Thursday, January 6, 2011

Siapa bilang gue katro?

Daerah kampung dekat Jonggol ini belon digusur real estate. Pohon bambu masih banyak, juga aneka pohon buah buahan ...... Salah satu kebon paling besar milik wak Marub. Dikebon itu banyak pohon buah, termasuk pohon jambu air yang ranum penuh buah yang menggoda. Kebon itu terawat, rutin disemprot hingga bebas hama, termasuk semutpun tak berani mendekat.

Namun ada hama yang lebih parah, hama itu disebut Suryani. Seorang gadis bahenol berusia sekitar 16 tahun namun sedikit udik dan alay. Dia kerap ada direrimbunan dahan jambu bermodal cabe + garam ulek sebagai cocolan jambu. Pasangan duetnya tak lain Nurijah .... 2 gadis ini rajin sekali diam diam makan jambu air gratis.

Jambu air warna hijau kemerahan itu memang manis sekali, kalo disupermarket 6 buah bisa 25 ribuan, dan duo Suryani dan Nurijah sudah memakan lebih dari 15 tiap orang, gratis pula. Sambil melet melet lantaran rasa pedas & asin, suryani nyerocos .... " Ijah lu tau ga cowo sama cewe cakep yang temen gw di pesbuk, dia masa' mau liburan kemari lho ". Nurijah melirik sambil ngusap bintik keringat diatas bibirnya lalu merepet " ehh Sur ... Lu norak banget, kan udeh gw kate, manggil gw Nuri ... bukan Ijah .... Malu noh sama busway, hare gene Ijah, ga eksis tauk " sungut Nuri, lalu dia kembali bicara " gw tau tuh yang emaknye asal Hongkong ye ? Entu pan adek kakak yak ? Masa iye orang kaya gituh mau liburan dimari ? "

.... Suryani menarik nafas, sambil memetik jambu yang begitu banyak mengelilingi mereka ia berceloteh " iye Nur ..... Mariana sama Victor .... Adek kakak, dua duanye udeh kuliah. Lha mereka tinggal di Singapur kan ? Wajar donk mau liat kampung " ..... Nuri melempar serpihan jambu kearah Suryani, " jangan panggil gw Nur, kampungan deh ... NURI .... Susah amat sih " Yah itulah Nurijah yang merasa emaknya terlalu konyol memberinya nama seperti itu, disaat dia lahir di era pertengahan 90an , Suryana sudah maklum betapa sahabatnya ini pingin banged dibilang anak gaul. Ga munafik Suryani-pun demikian tapi soal nama dia ga perduli.

" Waaahh asik juga kalo mereka kemari, kaya apa ya aslinya mereka ?? " Ujar Nuri sambil membayangkan dua sosok tampan & cantik yang bakal datang ke kampung mereka.

Diwarnet dua gadis itu begitu HERI alias HEboh sendiRI .... Sahut sahutan di wall dengan Mariana dan victor sungguh moment sakral, mereka kenal sudah 2 tahun lebih. Dan bagi Suryani & Nuri, sepasang kakak beradik itu tidak sombong. Sekali Mariana mengirimkan kaos khas Singapore pada Suryani dan Nurijah, dan sejak itu pula kaos itu begitu menjadi andalan disaat saat penting, kondangan, pemakaman, rujak party bareng teman sekelas dan segala urusan lain ....

Kaos bertulisan I LOVE SINGAPORE itu selalu wajib pakai. Dan tiap kali, keduanya berkisah asal muasal kaos itu pada tiap orang yang dikenalnya dikampung itu, " ini dari temen pesbuk gw lhoo, orang kaya di luar negri " ujar duo sahabat itu dengan noraknya.

Dari obrolan mereka di facebook akhirnya disepakati Mariana & Victor akan datang 2 hari menjelang natal. Kebetulan pas dengan masa liburan akhir tahun. Ayah mereka asli Indonesia dan keduanya akan berkunjung kerumah nenek mereka didaerah Kebayoran. Dan sekaligus berlibur ke Jonggol, kampungnya Suryani & Nurijah.

Sudah dua hari Mariana & Victor ada di rumah neneknya di Jakarta, dan hari ini mereka akan tiba di Jonggol untuk menginap. Suryani yang anak tunggal nampak heboh menata kamarnya yang sederhana. Tempat tidur besi jaman uwaknya terlihat nyaman dengan kelambu yang sudah dicuci, lalu ada lemari pakaian antik dengan cermin dipintunya, juga meja untuk dia belajar.

Enyak Suryani sebenernya bingung, dia ga tau bagaimana harus menyambut orang kaya dirumahnya yang sederhana, namun demi putri tunggalnya ia pun setuju dua kawan. Suryani menginap sehari dirumahnya. " Suuurr !!! " Teriak enyak dari teras, " onoh tehnya elu siapin dimeja barengan same singkong rebus , entar temen lu dateng udeh pade rapi " Enyak yang sedang siap memasak nasi uduk memerintah dengan lantang. Suryani berlari kedepan dengan wajah cemberut, " nyak ... Masa singkong sih ?? Aye malu nyak .... " Ujar Suryani protes. Enyak menatap jengkel " pale lu bau menyan ? Lu kate bapak lu direktur pakek beli roti segale ? ". Melihat nada suara enyak yang molai cempreng Suryani buru buru ngacir kedapur, daripada enyaknya berubah pikiran. Tak lama terlihat sebuah sedan mulus masuk kampung. Sedan mewah berwarna putih ...

