Saturday, September 29, 2012

Dee, Jakarta, Love you but hate you too

Tahun ke-7 di Jakarta, sebenarnya sudah masuk ke titik jenuh untuk tetap tinggal di Jakarta. Tapi apa daya, mandat dari orang tua harus ditegakkan, kudu tetap stay di Jakarta. Yaudin, ikutin aja apa kata orang tua. Belu lama ini, pilkada jakarta putaran kedua telah dilakukna, hasilnya sang kotak-kotak memenangkan pertarungan melawan si Kumis, walaupun belum ditetapkan.

Sebelum pilkada, para pemilih kotak-kotak terus menerus berkampanye di media sosial, aaaah makin lama serasa makin menyebalkan, untungnya semuanya telah berakhir. Para pemilih kotak-kotak telah berstigma yang penting bukan kumis. Itu pilihan mereka, dan pilihan itu harus diapresiasi, tapi bukan berarti kotak-kotak juga boleh mencela orang yang memilih kumis, itu pilihan mereka juga. :)

Kampanye tidak membawa kepentingan partai??! hmm... Ini menjadi sorotan utama, 1 hari setelah Quick Count di umumkan, baliho dari partai berlambang garuda sudah eksis dimana-mana, "Pelopor perubahan Jakarta"? What? Apa yang sudah berubah? Ditetapkan saja belum, kerja aja belum kelihatan, sudah sibuk berkoar-koar, dan yakin nanti tidak membawa kepentingan partai?! Para pemilih yang budiman, saatnya Anda untuk bersikap kritis, tuntut pemimpin yang 'katanya' dipilih bersama-sama itu untuk membuat suatu lembaga yang bisa menerima aspirasi dan pengaduan dari Anda. Yang bisa memperkarakan pejabat yang bersamalah, bukan KPK, bukan juga polisi, MA atau sebagainya. Kita perlu suatu lembaga, dimana kita bisa menuntuk pemerintah/pejabat yang tidak melakukan tugas sebagaimana mestinya, sehingga semuanya dikontrol oleh warga Jakarta nantinya.

Contoh jalan yang berlubang, tidak rata, seringkali menyebabkan kecelakaan, bahkan menimbulkan korban jiwa. Sampai saat ini, para pihak yang terkait terkesan cuek, karena mereka tidak mendapatkan sanksi apa-apa akibat kelalaian mereka. Mereka seolah-solah tidak memiliki tanggung jawab terhadap infrastruktur yang seharusnya menjadi tugas mereka.

Harapan untuk Jakarta yang baru bukanlah hal yang salah, semuanya menginginkan perubahan. Tetapi apakah pemimpin yang terpilih sekarang bisa mewujudkan hal-hal yang baru? Yakinkah penyelewengan anggaran tidak terjadi sama sekali? Banyakin berdoa aja kalau ada yang masih percaya.

Ketidakmerataan permbangunan nasional sebenarnya menjadi pokok permasalahan Jakarta. Sentralisasi elit ekonomi di pusat ibukota mengakibatkan daerah tidak berkembang. Silahkan berkunjung ke pulau sumatera, kalimantan, lihat bagaimana timpangnya dan serakahnya orang yang tinggal di pulau Jawa (untuk sulawesi/papua, belum pernah mendarat disana, jadi tidak bisa menjadikan referensi.

Dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, tentunya Jakarta membutuhkan fasilitas yang lebih banyak/baik, investor pun berbondong-bondong berinvestasi di lahan basah yang memberikan banyak keuntungan. Bisnis properti, banking, IT dan hospotality menjadi tonggak utama pertumbuhan Jakarta. Alhasil Jakarta semakin semrawut tak karuan. Macet, banjir, polusi udara menjadi santapan sehari-hari. For Jakarta, stop ngeluh, kita juga berdedikasi menyumbang semua itu, jangan menyalahkan pemerintah saja.

Banyak yang mengeluh kurangnya lahan hijau di Jakarta, pertanyaaannya apakah di rumah Anda sudah disediakan taman? Daerah resapan air? Menanam tumbuh tumbuhan? Kalau belum ada, sekarang saatnya untuk menanam, kalo tidak stop ngeluh.

Pembangunan mall-mall baru menjadi sorotan dan tidak memiliki kawasan hijau. Yang menjadi pertanyaaan, berapa % warga Jakarta yang mengunjungi taman setiap hari? Berapa banyak yang mengunjungi mall? Apakah taman/mall sekarang dipergunakan sebagaimana mestinya? Berapa banyak taman/mall di Jakarta? Berapa biaya maintenancenya? Apakah taman/mall terawat?

