Wednesday, January 1, 2014

Goodbye 2013

Treeeeeet... TREEEEEET...
Duuaaaaaar... DUAAAAAAAAR...

Suara petasan dan terompet mewarnai pergantian tahun di Jakarta, seperti seluruh warga Jakarta tidak mau kalah ikut serta dalam polusi suara berjamaah ini. Tidak ada yang boleh marah tanpa terkecuali, walaupun sakit..

YES! sakit... SAKIT.

Sedih sekali pergantian tahun dilewatin dengan kondisi sakit, semua rencana BUYAR...!!! Jadilah menghabiskan malam tahun baru dengan terkapar di kasur, sakit karena kehujanan...

Tetapi untungnya masih ada temen yang ngajakin new year eve dinner di Shabuya, dengan badan agak kurang sehat, meluncurlah ke Central Park, dengan kepala 'agak' pusing. But, its new year eve, I should try to enjoy it, yang seharusnya hari ini jam segitu lagi party di apartment temen... Yeah, i miss the party cause of the headache and didn't want be worst, I realize that need more rest.

After new year eve dinner, time to go to sleep, rest on my bed, scrolling twitter to get latest update of new year party in the town. Yeah, I'm enjoying new year eve by myself on my bed. And after count down to 2014, I went to sleep! AMAZING?!


Beginilah cerita ngenes tahun baru dengan kondisi sakit. KARMA is exist, tahun lalu ngeledekin orang, tahun ini kena batunya! :))

Happy new year 2014 everybody, may all human being life happily ever after!

Saturday, November 23, 2013

Dee, First Business Class Experience with QR


Yes, I was upgraded to Business Class, flight from Doha to Jakarta, 8 hours experience was wonderful. 

No, I don't have enough money to upgrade to business class, neither my company will not pay for me. I got it free from Qatar Airways... It is my lucky day of the year! x)

Glass of water

Mushroom Soup

Nuts, Tomatoes, Potatoes, Humus

A bowl of fresh fruits



Salvatore Feragamo, Toiletiers 



Dee, Doha experience with Oryx Rotana

This was my second time have business trip to Doha, and as always will be placed at Oryx Rotana Hotel, Doha. The location is nearby airport and not too far from Al-Mathaf area, which one of our QNB Head Office located. 

This second experience with Oryx Rotana, Doha, still having great experience, wonderful services, clean room, and get a big hotel room. Yeah... I am enjoying it, pretty much... 

The room was good, food was wonderful, free breakfast is a must, lots of kind of food. It is time to try middle east food, and I'm loving it x)

Enjoy your stay at Oryx Rotana

Corridor

Room


Dining Area

Briyani Rice, Olive, Turkish Bacon, Fried Potato, onion, tomato, garlic, coriander 


Paprika, Smoked Sausage, Olive, Smoked Chicken, Humus, Veggies

Fresh Strawberry



Monday, October 14, 2013

Dee, Zenbu - Kota Kasablanka



Perdana, menginjakkan kaki di negeri antah berantah, Kota Kasablanka yang ngehits itu..
Kesan pertama... wuiiiih gede juga mall-nya... Kesan kedua... Loooh kok konstruksi-nya ngak pol-polan, kayaknya ada sesuatu yang kurang... Dan setelah masuk mall-nya, ini mall kok sempit banget, sirkulasi udaranya ngak bagus, geladaknya rendah banget dan penyusunan tenant-nya kok berantakan. Iiih bikin gampang nyasar jugaaak! Nyebelin...


Akhirnya mutar muter nyari restaurant untuk bersantap malam, akhirnya menjatuhkan pilihan pada Zenbu. Yah we are craving for Donburi.. Let's eat at The House of Mozaru (Donburi)..

Restaurant-nya quiet cozy, dengan interior design yang japanese abis... Hmm.... Tapi lukisan dan gambar sepanjang dindingnya kelihatan kurang hidup karena dikejar target penyelesaian yang mungkin terlalu ketat. At least,the interior designer shows that s/he has capability...