Gadis dengan tinggi 168 cm, berkulit bersih memakai kaca muka ( kacamata yang gede banget ) berusia 18 tahun turun dari mobil .... Memakai jeans dan kaos masa kini. Dari sisi lainnya turun seorang pemuda tampan memakai jeans dan singlet warna biru muda dengan gambar cartoon khas Jepang.

Suryani tiba tiba merasa minder, dari balik jendela dia melihat dua kawannya itu benar benar figur anak gaul yang kaya. Sedang dirinya hanyalah gadis kampung yang sederhana. Setengah menyesal dia meng-iya-kan dua kawannya itu berkunjung, bahkan menginap. Namun apapun penyesalan itu, toh keduanya sudah ada didepan rumah. " Sialan Nurijah, belon dateng juga tuh bocah, pigimaneh kabar gw nih " pikir Suryani sambil berkaca sejenak.

" Halooo Suryani yaa ? " Sapa Mariana ramah, dipeluknya Suryani dengan hangat, lalu Victor ikut juga memeluk Suryani ..... Gadis kampung itu grogi, seumur hidup baru kali ini dipeluk cowo .... cakep pula walo rada rada bau ketek.

Selanjutnya mereka sibuk menelusuri jalan kampung. Pohon bambu yang gemerisik ditiup angin menyuguhkan suasana khas yang ga bakal ada di Singapore. Nuri terlihat diujung jalan .... Berlari lari bagai maling disiang bolong. Dandanannya sangat menyiksa mata, rambut dikuncir dua, kaos ' I LOVE SINGAPORE ' yang sudah mulai lusuh, sendal jepit pinky dan jeans belel warisan kakaknya yang udah merit. Saat bersalaman dengan Victor, Nuri grogi sekali, akibat salah tingkah dia pun salah langkah, dengan sukses gadis ABG itu nyungsep di comberan deket kebon wak Marub. Victor berniat membantu namun apa daya ia pun ikut nyungsep ke comberan. Dua makhluk itu berlumur masker lumpur ....

Suryani tertawa puas sedang Mariana merasa jijik, karena bau lumpur itu cukup menyengat. Ga jauh dari situ ada sungai, airnya masih jernih. Dan victor berniat membersihkan badannya disungai itu sekaligus mencuci kaos singletnya yang kena lumpur. Nuri pun melakukan hal yang sama, karena kalau dia pulang dalam keadaan kotor, bisa bisa dia dipasung emaknya.

Sementara itu Mariana bermaksud merendam kakinya di sungai, dia sibuk mencari posisi duduk yang pas, mirip ayam siap mengerami telur, setengah membungkuk ia membersihkan lokasi yang nyaman untuk duduk, namun kesialan ternyata baru saja dimulai tiba tiba 'byuuurrrr' dia terjungkal ke sungai, Suryani kecentilan sok nyoba selop Mariana lalu limbung karena ga biasa dan dengan sukses menubruk Mariana yang ada dibibir sungai. Mariana megap megap kaya ikan mas koki, dan Suryani megap megap karena ada eek ayam kena bibirnya pas dia nyungsep dipinggir sungai.

Keempat ABG itu amburadul, namun tekad makan jambu gratis sudah tak tertahan, apalagi Mariana dan Victor yang sampai bego dijejali kisah jambu manis & gratis tiap kali wall to wall sama duo Suryani dan Nuri.

Didahan pohon jambu itu keempatnya sangat khusyuk makan jambu ..... Tidak sadar wak Marub sedang mengawasi .... Wak Marub yang kikir hari itu kegerahan, hingga tidak bisa tidur siang. Melihat ada serombongan bocah dipohon jambunya, timbul rasa marahnya. Memakai sarung yang dilinting sampai betis, kaos oblong dekil ..... ia membawa sapu lidi. Wak Marub mengendap endap mau mengagetkan bocah bocah itu.

Pohon jambu itu tingginya 3 meter, 1 meter batang kokoh dan 2 meter sisanya berupa dahan yang rimbun. 4 bocah itu duduk membelakangi rumah uwak, dan tak sadar uwak sudah ada dibawah pohon tepat dibelakang mereka. Victor begitu ambisius menyantap jambu air nan manis itu, tiba tiba dia setengah menoleh ke belakang dan meludah .... " Ihhhh ada uletnya " kata dia sambil meludah lagi beberapa kali. Yang jadi masalah semua ludah Victor mendarat sempurna dipipi dan jidat wak Marub yang sedang mendongak kesal melihat jambunya dijarah dengan biadab oleh anak anak itu. " TUKK !!! " Sebongkah biji jambu mendarat sukses dihidung uwak, membuat uwak tak mampu lagi menahan marah .....

" Hoiiii maling ya kalian ?!!!! Kurang ajar !!!! " Pekik uwak marah. 4 ABG yang ada diatas pohon tersentak kaget, bahkan tas Mariana yang berisi album foto terjatuh dan lagi lagi mengenai wajah uwak yang tengah mendongak sambil melotot. Nuri langsung melorot turun diikuti Victor dan Mariana. Mereka lari pontang panting ..... Uwak mengalungkan tas milik Mariana dilehernya dan bertekad mengajar bocah bocah itu dengan sapu lidi. Suryani yang belakangan turun merasa tak rela tas Mariana dibawa wak Marub, ia bermaksud merenggut tas itu, namun sialnya ia kesandung akar pohon dan jatuh tersungkur dirumput. Namun saat terjatuh ia serabutan mencari pegangan dan sarung wak Marub-lah yang terenggut tepat saat uwak bernafsu memburu 3 bocah yang lari didepannya " SROOOOTTTTT " sarung uwak terlepas dengan sukses dan kebiasaan buruk uwak adalah tidak pernah memakai daleman. Segera saja wak Marub tersungkur setengah bugil. Suryani tak menyianyiakan kesempatan, dengan kejam dia menarik tas yang tadi tergantung dileher uwak

Mariana yang ternyata ugal ugalan kembali kearah Suryani dan uwak tanpa ampun langsung memotret pantat uwak yang tengkurap diatas rumput dengan HP-nya " Nah kalo uwak ngaduin kita, foto ini aku pajang di kelurahan " ujar Mariana merasa menang. 4 ABG itu berlalu santai diiringi caci maki uwak yang marah namun takut fotonya dipajang dikelurahan Jonggol.