In my humble opinion, kita tidak perlu taman kota yang baru, ataupun pembebasan lahan baru untuk taman kota. Kenapa taman yang sudah ada tersebut dipermak sehingga menjadi lebih menarik, dilakukan promosi untuk menarik perhatian warga Jakarta. Bukan taman yang tidak terawat seperti sekarang. Percuma dibuat taman baru, tapi tidak dirawat/di-maintenance dengan baik. Apalagi perilaku mostly warga Jakarta, buang sampah sembarangan, apalagi kalo tidak ada yang melihat/orang yang dikenal di sekitarnya.

Pemimpin yang baru, juga diharapkan memperbaiki kawasan wisata di Jakarta. Komersialisasi daerah tujuan wisata itu perlu, demi penghargaan terhadap budaya/seni yang telah ada. Komersialisasi tidak harus mahal. Wondering, wisata pulau seribu di-komersialisasi seperti di Phuket, kita punya pantai/laut yang bisa menjadi magnet pula.

Atau kawasan pulau seribu dijadikan tempat exclusive, contohnya kawasan perjudian layaknya di Macao. Stop kontrol pemerintah terhadap kehidupan beragama, kita bisa memberlakukan regulasi yang baik dan benar seperti di Singapore/Malaysia. Warga lokal tidak diperkenankan untuk masuk ke kawasan tersebut, atau harus membayar mahal untuk masuk ke wilayah tersebut. Ini fungsi komersialisasi.

Birokrasi menjadi halangan utama, bertele-tele dan sangat merugikan. Wondering, kalau nantinya pemimpin yang baru berani mengubah segalanya, menbuat menjadi lebih simple, terbuka dan tidak banyak uang siluman. Kawasan night club di lokalisasi di satu daerah, tentu saja akan menarik banyak perhatian turis wisatawan lokal/mancanegara.

Untuk masalah macet, tentu saja transportasi umum perlu diperbaiki, semoga bukan hanya menjadi wacana. Metromini/bus yang tidak layak segera diganti. Bahkan kondisi TransJakarta sudah sangat memprihatinkan. Berapa kali terdengar di tahun 2012 ini, bus TransJakarta terbakar. Apakah ada yang dipidanakan? Sama sekali tidak, menyedihkan, kelalaian manusia yang mungkin bisa mengakibatkan korban jiwa, dibiarkan. Apabila telah jatuh korban, baru kelabakan mencari kambing hitam.

Menjadi supir TransJakarta, cukup menyedihkan. Seringkali terdengar, korban tabrakan dengan TransJ meninggal dunia dan yang dipidanakan adalah supir TransJakarta. Aneh... Bukankah pihak yang tertabrak di Jalur Busway yang seharusnya bersalah? Lagi ngapain mereka di Jalur Busway? Bukankah jalur itu hanya diperuntukan untuk TransJakarta? Walaupun terdapat keteledoran supir, tapi mengapa kita tidak melakukan tindakan preventif terlebih dahulu? Please yang biasa masuk jalur busway, segera berubah! Demi perubahan yang sebenarnya.

Untuk macet, bila Anda masih menjadi penyumbang kemacetan, dengan tidak menaati peraturan lalu lintas, menyerobot ketika traffic light merah, lawan arah, masuk ke trotoar, memakai joki, salah masuk jalur dan tidak berkendara dengan baik, lebih baik kita bersama-sama bercermin. Kita juga sebagai penyumbang macet dengan tidak memakai kendaraan umum, apalabila ada kendaraan umum yang nyaman, seberapa yakin Anda akan menggunakan kendaraan umum? IMO, lebih asik kendaraan pribadi, jadi STOP MENGELUH MACET! :)

Wednesday, September 26, 2012

Dee, Doha Masih Jauh

SCBD Parc. 19, akhirnya ada waktu untuk nge-teh juga sedari jam 8 pagi sibuk ngurusin printilan untuk training, 2 jam pusing cari penyebabnya, akhirnya kelar juga *pasang dasi. Beberapa waktu ini memang terkesan sangat sibuk dengan kerjaan sekarang, terlalu banyak masalah yang harus di take care dikarenakan keterbasan sumber daya IT yang ada sekarang, alhasil bos sering minta bantuan untuk menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya tidak ada di jobdesc, jadi yah nikmatin aja, anggap aja sebagai belajar sesuatu yang baru.