Kali ini kita cukup lapar, sehingga pesan makanan agak membabi-buta... Iya mah, anakmu lapar banget, ga cukup kayaknya kalo cuma makan nasi semangkuk. Porsi makanan lumayan gede dengan harga yang affordable. Kali ini pesan chicken fried curry donburi and fried softshell crab. Nom nom nom...


Chicken curry dengan bumbu yang meresap. Nasinya ditanak dengan baik, tidak terlalu lembek atau keras. House of Mozaru, their speciality.. Best donburi don in town.. Untuk service is so so..






Price : 7/10
Taste : 7/10
Service : 6/10
Interior : 710

Overall : 6.75/10


Sunday, October 13, 2013

Doha, 47 derajat

Ini perjalanan kedua di Doha.. Aduh untuk hotel di-booking untuk tanggal 29 June 2013, artinya nyampe tanggal 29 June pagi ga bakal bisa check-in, kudu nunggu jam 2 siang.. Masalah besar ini, jam 5 pagi udah nyampe, diriku mau kemana sampai jam 2 siang?!

Lucky me, punya temen di Doha, jadi bisa numpang dulu, soale konfirmasi guest services hotel di bandara, jam segini belum bisa check in, belum ada tamu yang keluar. Yaudin, telepon temen minta dijemput, numpang dulu buat mandi dan tidur sampai tengah hari..

Rumahnya ngak terlalu jauh dari bandara, dekat Lulu supermarket. Yaudin deh, nyampe, buka baju, kamar mandi dan tidur berdua .....  *di kamar yang terpisah tentunya :))



Berada di Doha pada bulan Juni-Oktober adalah cobaan, cobaan dunia kerja sesungguhnya. Bayangkan saja, Jakarta panas ndak menurut Anda? Panas kan???! Bohong kalau bilang Jakarta yang 29-33 derajat Celcius itu ndak panas, tapi siksa panas Jakarta tidak ada bandingannya dengan di Doha.. Bayangin aja rata-rata adalah 45 derajat Celcius pada bulan Juli kemarin! IYA, diulangin lagi EMPAT PULUH LIMA DERAJAT CELCIUS panasnya..

If you said "Size doesn't matter', its a bullshit dude! See, how big the sun in Doha! SIZE DOES MATTER DUDE! The highest temperature when I was in Doha is 47 degree!


I was like a roasted chicken in the gulf, fuiiih... even on 8 PM, still 40 degree man!
It is a very extreme experience, dare you to try! Please don't..


Anyway I'm still looking forward for my next trip to Doha, next new experience, learning new Arabic culture, survive on extreme temperature and I'm still alive. Might be (hopefully), someday I will have experience to stay longer in Middle East counties (red : working at there).


Khalaaas..

Saturday, October 12, 2013

Terlanjur Muda

Pernahkah Anda merasa terlalu tua untuk melakukan sesuatu?
Pernahkah Anda merasa sudah terlalu untuk belajar?
Pernahkah Anda merasa sudah terlalu tua untuk memulai karir?
Pernahkah Anda merasa sudah terlalu tua bla bla bla?

Kebanyakan orang merasa momok menakutkan bila ditanyakan soal umur, karena mereka takut untuk dibilang "tua". But, I have another problem now, since I'm too young to be a professional employee. Iya, umur dipermasalahkan saudara-saudara, karena terlalu muda. Unreasonable banget!


Saya juga punya cerita tentang seorang teman A yang naksir berat dengan teman saya yang lain dengan inisial B. Si A dan si B ini akhirnya dipertemukan oleh saya, si B memang jauh lebih tua dibandingkan si A, lambat laun si A mulai jatuh hati kepada si B yang memang lebih dewasa, dan sampai suatu saat... duaaaar... Si A menyatakan isi hatinya kepada si B, tetapi B menolaknya dengan alasan umur... Si A terlalu muda..