Sampai rumah Suryani para ABG itu diberondong omelan oleh enyak Suryani " bujut dah !!! " Pekik enyak dari pintu teras. " Ni bocah pada nyelem diempang apa abis kejar kejaran ame setan heh ! ........ Astaga baunye kaya jamban, muke pade kaya lutung, dari maneh ?? ". Enyak menyuruh mereka mandi disumur samping, dan 4 bocah itu tidak membantah. Rumah Suryani khas rumah kampung, lantai semen nan mengkilat, teras teduh dilengkapi bale bambu, didepannya ada halaman sekitar 4 meter penuh dengan tanaman bunga dan sebuah pohon kamboja bali berwarna pink. Dan dibale bambu itu sudah terhidang nasi uduk lengkap dengan ayam goreng & sambal kacang.

Ayah suryani menjadi pengawas toko didaerah Jakarta kota, dan ia pulang setiap akhir Minggu saja. Suryani sebagai anak tunggal jarang pergi ke Jakarta, enyak ga kasih ijin, takut kenapa kenapa katanya. Dan enyak sendiri selalu mabok kendaraan, jadi dia ga akan pergi kalau tidak terpaksa. Akibatnya Suryani sedikit katrok alias ndeso.

Suryani memegang benda berkilat itu dengan takjub ..... " Bagus amat tempat bedak Mariana " begitu pikirnya. Tapi gimana cara bukanya ? Terus saja dia bolak balik ..... Mariana tertawa ngakak " aduhhh Sur, elu katrok banged, ini henpon tauk " ujar Mariana sambil terus terpingkal pingkal, " namanya aipone .... Nah kalo si vicktor itu pakek bebeh ". Dalam hati Suryani " oooo ini yang anak anak Jakarta makek yaa ? " Dan tak lama berkumandang lagu lagu hits masa kini diteras itu, Suryani & Nuri belagak meniru tarian yang dia lihat di film 'Street Dance' sewaktu Yanuar teman sekelasnya membuat acara rujak party dirumahnya .... Tapi yang sekarang terlihat, Suryani & Nuri bagaikan ayam sedang bertarung alias kacau balau.

Ide itu mendadak datang, terjadi saat 4 ABG itu sarapan lontong sayur. Mariana & Victor sangat konsentrasi menikmati tiap suapan, baru kali ini mereka makan lontong sayur. Yang di Singapore lebih berasa bumbu kari, mereka kurang suka. Sambil menyeruput teh hangat Victor nyeletuk " ehh kenapa Suryani & Nuri ga berlibur aja dirumah nenek kita ? ". Celetukan ala kadarnya itu bagai ledakan petasan ditelinga Suryani lalu berefek harapan yang membuncah. " Wow ide bagus, koq ga kepikir yaa ? " Sahut Mariana. Suryani terlihat sumringah, " wah apa kata Nuri nanti " begitu fikir Suryani sambil ngupil .....

" Apaaa ??? " Pekik enyak kaget, " nginep ditempat Mariana ?? " Emak melotot lantaran keselek singkong rebus. " Ampuun neng, lha ono pan rumah orang gedongan, mane jauh .... Tar lu bikin rusuh gimane enyak ngurusnye ". Suryani mulai cemberut, lalu nyerocos " nyaaakkk !!!! Emang ngapa sih ? Nyak ?!!!, kapan lagi nyak aye dapet kesempatan liburan gratis kaya gini " airmata lebay molai menitik diwajah cemberut Suryani. Enyak ga tega .... Apapun ia dan suaminya jarang bisa ajak jalan jalan putri tunggal mereka. Enyak menyeruput teh, lalu bicara " Sur, yakin lu kaga bikin rusuh ? Tapi jangan lama lama yak ? enyak kalo kangen sama elu kaga bise tidur tauk, enyak demen kalo denger lo ngigo "

Nuri justru gampang mendapat ijin, maklum aja, prinsip emaknya selama anaknya ga minta duit, dia ga ribet. Dan sore itu empat ABG itu duduk manis dimobil putih yang datang menjemput mereka. Masih terdengar enyak Suryani merepet, " neng kalo berak disiram yaak .... Kalo mandi bajunya dibuka ..... Kalooo ..... " Sampai suara enyak hilang. Jakarta yang macet membuat mereka tenggelam dengan lamunannya masing masing. Hingga akhirnya mobil berhenti didepan pagar tinggi, sebuah rumah megah di Jakarta Selatan.