Training sudah sebulan dilakukan untuk pengenalan core banking yang baru, kerjaan yang berat memang. Apalagi untuk men-train orang-orang yang sudah berumur, yang notabene telah dizona nyaman sistem yang lama, susah menerima ilmu yang baru ini. Kesabaran memang diperlukan apalagi untuk memperkenalkan sesuatu yang baru kepada orang yang telah berumur.

Pekerjaan sekarang sebenarnya lebih ringan, walaupun lebih sibuk. Terkadang kudu pulang telat hingga jam 9 malam, demi menyelesaikan pekerjaan yang sebenarnya bukan pekerjaan. Yang penting sekaang, segala sesuatu bisa diselesaikan pada waktunya. Yah memang saya cerewet, perfeksionis, jadi terasa sangat menyebalkan bagi sebagian orang, saya akan tunggu sampai orang tersebut menyelesaikan pekerjaannya, walaupun dia memiliki jabatan yang lebih tinggi. *siap-siap dipecat

Meeting tiap minggu dengan colleagues dari Doha, terkadang serasa nightmare, deg-degan dengan progress yang telah dilakukan oleh tim, beberapa sudah dalam kondisi merah. Tentu saja, task yang menjadi tugas saya harus diselesaikan dan bola bukan di tangan saya. Yah, berusaha selalu dalam kondisi aman. Lack of knowledge yang belum di-deliver dari pihak Doha menjadi gap yang utama. Tuntutan untuk transfer knowledge belum juga terlaksana, susah masalah birokrasi lingkungan kerja. Akhinya saya dijadwalkan ke Doha (lagi).

Cerita lucu minggu ini tentang Doha adalah, keberangkatan ke Doha, kembali tertunda, visa yang belum beres-beres dan setelah saya terima, kembali dengan tanggal lahir yang salah, walaupun cuma satu huruf, tapi akan berakibat fatal, saya kapok bolak balik ke bandara dua kali. Pokoknya sebelum semuanya dalam keadaan benar, saya baru akan berangkat ke Doha. Aneh tapi nyata, visa sudah 2x di-issue dalam keadaan salah.

Doha, Doha Doha... beberapa minggu ini saya mencoba mencari tahu salah satu ibukota di Qatar yang menjadi magnet bagi expat dunia. Apa yang menarik disana? Belum memiliki teman yang stay di Doha menjadi masalah utama, apa yang akan saya lakukan ketika weekend dan selepas office hour? Ah masih menjadi misteri ketika disana, semoga ada yang jadi tour guide :))

Monday, September 17, 2012

Dee, Borobudur Temple

Pesonamu tak pudar dimakan zaman

Relief-mu bercerita tiada henti

Keheningan tak lekang oleh waktu

Bersama tak terpisahkan

Perlahan Termakan Usia

Menerima Perkembangan Teknologi

Saling Bahu Membahu

Tiada yang Lebih Tinggi Atau Rendah

Bersama, Kita Sejajar

Sendiri Tapi Tak Pernah Sepi

Menyimpan Sejuta Misteri

Misteri yang Tak Terjawab

Misteri yang Menjadi Pesona

Menjadi Gila itu Pilihan!

Tuesday, September 11, 2012

Dee, New Job New Challenge

QNB Tower Lot 18 Parc. 19, tidak terasa sudah dua bulan kepindahan ke kantor yang baru, sejak Juli 2012, resmi bergabung bersama Qatar National Bank Kesawan (QNBK). Bank apaaah itu???! Pasti kalimat itu yang terlintas di pikiran Anda, kecuali untuk masyarakat Medan yang sudah terbiasa mendengar Bank Kesawan di Jalan Kesawan.

Singkat cerita, perpindahan kerjaan ini bermula dari desakan orang tua untuk bergabung di industri banking. Yah, kembali lagi untuk memenuhi kemauan orang tua, walaupun keinginan sebenarnya sudah ingin menjadi enterpreneur di kampung halaman, tapi apa daya, orang tua belum mengijinkan. Sampai sekarang belum dapat menentukan pilihan hidup yang benar-benar keputusan sendiri.