Untuk konsep sebuah hubungan relationship, hal ini mungkin bisa dimaklumi, terutama bila si cewe lebih tua dan seleranya bukan kepada brondong-brondong. Tentu saja juga si cewe tidak ingin menafkahi seseorang yang lebih muda darinya. Untuk hidup sendiri aja kadang kudu ngirit, nanti kalo pacaran dengan cowo yang lebih muda harus nombok? Kalau sudah tidak suka dengan yang brondong sih, cinta tak bisa dipaksa, menolak itu wajar. Tapi kalo sama-sama suka dan okay, yah lanjutkan aja =3


Nah, bagaimana dengan konsep dunia profesional? Terlalu muda untuk mendapatkan gaji yang lumayan? Kemudaan untuk melakukan suatu pekerjaan? Terlalu muda untuk memikul tanggung jawab? Memang banyak orang yang berumur muda, dan tidak akan bisa diberikan tanggung jawab. Tetapi, tentu saja ada "special case", yang muda yang berani, yang muda yang produktif, dan yang muda yang beraksi.


Atasannya langsung tentu saja bisa menilai apa yang bawahannya kerjakan setiap hari, bagaimana pekerjaan yang dilakukan sesuai atau tidak dengan kebutuhan perusahaan. Dan tentu saja bisa menilai, apakah bawahannya sudah bisa dinaikkan jabatannya, atau sudah bisa di-propose untuk meng-lead, tapi untuk kasus-kasus anomali, terkadang harus melalui proses HR Committe, dan menjadi putusan direksi. Umur dan pengalaman kerja, semuanya di normalisasi, tidak dilihat anomali, keunggulan seseorang.


Penilaian normatif secara general tentu saja pada 'masa kerja' dibandingkan sumbangsih yang lebih baik. Banyak atasan juga segan untuk memberikan kesempatan kepada yang lebih muda, karena ada senior-senior yang belum mendapatkan hak lebih. Senioritas birokrasi, tentu saja ADA. Tetapi sebagai pemimpin yang lebih profesional, seharusnya seorang atasan harus dapat memberikan semangat, agar seorang yang lebih senior juga dapat bersaing dengan yang lebih muda, yang lebih memiliki ide-ide fresh untuk pengembangan diri. Bukan bermaksud tidak memberikan kesempatan yang lebih baik kepada yang lebih senior, apabila tidak dapat berkembang, kasihan juga kan yang junior, terus menunggu.


Kesempatan inilah yang membuat para junior, gemar untuk banting setir karena tidak adanya kesempatan berkembang. Resign adalah salah satu jawaban agar tidak terbelenggu dan terikat dalam ketidakpastian masa depan karena 'menunggu' tersebut. Jadi, tak heran banyak yang setelah 1-2 tahun segera lompat ke perusahaan tetangga, yang (mungkin) memberikan kesempatan di saat yang sekarang (mungkin) sudah sulit untuk mendapatkan kesempatan berkembang.


Tak jarang pula, apabila yang junior lebih diberikan kesempatan untuk berkembang, sang senior akan berulah dengan uring-uringan, menjadi burung 'beo' perusahaan, tentang atasannya yang tidak pernah memberikannya kesempatan, atasan yang pilh kasih atau manajemen yang tidak pernah 'melihat' dirinya yang telah lama bersumbangsih. Dilema..


Muda di umur, muda di pengalaman, belum tentu seorang karyawan tidak (lebih) profesional dibandingkan dengan seniornya. Pribadi masing-masing, linkungan, keluarga, pekerjaan akan membentuk pribadi yang berbeda di lingkungan kerja. Target pribadi, harapan masa depan, priuk nasi dan saldo tabungan adalah secercah harapan. Jadi, paling muda dibandingkan kolega di kantor? SIAPA TAKUT?

Thursday, August 8, 2013

Dee, Anak Kos Vs Mie Instant

"Eh lo anak kos yah, sering makan indomie yah?"