Rumah 2 lantai bergaya mediteranian itu indah sekali dihias lampu sorot dibeberapa bagian. Suryani & Nuri bagaikan bermimpi bisa menginap dirumah seindah itu. Takut takut mereka mengikuti Mariana & Victor ke dalam rumah. Nenek & kakek langsung memeluk penuh kasih ke arah dua cucu kesayangan mereka, maklum ayah keduanya anak tunggal yang kemudian menikah dengan gadis Hongkong dan tinggal di Singapore. Nenek menciumi pipi Mariana & Victor seperti tak ada bosannya. Victor yang usianya 17 tahun merasa risih dan buru buru mengenalkan dua sahabat mereka. " Oma ... Opa ... Ini Suryani & Nuri sahabat kami di indonesia " ujar Victor renyah. Oma langsung suka melihat dua gadis sederhana yang ada dihadapannya dan selanjutnya mereka sudah duduk diruang makan yang ditata penuh selera.

Nenek dan kakek Mariana senang mengoleksi benda antik, semua tertata dengan indah sekali. Di meja terhidang aneka masakan yang menggugah selera, Nuri langsung lupa diri, semua yang disodorkan dia caplok, Suryani lebih tenang, maklum Nuri adiknya ada 5 ... Jarang baginya bisa makan kenyang, apalagi mewah seperti saat ini.

Malam itu Suryani & Nuri bener bener jadi OKB, duduk diranjang bercanopy dengan kelambu warna lavender, menonton DVD film remaja .... Walau keduanya ga bisa bahasa Inggris, toh mereka asik saja. Tiba tiba perut Nuri mulas " preett !!! Brrooottt " Nuri ga sanggup menahan ledakan kentutnya, Mariana & Suryani melemparinya dengan kacang, kamar mewah ber AC itu mendadak beraroma WC terminal. Nuri masuk ke kamar mandi yang ada dikamar itu ..... " Eeggghhhh .... Prroottt .... Bbrrooott .... Preettt " asli mirip malam tahun baru, berisik bagai terompet ditiup dengan biadab.

Puas membuang hajat timbul masalah baru, " kamar mandi semewah ini ga ada bak mandi dan gayung, bagaimana cara nyiram kotoran sebanyak itu ? Apa harus dipungut satu satu dan dibuang di tempat sampah itu ? " Pikir Nuri galau. Dia pun membuka pintu dan melongok ke arah Mariana yang lagi diajari Suryani cara nyari kutu. " Kak ? Gimana sih cara buang kotoran ? Aq mau pungutin terus dibuang kemana ? " Tanya Nuri memelas. Mariana histeris membayangkan kamar mandinya yang indah bakal berubah bagai WC terminal .... " Jangaaaannn !!!!! Itu ada tombol lo pencet Nur, tar kebuang sendiri " Dan Nuri baru tau itulah cara mengoprasikan closet duduk. Suryani dalam hati bersyukur, setidaknya kini diapun tau cara memakai batu sandar yang tidak pernah dia temui sebelumnya. " Untung Nuri mules duluan " begitu ucap Suryani dalam hati penuh sukur.

Rumah megah itu indah sekali, tata ruang dan cahaya benar benar tak terbayangkan bagi remaja sederhana macam Suryani & Nuri, dan mereka kini disibukkan foto foto. Yang motret pasti Mariana & Victor, maklum duo Jonggol gaptek ga tau cara mencet mencet camera. Hebatnya ga lama wajah mereka sudah terpampang di facebook. Teman - teman sekolah Suryani & Nuri heboh berkomentar, semua kagum .... Beruntungnya Suryani & Nuri punya sahabat kaya raya namun baik hati. Seketika itu juga keduanya jadi pembicaraan dikampung mirip nasib Jojo & Shinta yang ngetop mendadak gara gara ' keong racun '

Victor sudah ke alam mimpi dikamarnya, dan 3 gadis remaja itu masih asik ngobrol di ranjang Mariana yang empuk, mirip di film film, " ehh besok kita ngobok mall yuk " ajak Mariana. Namun aneh ... Suasana sepi .... Bagai kuburan angker .... Baik Suryani maupun Nuri diam membisu, Mariana bertanya " lho koq pada diem ? Pada kesambet yaa ? "

Namun baik Suryani dan Nuri hanya diam dan saling berpandangan ... mirip dua ekor sapi yang sedang jatuh cinta .... sementara Mariana merasa bingung, ada apa ini ? apa dia salah bicara ???

Suryani & Nuri diam sambil berkedip kedip, persis kaya kena cacing kremi. Mariana mengambil gelas di buffet kecil disebeah tempat tidurnya .... " PYAK !!! " Langsung menyiram wajah dua sahabatnya yang bengong bagai ayam sayur, " ehh kalian kenapa sih ? " Tanya Mariana, Nuri mengelap wajahnya dengan lengan dasternya. ... Lalu berkata " gini kak, jujur aja nih, kita ga PD kalo harus jalan di mall orang - orang kaya, soalnya penampilan kita kan ga sesuai, kalo kakak mau jalan, kita nunggu aja disini, asal jangan lupa oleh oleh " .... Suryani manggut manggut sok tau. Mariana tersenyum lalu berkata " eh ngapain juga gw jalan sendiri, ya ga eksis donk ?! Justru ada kalian gw mau jalan jalan " .

Mariana turun dari ranjang, dan menuju sebuah pintu dikamar itu, dibukanya sebuah pintu berwarna coklat kemerahan, didalamnya terdapat rak rak dan laci laci warna merah anggur, dinding warna cream dan diruang itu begitu banyak pakaian bergantungan rapi, lalu puluhan sepatu juga tas. Suryani & Nuri kagum melihat semua itu. Mariana mengajak mereka masuk ke dalam ruangan berukuran 2,5 x 2,5 tersebut. " Ini namanya walking closet " ujarnya sambil memilih milih pakaian. Nuri celingukan .... " Mana kak closetnya ? Masa ada sih WC jalan jalan ? Ada ada aja dah peralatan orang kaya ". Mariana hanya mendengus saja.