Selama dua bulan ini, menikmati proses transisi dari perusahaan lama ke perusahaan baru, working environment yang berbeda, eksekusi pekerjaan yang terasa lebih lambat dibandingkan perusahaan sebelumnya, dan working on target yang biasa dilakukan yang susah diterapkan kepada para division head yang kerjanya terasa lambat. Yah di usia yang 23 tahun ini, memang sulit untuk memaksa atau bekerja sama dengan para pentolan yang telah matang umurnya yang terbiasa dengan cara kerja mereka. Tapi perlahan, cara kerja harus berubah untuk kepentingan perusahaan dan challenge dari Qatar National Bank yang lebih besar.

Beberapa kali, data-data yang diperlukan untuk kepentingan pekerjaan harus di follow-up untuk di kerjakan oleh atasan ataupun division head lain, tunggu hingga jam 8 malam agar pekerjaan beres. Wasting time?! That's my job role, cara kerja yang dipertahankan demi kebaikan manajemen juga. Setidaknya saya diberikan kebebasan untuk menerapkan cara kerja ke QNBK, walaupun kepada yang jabatannya lebih tinggi.

Beberapa senior merasa aneh karena selalu mengiyakan apa kata atasan saya langsung, yang notabene IT division head dengan jabatan VP. Dengan jabatan yang lumayan tinggi dan orang nomor satu IT, ini caranya bermain cantik. Dengerin, pelajarin dan laksanakan apa yang disuruh dengan hasil yang maksimal. Jalan masih panjang, hal yang baru tidak boleh ditolak, semua diterima dengan batas maksimal yang bisa diraih.

Sekarang maybe saya menjadi orang tersibuk  no. 5 di divisi IT, setelah IT Head dan 3 sub divisi head yang lain. Video conference yang seminggu minimal 2x, ngawasin training, berinteraksi dengan vendor, ngurusin server, arrange video conference dan meeting-meeting lainnya. Dengan English yang pas-pasan saya menjadi pentolan untuk korespodensi dengan pihak Doha, practice English secara langsung via video conference, dan untuknya mereka mengerti dengan pronounce yang seadanya. Karena perbedaaan waktu 4 jam antara Jakarta dan Doha, tentu saja sedikit memberi hambatan. Meeting pukul 8 pagi waktu Doha, artinya jam makan siang Jakarta, alhasil sering men-delay makan siang setelah meeting yang berkepanjangan dan beberapa issues yang harus di follow up. Yah makan jam 2 atau 3 deh kalo hari senin.

Ngomong-ngomong soal makanan, selama dua bulan ini, selalu dapat lunch box, Depot Tomang, bayangin aja 2 bulan tanpa henti makan begituan. Ngeluh? Yah sedikit sih, menu sama diputar-putar tiap minggu, sampai hafal hari apa menu-nya apa. Tapi keluhan dipendam saja, bagaimana tidak, salah satu vendor yang mengerjakan project, yang notabene orang India dan vegetarian, tiap hari hanya makan nasi putih + bumbu curry dan nasi putih + yoghurt. Tiap hari makan begitu dan dia telah menjalani project hampir setahun! Stop ngeluh! Kalau bosan makan, yah makan siang keluar aja =)

By the way, gossip-nya akan dikirim ke Doha minggu depan, visa-nya lagi di follow up, karena kunjungan pertama yang tidak jadi karena kesalahan birhtdate pada issued visa, kita lihat apakah kali ini akan berjalan lancar atau tidak. Mari ke Doha =))

Sunday, August 12, 2012

Dee, TCM Tong Fang

Akhir-akhir ini social media heboh dengan joke bertema klinik Tong Fang. Lelucon-lelucon yang dianggap lucu dengan selengean tentang penderita penyakit. Maybe bagi kebanyakan orang itu LUCU, but for me, orang tua saya pelanggan TCM (Traditional Chinese Medication), joke seperti itu membuat risih, mendengar/membacanya.

Cerita awal keluarga saya menjadi pelanggan TCM dimulai sejak Mei tahun 2012 ini. Pengobatan alternatif dengan herbal menjadi pilihan, setelah pengobatan dengan dokter di rumah sakit tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Hampir setahun lalu, mama saya di diagnosa Trigeminal Neuralgia. Trigeminal Neuralgia merupakan salah satu penyakit saraf cukup langka yang lebih cenderung menyerang wanita usia di atas 40 tahun. Pengobatan di dokter spesialis saraf di Indonesia, Malaysia dan Singapore tidak memberikan hasil yang memuaskan.