Kalimat itu sering terlontar oleh kebanyakan orang, entah sejak kapan stereotype anak kost diidentikkan dengan indomie atau mie instant.. hmm.. diri pribadi sih berusaha menolak hal tersebut karena emang tidak makan mie instant dalam kurun waktu yang cukup lama.. iya 3 tahun! 3 tahunan lalu makan sekali karena.. hmm.. tidak ada makanan lain yang dijual di warung tersebut, kalo makan sekali itu dianulir, kira-kira telah 5 tahun lah tidak pernah merasakan mie instant lagi..

Kangen? Ngak sama sekali... Malah bingung kenapa mie instant dipasangkan dengan anak kos. Murah? Ndak juga kan yah.. Apalagi kalo beli di warung, murahan makanan warteg kan?

Gaya banget ngomongin makanan warteg lebih murah, makan warteg aja sakit perut mulu :)) Yeah, my stomach is too picky for food sanitation level. Its very hard to me, to eat everything for street food. I want to try, but I'm not able...


Anak kos diidentikkan dengan uang jajan pas-pasan yang dijatahin oleh orang tua, bahkan tidak cukup bagi sebagian orang untuk makan dengan baik dan benar sehingga mie instant dijadikan solusi makanan substitusi. Yah, makanan substitusi seharusnya yang levelnya sama ( kandungan gizi) bukan yang jomplang, antara mie instant 100gr dibandingkan dengan nasi 100gr, tempe, tahi, ayam dan sayur. Kandungan yang berbeda seharusnya disadari bahwa mie instant bukan makanan substitusi yang baik.


Mie instant sebenarnya juga dapat dikombinasikan dengan berbagai bahan makanan seperti sayuran, telur, kornet, bakso, ikan dan lain-lain agar memiliki kandungan gizi yang cukup pula. Sayuran arfisial juga telah dilengkapi di sebagian merk mie instant, sehingga di-'claim' lebih sehat. Tetapi alangkah lebih baik, kita mengkonsumsi makanan yang tidak instant. Hindari makanan serba instant, misalnya mie instant, bubur instant, sosis instant dan yang lainnya. Usahakan untuk makan dengan bahan makanan yang fresh sehingga kita akan yakin bahan makanan tersebut tanpa bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan apabila di-konsumsi secara berkala.


Makanan yang dapat bertahan lama dengan kadar pengawet juga diidentikkan dengan makanan yang lebih murah dibandingkan makanan yang fresh, sehingga anak kos akan memilih untuk membeli/memasak makanan yang instant karena lebih ringkes, tidak perlu ribet untuk motong-motong, ataupun nyimpan di kulkas. Segala makanan yang instant adalah hal yang hakiki *cailah...


Tinggal sebagai anak kos, tidak berarti makan serba kekurangan juga, atau serba indomie. Dan mostly teman-teman yang satu kampus juga demikian, sepengetahuan pada saat itu tidak ada anak kos yang benar-benar hidup susah atau makan aja susah. Paling cuma ngirit doang demi beli smartphone, atau demi jalan-jalan atau sekedar nraktir teman. Mungkin karena 'ngampus' di universitas swasta yang tidak murah, setidaknya yah tidak ada orang yang tidak mampu 'ngampus' di sini, pikirku.

Dan barulah stigma pemikiranku SALAH, SALAH selama ini. Salah satu teman menceritakan bahwa ada yang 'ngampus' di sini dengan kondisi hidup yang agak memprihatinkan. Makan sangat ngirit dan kadang susah makan, terkadang menerima belas kasihan dari teman sekos untuk memberinya makanan. Jeng jennng... Cukup terhenyak.. Masa sih yang 'ngampus' di sini masih ada yang hidup tidak cukup? Untuk biaya kuliah saja, tidaklah murah, kenapa masuk ke sini? Kenapa tidak memilih universitas lain yang lebih murah?

Ah entahlah, semua punya pilihan hidup, we don't judge...


Dee, 24yo, anak kost dan ndak makan mie instant :3 


Thursday, July 25, 2013

Dee, Fasting Month

Udah tidak berasa, bulan puasa sudah memasuki minggu ketiga. Sudah berapa banyak ajakan buka bersama? Sudah berapa kgs berat badan yang hilang? Dan sudah berapa kali puasamu bolong? hmm... Jangan dijawab keras-keras cukup di hati saja kawan, aku ndak mau tahu kok...

Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, bulan penuh ibadah, bulan penuh kesabaran dan kesadaran. Yeah, teorinya it is very beautipoool yah... But, unfortunately hal ini agak berbanding terbalik dengan realita... Banyak yang smpang sensian, gampang marah, malas-malasan akibat kurangnya nutrisi dan suplai oksigen ke otak..

Lihat saja di jalanan iukota, srlama ramadhan tidak ada perubahan tingkah laku pengendara, kirain bisa lebih kalem, eh oh eh banyk yang semakin beringas apalagi menjelang dan sesaat setelah berbuka... Ironis...

Banyak yang tidak sabar untuk segera puang agar bisa berbuka bersama dengan keluarga ataupun ingin taraweh tetapi melupakan cara bersikap sebagai manusia seutuhnya.. Menyedihkan...


Di bulan yang penuh berkah ini hendaknya kita belajar untuk lebih bersabar, lebih berkesadaran, lebih bertanggung jawab, dan berada di jalan kebenaran. Berpuasa bukan berarti boleh lebih malas, dapat menghindari tanggung jawab atupun minta diberikan keringanan melakukan sesuatu. Berpuasalah dengan baik dan melakukan aktivitas seperti Anda tidak berpuasa, atau ketika berpuasa bersikaplah seperti Anda berpuasa. Hidup akan terasa lebih meaningful.

Sunday, June 23, 2013

Dee, Sorry for the Haze

Dear all South East Asian Countries, we apologize for unpleasant condition in this few days..

Unpleasant bad weather and environment caused by our country..

Haze covered all over your country, haze makes all of you very hard to breath, uncomfortable to do any routine of work. We are sorry.


We are apologizing for everything.



As Indonesian, I am not deny, the haze comes from my hometown, Riau.
The haze comes from new plantation in summer/dry season, no rain to reduce the haze.


Unfortunately, do you know who should take responsibility for this bad environment?
Who start the bad environment with open palm plantation in our green environment before?
Who the man of destroying our forest in Bukit Barisan?
Who start destroying our forest and make it as plantation?
Who give our local to destroy and kill our rare animal in the forest?
Who should take responsibility for killing tiger in our forest?
Do you use palm oil for cooking?
Do you know who change coconut plantation become palm plantation?
Do you know who change our forest become bird nest plantation?


If you still know nothing, please google it, and don't blame Indonesian.
Our family in hometown, should struggle it every years although we don't get anything from that.



Sincerely,
Dee - Indonesian who grew up in Riau,
who ever saw tiger in our forest,
who had play with colorful crab in mud,
who miss see eagles fly in the sky,
Everything is gone....


You start to change, you got the KARMA.
Dear Singaporean, Malaysian.... Sorry for the haze

Tuesday, June 11, 2013

Dee, Ikkudo Ichi Ramen, PIK

Lia was in town, so we arranged to meet and had lunch together. We are craving for ramen, and ended at Ikkudo Ichi Ramen.

The restaurant is quiet busy, and full of customers, but not long queue as Ikkousha Ramen. The negative point of their service is no wifi in restaurant. They don't want their customer to stay too long in their limited seat! :p


I ordered tonkotsu ramen with extra tamago. I asked them to make the tamago bit raw, but ended with fully cooked, bit disappointed. We also order pork cheeks for appetizer. The pork cheeks was good, very lovely meat, and melted in my mouth. With their price, it is so affordable if compare with Shantouka Ramen, best ramen in town, Ikkudo offers slightly cheaper than Shantouka.


And back to the main dish, the ramen is good. Their soup is also good, not too oily and tasted as fresh bone with the meat, I like it very much, compare with Ikkousha with extra lard and oily soup, IMHO Ikkousha is not recommended ramen restaurant.


Overall for Ikkudo, I give 7.5/10, please try if you are in PIK area, better than Ikkousha Ramen.