Jam 10 pagi keempat ABG itu sudah rapih, Suryani & Nuri memakai baju pemberian Mariana, " cantik juga mereka ya Cici, kalo diurus dengan benar ? " Ujar Victor pada kakaknya. " Iyah, mangkanya mau aku bawa ke salon deh biar agak beda " sahut Mariana. Namun mendandani duo Jonggol bak gadis metropolitan tak selamanya indah. Baik Suryani maupun Nuri berjalan bagai sedang gempa bumi, saling berpegangan tangan dan cenderung tertatih tatih. Itu semua gara gara sepatu dengan heels 5 cm yang mereka pakai.

Disalon mereka disambut Fabian ... Stylish top andalan salon itu .... Mariana langsung memasrahkan Suryani & Nuri pada Fabian. " Aduuh nek, kamu ini cantik tapi ngapain rambut kamu lepek gini ? Udah kayak curut deh yei ... " Ujar Fabian sambil mencolek colek rambut Suryani. " Nah ini juga, udah tau jenong malah rambutnya dikuncir ? Abis dari planet mana sih buuu ? " Nuri hanya pasrah waktu jenongnya ditekan tekan Fabian. Tak lama keduanya sudah ditangani oleh Fabian yang cekatan, hampir 2 jam merubah tampilan .... Lebih 'kota' dan lebih terlihat cantik.

Keduanya melotot waktu melihat Mariana membayar ongkos potong dengan beberapa lembaran seratus ribu " ohh mahal sekali kak ? " Kata Suryani heran, " itu uang jajan gw 2 tahun " lanjutnya. Mariana hanya tersenyum sambil celingukan, Nuri tak ada disitu, mereka menemukannya diparkiran sedang mengemut bakwan. Mariana memanggil " Nuri elo ngapain ciuman sama bakwan ? " Nuri melangkah pelan pelan dan berkata, " kaaaak ........... Gw lagi bikin bibir kaya kakak, masa ga tau ? "

Mariana merinding disco, " hah ? Maksud lo biar bibir mengkilap ? Astaga gw pakek lipgloss kalee bukan ngemut bakwan " ujar Mariana setengah kesal. Karena malu akhirnya Nuri mencaplok bakwan yang sejak 15 menit lalu dicumbunya.

Perjalanan dimulai lagi, victor duduk disamping pak supir yang sibuk bekerja .... Dia autis dengan ßlackßerry- nya, sementara 3 gadis duduk dibelakang. Tak lama mereka memasuki halaman mall mewah. Mariana menjadi guide dadakan " nah ini lhoooo nyang namanya sency, kalo ke Jakarta gw sering makan disini " . Baik Suryani maupun Nuri menganga kagum melihat mall sebesar itu, paling jauh mereka ke Cibubur Junction itupun kesasar.

" Mall yang aneh ! Sensi kan istilah orang yang gampang tersinggung " ujar Nuri sok tau, Suryani yang otaknya lebih bagusan menyahut " dasar katrok !! Ini maksudnya sency, senayan city ...... kota Senayan gituh ..... Dasar oneng ". Nuri memandang ke arah Suryani " oohhh koq dipeta kaga ada ya ? " Timpal Nuri dengan wajah bodoh. " Wah kayanya diresmikan baru baru ini deh mangkanya bu Nita guru kita belum ngebahas dikelas " sahut Suryani sok pinter.

Didalam mall Nuri bikin kasus, dia ga pernah bisa naik escalator alias tangga berjalan, pake sendal aja dia nyaris kejungkal, apalagi pake sepatu tinggi ? Pernah dia ditraktir makan bakso disebuah mall, letak rumah makan bakso itu dilantai 6. Semua temannya lewat escalator kecuali dirinya yang memilih lewat tangga darurat " biar lambat asal selamat " begitu kilahnya, walau sesampai diatas bedaknya luntur akibat keringat.

Butuh waktu 30 menit meyakinkan Nuri kalau tangga berjalan itu aman, dan akhirnya Nuri mau setelah dipegangi Victor dan Mariana, tentu dengan sepatu yang dia lepas. Puas makan disebuah resto mereka pindah ke Plaza Senayan. Disini giliran Suryani bikin ulah, dia sengaja meminum obat anti mabuk sesaat mereka akan masuk lift.

Dalam hati Suryani dia bersyukur .... Walau ia dan Nuri selalu terlihat bodoh, namun baik Mariana maupun Victor tidak menunjukan sikap malu atau menjauh. Kini ia percaya didunia ini ada orang orang baik yang kelak akan berjodoh untuk saling mengenal. Acara nge-mall akhirnya ditutup dengan makan malam nikmat disebuah resto dilantai 3.

Tiba tiba Victor menatap tajam ke arah duo Jonggol ..... Hampir tak berkedip .... Seperti bayi baru melihat balon, atau seperti macan melihat mangsa ? terserah deh. Mariana menyolek adeknya ..... " Ehh kenapa kamu ? Koq ngeliatinnya gitu ?? " Dan Victor jadi salah tingkah sambil berbisik " entar ya Ci, aq ceritain .... " Sementara Suryani & Nuri ga tau harus bagaimana ......

Suryani & Nuri grogi dipandangi seperti itu ... Secara Victor cowo cakep, lha dipandangin Maman tukang gorengan aja mereka salting. Biasa masih ABG labil. Saking groginya Suryani gigitin sendok, Nuri ngemut sumpit, Suryani nyuci serbet, Nuri kekolong meja tapi Victor masiiiiiih aja ngeliatin.