Pemberian obat (yang setelah saya selidiki hanya sebagai pain killer) tidak menunjukkan hasil. Obat diganti, tidak cocok ganti lagi, alergi ganti lagi, seperti kelinci percobaan oleh dokter-dokter saraf. Saya kasihan dengan mama saya, harus mengkonsumsi painkiller yang tidak baik buat tubuhnya. Info tentang Trigeminal pun mulai saya cari, mulai dari bertanya kepada teman-teman graduate S.Ked, tapi tidak banyak yang tahu tentang Trigeminal. Semuanya hanya memberi saran mengkonsumsi pain killer. Setelah saya selidiki, konsumsi zat kimia di obat tersebut secara berkepanjangan dapat menyebabkan 'ayan'.

Sedih, hancur... Saya kasihan dengan mama saya, akhirnya seperti saran dari @rezagunawan, saya mengajak mama saya untuk mencoba salah satu TCM di Singapore. Disana diberikan ramuan herbal, dan di akupuntur. Hasilnya juga tidak cepat, perlahan pain killer tidak dikonsumsi kembali.

Setelah sebulan, ada kabar bahwa di Johor Bahru, ada klinik TCM yang cukup terkenal, dan bayarnya 'terserah'. Dengan segala upaya, dan keinginan untuk sembuh, mama pun coba berkonsultasi disana. Setelah di akupuntur dan minum rabuan herbal, 2 minggu setelahnya keluhan Trigeminal udah tidak kambuh lagi. Amazing, bebas painkiller. Semoga mama tidak perlu lagi menanggung beban dan Trigeminal-nya tidak kambuh lagi.

Therapist-therapist di TCM bukanlah dokter cabutan. Mostly bersertifikasi dan mengeyam pendidikan sebagai dokter spesialis. Saya tidak tahu kondisinya di Jakarta, tapi dari beberapa dokter yang telah keluarga saya konsultasi mostly sudah bergelar Professor.

At last, mungkin saat ini TCM adalah bahan lelucon bagi kalian, karena keluarga kalian tidak ada yang sakit. Semoga keluarga kalian ga pernah sakit SELAMANYA.

Saturday, August 4, 2012

Aku Ada

Di setiap tawamu, aku ada
Di setiap senyummu, aku ada
Di setiap sedihmu, aku ada
Di setiap tangismu, aku ada

Di setiap tawaku, kau ada
Di setiap senyumku, kau ada
Di setiap sedihku, kau sirna
Di setiap tangisku, kau hampa

Ku semu, di hutan rimba
Ku hilang arah pegangan
Ku jemu, menanti asa
Ku tunggu raihan tangan

Kau nyata, tapi menjauh
Kau nista, semua kata
Kau renta, meniti langkah
Kau buta, tertutup harta


Tahukah bila aku ada?


Wednesday, August 1, 2012

From Bali with Love

Desiran Ombak Mengalihkan Dunia

Tak Peduli Keramaian di Pantai, Diriku Terasa Hampa

Terpaan Angin dan Ombak Membuatku Semakin Kuat

Disini Aku Sendiri

Sendiri Menunggumu

Hampa itu...

Hanya Kamu Pelega Dahaga

The Haven

Hehijauan Tak Mampu Menyejukkan Jiwa

Hanya Terasa Sepi

Ku Berdiri Kokoh di Tengah Kehampaan

Berasa Familiar, tapi Terasa Hampa

Ku Berjalan Sendiri, Mencari Jalan

Tanpa Tujuan, Tak Bisa Kembali

Ku Terus Bertahan

Bertahan dari Aral yang Menghadang

Bertahan di Tengah Kehampaan

Ku Kan Terus Bertahan

Mengejar Bintang Nan Jauh Disana

Menantimu

Tuesday, July 31, 2012

Dee, July rempong sedunia

31 Juli 2012, penghujung Juli penuh warna, hari rempong sedunia. Ceritanya manager Dee dari minggu lalu ada rencana ngirim Dee buat training di Doha selama 2 minggu, jadi visa-nya udah diurus sejak minggu lalu. Tetapi tiba-tiba hari ini baru dikasih tahu kalo jadwal terbangnya itu hari ini, soalnya training di mulai hari Rabu pagi waktu Doha. OMG! Belom siap-siap, kerjaan masih banyak, bagaimana ini. Visa udah issued, flight langsung di-booking oleh sekretaris direktur, allowance udah diurus, izin sudah diurus dan saatnya transfer knowledge ke kolega, soalnya banyak kerjaan yang harus Dee awasin dan selesaiin sesuai dengan deadline. Benar, ribet dan kerjaan banyak bener.

