)) Tahun 2011, XL mulai mengembangkan bisnis-nya untuk mematahkan monopoli Telkomsel di Concong. Alhamdulillah tahun ini pulang yang make XL masih sedkit, BBM pake XL ga pake pending parah.

Taon 2009 ketika Blackberry mulai menjamur di Jakarta, 2 tahun lalu, cuma Dee yang make Blackberry, sungguh sangat menyenangkan, ga ada yang namanya lemot dan Blackberry masih dipandang sebagai benda 'alien', karena masih pada makai Nokia/Sony Ericsson yang harganya mahal banget ataupun iphone. Blackberry merupakan benda unik, iyaa saya menjadi orang pertama yang memakai Blackberry di Concong (cliiing). Tapi tahun ini 2012, semua orang telah memakai Blackberry, barang wajib 1 Blackberry + satu ponsel lainnya. Lemot, ga bisa browsing kalo lagi peak hours...

Ngomongin soal internet.. aiiiih.. jangan harap lah ada First Media, Speedy ataupun penyedia jaringan internet lainnya. Alhasil yah hanya modem lah yang bisa dipake, itupun kembang kempis, sakit hati ga bisa browsing, bener-bener ga bisa eksis dah kalo dikampung! Ga bisa jadi anak gaul sosial media, hihihi...

Untuk akomodasi bisa dibilang sangatlah minim, transportasi laut yang menjadi penggerak utama. Jalanan belum di aspal, 90% masih terbuat dari papan dan banyak yang udah bolong + goyang-goyang, buat yang tidak terbiasa akan sangat sulit sekali berjalan di Concong Luar, sangat mengerikan, apalagi kalo lagi berjalan beramai-ramai. Goyang Inul aja kalah deh ama goyangan ini jalan, hihihi.. Untuk mencapai daerah Concong seperti yang sudah pernah Dee tulis di beberapa artikel terdahulu, ada beberapa opsi, kebetulan pulang kampung kali ini Dee memilih opsi lewat Batam, pulang kampung bareng ke Concong dengan check point di Batam. Dari Batam ke Concong dengan private ferry bersama 47 orang lainnya, kali ini ditempuh dengan waktu kurang lebih 4jam. Sepanjang perjalanan ngobrol-ngobrol bareng teman, hahahihi bersama sambil melihat laut, merenungi apa yang telah saya lakukan selama 2 tahun ini. Dee kangen pulang kampung!

Sebagai ibukota kecamatan, Concong belum berubah sama sekali, banyak hal yang perlu di tata, terutama urusan birokrasi, infrastruktur dan manner penduduknya. Tak ada perubahan berarti, malah sebagian jalan semakin tidak tertata dengan beberapa motor yang seliweran ga efektif di jalan yang sudah tak layak ini, sungguh sangat menjengkelkan melihat motor seliweran yang sangat ga efektif dan hanya memberi polusi suara dengan knalpot yang menimbulkan suara yang sangat berisik terutama di malam hari.

Dee masih bingung kenapa sampai sekarang Concong masih sangat terbelakang dibandingkan daerah-daerah lain di Indonesia yang pernah Dee kunjungin. Sungguh sangat menyedihkan telah sekitar 4 tahun setelah pemekaran kecamatan, nyaris tidak ada perkembangan sama sekali. Masalah sampah juga tidak menjadi prioritas utama, padahal sampah merupakan issue yang sangat memprihantinkan disini. Tidak adanya tempat pembuangan akhir membuat masyarakat membuang sampah langsung ke laut, sehingga banyak sampah yang menumpuk dan tidak terbawa ombak ke laut. Sampah semakin menumpuk di lumpur sehingga merusak ekosistem yang hidup di habitat lumpur tersebut. Susah sekali menemukan binatang yang hidup bebas di lumpur, sudah tidak ada lagi kepiting warna warni yang biasa saya lihat ketika SD, Sekarang semuanya dihiasi oleh sampah yang tidak bisa di daur ulang, menumpuk. Siapa saja yang menjadi camat atau kepala desa nantinya di Concong, Dee sangat mengharapkan perbaikan infrastruktur dan sampah menjadi fokus utama. Semoga Concong tidak lagi menjadi kecamatan yang terbelakang dengan potensi alam yang sangat besar ini.

Depan rumah diambil dari kamar Dee


Ada bangau sedang bertengger

Walet dimana-mana


Elang terbang bebas mencari makan



Penjemurah ebi

Depan rumah

sunset


suasana pukul 6 pagi

 

Mendung :(

Kapal penangkap ikan

Depan rumah

samping rumah

SD 045 (Dulu)

Jalan ke SMP

Puskesmas satu-satunya, belum ada rumah sakit

Jemur ikan asin di jalan

Rumah guru penuh kenangan

Disini dulu ada SD 009, SD Dee dulu

Rumah Dee yang warna biru