Mariana memecah suasana kaku itu, " Yuk pulang aja, udah malem neh " Nuri paling lega, soalnya dia yang paling sering dipandang Victor .... Sebelum meninggalkan bangku resto Nuri sempet ... " PEEEEZZZZ " dan 10 detik kemudian pengunjung resto itu mual mual.

Sudah 4 hari Suryani & Nuri menginap dirumah kakek nenek Mariana & Victor. Suryani sudah 8x mendapat telegram dari enyaknya yang bercerita betapa ia rindu berat. Mariana masih pulas dikamar, posisi terlentang dengan mulut menganga, persis korban pembunuhan. Victor ditepi kolam renang terlentang, berjemur matahari pagi. Disebelahnya ada Suryani & Nuri sibuk mengobrol. Nuri kemudian melongok ke arah Victor .... " Kak jangan telentang gitu tangannya, bau ketek " .... Victor mengendus keteknya sendiri " hmmm sialan bau aer cumi " pikirnya, lalu dia nyebur kekolam renang, maklum 2 hari ini kebanyakan makan bawang.

Suryani asik menulis diary, lalu dilihatnya Nuri asyik memandangi rimbunan kembang sepatu warna warni ditepi kolam renang .... Putih, kuning, merah, jingga, pink, ungu dsb cantik sekali. " Nur ambil camilan donk yang didapur tuh, isen nih, " Perintah Suryani pada Nuri. Nuri berjalan ke dapur, ternyata bibik lagi ke pasar, oma sama opa juga pergi entah kemana, akhirnya diambilnya sebuah tupperware bertutup merah yang ada dirak pojok dapur, dibawanya ke tepi kolam.

Selanjutnya keduanya asyik ngemil " krauss .... Krauk ..... krauk ..... " Asyik sekali mereka ngemil. " Kak Victor siniiii, nih enak lho camilannya, gurih rasa ikan ..... " Jerit Nuri kearah Victor, Suryani menambahkan " biar agak amis tapi enak koq, renyah " Victor berenang menepi, ia duduk ditepi kolam, siap mengambil camilan ..... Tiba tiba Victor menjerit kaget sekali " waaakkk !!!! Kalian makan ini dari tadi ? " Tanpa menunggu jawaban 2 gadis itu, ia melanjutkan .... " Ini Whiskas makanan kucing, kucing anggora oma mati 6 bulan lalu ! ". Suryani & Nuri menelan kunyahan terakhir, lalu mereka menjawab .... " Tapi enak koq kak " ..... GUBRAk !!!!

Malam itu 4 remaja itu duduk santai di ruang keluarga yang bersebelahan dengan kolam renang, pintu lipat kaca pembatas keteras belakang sengaja dibuka lebar. Sofa empuk warna maroon itu menjadi lokasi pas untuk mengobrol .... Malam terakhir. Victor kemudian menuju dapur untuk mengambil beberapa kaleng soft drink, Mariana tiba tiba ingat, dia belum menanyakan lagi soal kejadian diresto beberapa malam lalu. Dia pun menyusul ke dapur. " Vic, Cici kan belum kamu ceritain, soal kamu tiba tiba koq terdiam ngeliatin si Suryani & Nuri waktu diresto, ada apa ? " Tanya Mariana pada adiknya sambil memotong blueberry cheese cake dengan potongan besar. " Oohh itu .... " Jawab Victor sambil melirik kearah ruang keluarga, " nggak apa apa Ci, aku cuma lagi mikir, koq kita bisa deket ya sama dua cewek itu, yang kita kenal hanya lewat internet, dan aku juga mikir, kita ini beruntung bisa kenal orang yang baik seperti mereka " lanjut Victor

" Iya ya ... Kamar aku aja mereka lho yang beresin, malah pas kamu disuruh oma beli kue, aku lihat Nuri ngepel kamarmu juga beresin baju baju kotor kamu tuh " sahut Mariana. " Asli mereka anak anak yang jujur, walau mereka hanya keluarga sederhana "

" Sayang ya Ci kita harus kembali ke Singapore .... Kapan lagi ya bisa seperti ini ? " Lanjut Victor sedikit mellow. Mariana memeluk adiknya " tenang, persahabatan ga ngenal jarak & waktu " bisik Mariana mencoba bijak

Pagi pagi Suryani sudah bangun, dia membuka tirai tebal dari bahan sutra dikamar itu. Memandang taman belakang dari lantai dua. Dan matanya menangkap Nuri yang sedang duduk ditepi kolam." jangan jangan tu anak mau minum aer kolem lagi ? " pikir Suryani, dan ia pun turun .... Menyusul Nuri.

" Kenape lo ? " Tanya Suryani dengan suara cempreng. " Ah ga apa apa koq, cuma sedih aja bakal pisah sama Victor & Mariana ... " Sahut Nuri sambil meleletkan upil ke pinggiran meja. " Iya sih .... Gw mau buatin sarapan buat mereka, nasi uduk, kaya yang biasa enyak buat " ujar Suryani seraya menggandeng tangan sahabatnya menuju dapur. Untung ada si bibik jadi mereka lancar memasak, maklum dapur itu beda banged sama dapur mereka dirumah. Bagusan dapur enyak kalo diliat dari jalur Gaza.