Ya udah deh, halangan pertama adalah uang allowance dari kantor, harus ditransfer ke rekening kantor, dan Dee belum buka rekening, yaudin deh bikin rekening dulu (kira-kira 30 menit), selanjutnya adalah dana segar kebanyakan di BCA, tapi cuma bisa tarik IDR 5,000,000.- per hari, yang di BNI dana pas-pasan, duit LADY GAGA belum di-refund! SIAL udah 4 bulan gitu! Balikin duit IDR 9,000,000!! Perampok si BigDaddy. Kalo tarik semua, artinya kena biaya rekening BNI bisnis-nya, soalnya ada minimal saldo, yaudin minta ditransfer cici dulu, nanti kalo dah pulang baru diganti. Masalah ini pun beres.

Nah, mau nukar bank note-nya kemana? Dana cash udah di tangan, saatnya jadiin ke USD, mau nukar di money changer, ternyata mereka tidak memiliki bank note sebanyak itu, yang kepikiran adalah Bank Panin, rate bank note terbaik, walaupun rate karyawan di kantor sama saja, tapi malas aja sih balik ke kantor lagi. Yaudah deh, minta bantuan Dendra buat tukar bank note di Panin. Masalah ini pun beres.

Masalah selanjutnya adalah packing, dalam waktu sejam, aku harus packing untuk keperluan business trip 2 minggu, ini pengalaman pertama buat Dee, walaupun mendadak, tapi tetep kudu eksis, alhamdulillah udah beli luggage 4 wheels baru kemaren, kalo ga apa kabar dunia persilatan ini. Packing pun berjalan lancar, dengan asal masukin pakaian kerja, celana kerja, jas, syal. Beberapa short pants, jeans, shirt, kaos, tidak lupa dalaman. Aku senang space lebar begini, apalagi dapat bagasi 32kgs :)) Masalah packing beres tepat pukul 14:00.

Setelah mandi, nunggu taxi, taxi-nya belum nongol juga, padahal udah 14:30, kesasar kayaknya. Yaudin nelpon ke pool-nya lagi, udah sejam yang lalu tuh bapak muter-muter, akhirnya tuh bapak nongol juga pukul 14:45, keluar ke Tanjung Duren, macet banget @_@ 15 menit susah bergerak, nyampe di gerbang tol Pluit 15:10, nyampe di bandara 15:20. Masalah macet pun kelar.

Selanjutnya check-in. Jeng-jeng... Masalah utama pun dimulai, aku belum tukeran nomor telepon dengan kolega, gimana mau menelepon dia? Yaudin deh, pas check-in kasih tahu officer-nya, barengin ama kolega, ternyata dia sudah masuk duluan. Setelah cek dan ricek, tanggal lahir di visa Dee tidak sama dengan di passport! MATEEEEK! *panik

Cepat-cepat telepon ke kantor, kata resepsionis-nya secretary lagi meeting dengan direktur, "MBAK INI PENTING MBAK, TOLONG DISTURB MEETING-nya" *berasa keren banget, ganggu meeting direksi. Mbak-nya pun panik sejadi-jadinya, mungkin dia teriak-teriak kali di ruang meeting. Yaudin, Dee nunggu kabar di counter Qatar Airways. Selanjutnya, boss Dee yang menelepon, suruh tunggu, lagi diurusin, untuk pengubahan dll. Tapi kayaknya tidak bisa, suruh pulang aja. Tunggu sebentar, si sekretaris telpon lagi, sudah tidak bisa diubah, suruh pulang. Ah, ga jadi ke Doha.

Tunggu dulu, masalah belum kelar! Iya rempong banget, sumpah deh.. Udah deh, Pukul 15:50, Dee keluar dari terminal 2D, cari taxi buat pulang kembali karena sudah disuruh pulang. Taxi melaju perlahan, Dee cuma ketawa-ketawa sambil ngobrol-ngobrol ama teman, goblok banget tidak mengecek tanggal. Tiba-tiba bos Dee telpon, disuruh sama direkturnya balik lagi ke airport, bijiiik, gimana muter balik di tol? Emang ada? Buru-buru kasih tau supirnya yang sudah jadi pembalap F1, cari-cari bolongan di jalan tol buat muter balik, alhamdulillah ketemu juga, dengan kecepatan penuh, sang supir membalap ke bandara. Tahu tidak sih, ternyata dia mau ngerampok, minta dibayar IDR 200,000! Ciiiih! Ga mau bayar semahal itu.. Mau ambil, kalo tidak Dee ga bayar sama sekali! Masalah dengan supir pun kelar.