Kakek, nenek, Mariana & Victor sarapan dengan nikmat, Suryani & Nuri bangga berhasil memberikan sesuatu. Saatnya kembali pulang ke habitat asli, duo Jonggol masing masing menambah bawaan menjadi satu tas lagi, dikasih Mariana baju banyak banged. Sudah pasti keduanya bakal pamer keliling kampung. Perasaan mereka mirip seperti beruk yang dikembalikan ke hutan Kalimantan. Disatu sisi rindu rumah disatu sisi sedih karena sudah terbiasa.

Sesampai dirumah Suryani, mereka disambut pekik enyak yang lagi nyapu halaman " ya ampun neng !!! " Jerit enyak lebay, " lu kaya artis yak ... Kaya onoh siape tuh Titi Biji yak ? " Sambil merepet kaya kucing dimusim kawin, enyak meremas remas wajah Suryani, gilanya tangan enyak bau ikan asin, fear factor banged deh. Enyak lalu mengajak semua duduk di bale yang ada diteras. Enyak mengucap terima kasih berkali kali bagai membaca mantra, berisik banged deh. Nuri sibuk mencomot gorengan. Victor giliran dikucek enyak pipinya " bujuuut dah, ganteng bangat ni bocah ... ngidam apaan enyak lo tong ?? " wajah Victor mirip smurf ... membiru karena mual bau ikan asin. Mariana sadar pasti gilirannya akan tiba .. maka dia pura pura tertarik memotret bunga bunga.

Saat berpisah tiba, lusa Mariana dan Victor kembali ke Singapore ..... Suryani dan Nuri kembali ke sekolah ..... suasana haru menghiasi sore itu .... saat Victor memeluk Nuri ... lagi lagi Nuri mengulangi kesalahan yang sama .... ia kehilangan keseimbangan dan keduanya nyungsep dengan sukses diselokan depan rumah Suryani.


Ending :
Emak Nuri muncul ..... " ehhh busyetttt Nuriiii muke lo kaya anak setan noh, kotor bangat ..... lha itu bintang korea ngapain lu ceburin selokan ..... ampun dah ni anak kelakuan .....maap yak tong .. Nuri emang gitu tapi die baek koq .... ehh copet mencret !!! eh monyong lo ....!!!! " jerit emak Nuri bagai radio rusak diiringi latah kronis khas emak emak kampung ... cempreng dan memekakan telinga ..... Suryani dan Mariana hanya terpingkal pingkal ..... suasana rusuh seperti itu pasti dirindukan Victor dan Mariana di Singapore sana ......

Thursday, December 30, 2010

Surat untuk Ical

zakywahyudi2010:

Bung Ical yang terhormat,
Saya percaya anda lebih berkuasa dari presiden di negara ini
Sri Mulyani anda singkirkan dan mengungsi dari tanah kelahiran yang dicintainya
Satgas anda bungkam sehingga tak lagi bersuara
Kepolisian dan Kejaksaan anda injak saat mereka menangani sang perampok: gayus
sehingga anda pun tidak akan terkait dengan kebusukannya

Saya percaya anda juga telah menebar magnet kharisma anda yang bernama rupiah di petinggi PSSI
Juga menanam sanak keluarga, handai taulan di tempat ini: Nirwan, Nurdin Halid, Andi Darussalam..
Tapi biarkan olahraga yang satu ini tetap menjadi milik kita, jangan anda rebut lagi
Anda boleh menguasai yang lainnya, apapun atau siapapun yang bisa anda beli dengan kekayaan anda

Kami tidak peduli anda menjadi ketua partai dengan cara membeli orang-orang yang sekarang menjadi pembela anda nomor wahid
Tapi tolong jangan anda kotori kesucian olahraga ini

Bung Ical
Anda bisa memiliki segalanya, tapi jangan yang satu ini
Biarkan ini tetap menjadi milik kami
Biarkan kami meneriakkan gairah kami pada permainan yang satu ini
Bagi kami inilah ekstasi untuk sejenak melupakan kepenatan kami atas kerasnya hidup yang mungkin
tidak pernah anda rasakan sejak anda menghirup udara di dunia ini
Biarkan kami meneriakan nama-nama pahlawan kami kami: Bambang Pamungkas! (bukan bambang soesatyo), Markus Horison! (bukannya (melchias) markus  mekeng), Firman Utina! (tidak firman
soebagyo)

Bung Ical
Tidak kah anda melihat dan cemburu karenanya?
Bagaimana kami melonjak, berteriak dan tersenyum bahagia sekedar dapat melihat pujaan kami
Kami teriakkan nama-nama mereka dengan cinta tanpa pamrih rupiah
Irfan Bachdim!!! Christian Gonzales!!! Okto!!
Saat ini mereka adalah pahlawan kami
Pahlawan dengan parfum keringat yang menetes, bukannya armani
Pahlawan yang berkaus basah dan bercelana pendek, bukan pahlawan dalam setelan jas dan dasi
Pahlawan di lapangan rumput, tidak di gedung berpendingin ruangan di senayan

Tidak kah bung bertanya, mengapa kami menjadikan mereka pahlawan?
Karena mereka mencoba dengan sekuat tenaga, dengan keringat dan air mata membuat kami bahagia
Oleh karenanya, apapun hasil perjuangan mereka, nama mereka akan selalu lekat di hati kami,
mereka tetap pahlawan kami
Kami pun bahagia menjadi bagian dari perjuangan mereka, walau sekedar teriakan penyemangat
Akan kami ceritakan saat-saat perjuangan mereka kelak kepada anak cucu kami