Selanjutnya adalah recheck-in di Qatar Airways, Dee nelpon pak direktur, terus ngomong dengan supervisor Qatar Airways-nya, mereka tidak membolehkan walaupun head immigration Qatar sudah diberitahu dan akan memperbolehkan masuk ke Doha, walaupun dengan tanggal lahir yang salah, soalnya itu bukan data yang mandatory. Tapi, supervisor-nya minta bukti, statement hitam di atas putih. Kemudian, pak direktur kirim email ke Dee, statement dari pihak Qatar. Dee harus nyari tempat buat email + ng-print. By the way, pada tahu ga sih, di terminal international itu cuma ada satu warnet, yang nyediain satu laptop dengan harga IDR 65,000 per 30 menit pertama, dan IDR 35,000 per 15 menit berikutnya! Parah banget sih tarifnya!!! Ah mendingan ngopi di coffee shop, sambil nikmatin wifi gratisan, mumpung bawa laptop. Masalah email kelar.

Selanjutnya adalah ke kantor Qatar Airways, sesampai disana, jeng jeng jeng, cuma ada satu orang petugas, yang lain masih ngurusin flight QAxxx pukul 17:40, flight saya yang seharusnya, Dee disuruh balik lagi setelah buka puasa, kira-kira pukul 19:00. Masih 2 jam lagi dong, yaudin telepon boss kabarin semuanya, telepon cici, telepon bonyok kasih tahu all things, kemudian makan di Old Town Coffee, nikmatin wifi, siapin dokumen segala macam yang dikirimkan oleh pak direktur. Semuanya sudah direkap, biar lebih gampang ditunjukkan ke pihak Qatar Airways.

Pukul 18:40, Dee ke kantor perwakilan Qatar Airways, sudah rame banget, semuanya udah balik dengan seragam pink dan lagi buka puasa. Dee langsung ketemu dengan manager on duty-nya, sebut saja pak Q. Dee jelasin duduk perkaranya, Dee jelasin kalo head of immigration Doha telah memberikan izin untuk masuk, apapun yang bisa meyakinkan mereka untuk meng-allow, walaupun rasanya mustahil tanpa suatu statement tertulis yang ditandatangin. Dan hasilnya, bisa ditebak, mereka tetap tidak memperbolehkan Dee check-in flight 00:10, jadi kesimpulannya adalah Dee balik lagi ke Jakarta! :))

Nyari taxi lagi, 2x bolak balik bandara, nelpon sana-sini kasih tahu kalo tidak jadi berangkat. Bayangin besok gimana dikantor yah? Udah pamitan mau pergi lama, eh muncul lagi :))

Dear readers, selama ini kalo segala macam urusan jalan-jalan diurusin, tidak pernah beres, makanya Dee lebih prefer semuanya urus sendiri, soalnya Dee akan cek dan ricek berkali-kali, kalo diurusin, yah mau terima beres, malas ngecek dan tadi emang mendadak banget + kerjaan masih banyak, jadi yah masa ngurus visa bisa salah input tanggal?! :))

Buat pembelajaran? Belajar belajar ga pernah kapok, itu sih emang DEE BEGO! :))

Btw, buat yang nyepik-nyepik kalo Dee berimajinasi doang, ini tak kasih bukti yah :p

Seharusnya yang dibawah itu tanggal lahir, kayaknya petugasnya siwer gitu, masukin copy paste pake tanggal expire date passport, jadinya yah ga sesuai dengan tanggal lahir sebenarnya



Sunday, July 29, 2012

Dee, Bukan Terong Biasa

Masak, hal yang menyenangkan  bagi sebagian orang, tapi menjadi malapetaka bila salah memasukkan bumbu atau tidak sesuai dengan lidah pencicipnya. Sayur, tentu saja bukan menjadi bahan utama untuk makanan yang luar biasa. Daging ayam, ikan, kambing, sapi, babi, udang, kepiting, siput, escargot ataupun sumber protein lain akan selalu menjadi pilihan pertama bahan dasar masakan.

Kali ini Dee akan share resep masakan, bukan dengan daging-dagingan, tetapi dengan bahan utama Terong. Iya terong aka eggplants, pasti tidak pernah terpikirkan untuk menjadi masakan utama yang 'wah'. Atau kebanyakan orang merasa geli untuk makan terong yang benyek dan berminyak. Resep satu ini mungkin akan menjadi pilihan. Bereksperimen dengan terong, tentu saja bukan hal yang tabu, jadi jangan berhenti ber-explorasi dalam masakan.


Bahan :
10 siung bawang putih, haluskan
1/4 buah bawang bombay, haluskan
1 buah jahe (kira-kira 5cm), haluskan
10 buah cabe merah segar, haluskan
2 batang daun bawang, potong kecil
50 gram daun ketumbar (daun sop), potong kecil
200 gram Terong, potong dengan ukuran yang sama
Kecap (shoyu), secukupnya
Minyak Sayur, secukupnya
Garam, secukupnya
Black pepper, secukupnya


Cara membuat :
1. Garami terong yang sudah dipotong, diamkan minimal 30 menit, kandungan air dan getah dari terong akan keluar dengan sendirinya. Setelah juice dan getah dari terong keluar, cuci dengan air hingga bersih, agar terong tidak terlalu asin, tiriskan hingga air tidak bersisa di terong.

2. Panaskan 5 sendok makan minyak sayur di wajan, gunakan api kecil, masukkan bawang putih, bawang bombay, jahe, dan cabe merah segar. Dengan api kecil, masak selama 10-15menit hingga sauce menjadi kental (catatan gunakan api sangat kecil agar bawang putih dan bawang bombay tidak terbakar). Tiriskan.

3. Panaskan 5 sendok makan minyak sayur, goreng terong yang sudah kering dengan api kecil selama 10 menit, balik sesekali biar merata. Setelah terong berwarna coklat keemasan, masukkan daun bawang dan daun ketumbar, masak selama beberapa menit. Campurkan dengan bumbu yang telah dimasak sebelumnya, aduk perlahan. Tambahkan sedikit garam dan black pepper untuk menambah citarasa.

4. Bukan terong biasa siap dihidangkan.

Silahkan mencoba! =3

Saturday, July 28, 2012

Dee, Baikohken


Location: Baikohken (Takashimaya Branch)
Ngee Ann City Tower A 391A Orchard Road B2
Takashimaya Food Hall Unit B2-01-04
Singapore 238873



Charsiew Pork with Tamago Egg (SGD 19)



Itadakimasu. As usual, I like to try Ramen restaurant in any style at Singapore, so I was try Baikohken (hope I spell it in right way). This time, I will to try another style on reviewing (give me comment, if you don't like). ^^

Menu : Shio Charsiew Ramen with Tamago Eggs

Soup : (3/10)
Hmm... I think that I ordered pork soup, but taste like chicken soup with lots of MSG! How come Singapore restaurant served food like this? Very poor, I don't like it.

Noodles? Why not ramen? : (4/10)
I think that I ordered ramen, not instant noodles. Looks like Maggie, and Indonesia Indomie, taste better..

Porks : (6.5/10)
Not very tender, Marutama still the best! Bit salty ( I don't like salty food), but fresh meat.

Egg : (7/10)
The egg was very good, perfect cook Tamago, very tender, taste good.

Beansprouts : (5/10)
I told you all before, the best beansprouts at Ramen Nation, and this one with the price, the beansprouts is not good at all

Portion : (7/10)
The portion is really BIG, but unfortunately poor taste and not cheap also (SGD 19), but I got very big pork slices meat! The bowl was jammed, full with pork and noodles. It was very difficult to flip anything and fear of the soup spilling over the sides of the bowl or the eggs tumbling down, honestly they do better to use bigger bowl! The bowl is too small. You need extra minutes to finish the ramen.

Service : (6/10)
Just like another restaurant at Singapore, long queue, and not easy to find place to eat.

Price : (5/10)
SGD 19, poor soup and noodles, many restaurants better than this place.

Overall (5.5/10)
Honestly this is another rarely restaurant, serve real thing bigger than the picture! For Ramen costed about SGD 19, they must improve many things, especially on their soup and noodles, not using MSG and buy bigger bowl. If their cost about SGD 10 like Indonesian Ramen Restaurant, maybe still can cosider to revisit, but for SGD 19, I think better say goodbye (/.\)


NB : They didn't serve hot Ocha! I don't know why...