Bung Ical
Anda berkeinginan untuk menjadi orang nomor satu di negeri ini kelak
Oleh karena itu jangan biarkan remah-remah simpati yang tersisa pada kami lenyap
Anda mungkin ingat ungkapan : "we may forgive, but we'll never forget"
Kami tidak bisa berbuat apa-apa, tapi kami akan ingat selamanya :Lapindo, penggelapan pajak...
Jangan anda tambah kekecewaan kami dengan merebut permainan ini dari kami
Jika anda ingin mendapat sedikit ucapan terima kasih dari kami
tolong anda bisikkan sesuatu kepada Nurdin agar ia segera menyingkir dari olahraga ini

Terima kasih bung Ical

*dikutip dari salah satu forum

Wednesday, December 29, 2010

Wikileaks AFF : Siluman di Ruang ganti

Wikileaks AFF

Sekelumit cerita dari @hedi seputar Riedl, timnas, dan alien.

Sekumpulan tulisan di bawah ini adalah kompilasi tweet @hedi pada hari Selasa sore seputar intervensi "alien" di tengah timnas. Go timnas! Go Riedl! Go Indonesia!
Garuda di Dadaku!

Awalnya gini: ruang ganti timnas mulai kemasukan "alien" setelah menang besar di 2 laga pertama AFF 2010

kenapa saya sebut alien, karena mereka masuk ke ruang ganti tanpa izin dari pelatih Riedl walaupun mereka org2 PSSI

yg masuk ruang ganti mulai dari ketua, sekjen, anggota exco, menteri, asmen dan kroco2 ga penting

kelihatannya lumrah ya, pejabat masuk ruang ganti tim. tahukah anda bahwa ruangan itu adalah kuasa mutlak pelatih

Riedl sudah mulai panas jelang lawan thailand, wewenangnya dilompati terus. Tapi emosinya masih terjaga, walau fokus redup

Jelang semifinal, "alien" yg muncul mulai banyak. Sejumlah politikus hadir, bahkan banyak pesan2. Riedl mulai terpojok

Ledakan emosi Riedl muncul ketika tim dibawa ke rumah Ical & istiqosah. Ribut mulut dengan manajer tim terjadi. Sangat panas

di saat disharmonisasi pelatih & manajer terjadi, saat bersamaan skuad dipressing pengurus PSSI. rata2 cuma ngomong soal strategi sih

agenda ke rumah ical & istiqosah sebenernya agenda sempalan. ini merusak agenda Riedl untuk karantina pemain

bahkan sarapan pagi di rumah Ical itu merusak agenda latihan fisik pagi yg disusun Riedl & asisten

menurut beberapa kawan "di dalam", Riedl konon sempet frustrasi dengan banyaknya intervensi pejabat

Riedl juga kesal karena permintaan agar tim dijauhkan dari media massa tidak digubris manajemen tim

puncak intervensi terjadi saat tim akan berangkat ke KL, daftar penumpang pesawat jadi "gemuk"

dan pesawat yang akan dipakai tim juga dadakan karena sebelumnya ga ada agenda pake pesawat ical!

daftar penumpang pesawat dadakan itu termasuk pers serta tv kita yg satu itu. Belum pernah ada tim manapun jalan bareng dgn pers

Monday, December 27, 2010

Malaysia, don't hate us!

Malaysia?
Maybe bagi sebagian orang Indonesia kata-kata begitu kata ini terdengar akan memancing emosi. Hujatan, makian tak terbendung ditujukan untuk malaysia

Malingsia
Negara Maling
Malingshit
Dan lain sebagainya

Yah memang benar Malaysia melakukan tindakan tidak terpuji dengan meng-claim kebudayaan dan wilayah Indonesia sebagai daerah mereka. Tindakan itu sangatlah tidak terpuji dan tidak ada yang membenarkan. Ironis memang melakukan tindakan perncurian kebudayaan dan wilayah Indonesia. Belum lagi masalah TKI yang disiksa dan dideportasi karena masuk secara ilegal.

Semua ini makin memuncak pada final piala #AFF Suzuki Cup 2010. Pertandingan yang berlangsung di BukitJalil, Malaysia. Pertandingan berjalan tak imbang dengan Malaysia terus menyerbu daerah pertahanan Indonesia yang terlihat lemah. Tak ada pertahanan rapat. Pemain Malaysia dengan leluasa membawa bola. Tak heran Malaysia bisa menjaringkan 3-0 dibabak kedua tanpa balas. Malaysia terkesan amat rapat mengunci pertahanan. Rapi dalam bertahan maupun menyerang.

Namun, kemenangan ini memang sedikit tercoreng dengan insiden laser hijau yang ditembakkan oleh suporter Malaysia. Laser ini memang sempat memecah konsentrasi pemain Indonesia. Laser ini dijadikan kambing hitam para suporter Indonesia. Hujat-hujatan tak berhenti di twitter.

#MalaysiaCheatLaser
Curang
Hate Malaysia

Yah topik itu menjadi trending topics di twitter. Mengumbar kebencian dimana-mana, mencari kambing hitam, tak bisa menerima kekalahan. Yah mereka anggap itu suatu wujud nasionalisme pada negara. Mereka membenarkan segala cara untuk membenci Malaysia. Tak ada kelihatan pendewasaan suporter yang bisa menerima kekalahan timnas Indonesia. Tak ada dukungan lagi untuk timnas.

Yah timnas Indonesia mungkin siap untuk juara, tapi dengan suporter yang tak terdidik dan dadakan seperti ini, indonesia belum pantas membawa piala #AFF.

Tuesday, December 21, 2010

Why I'm Atheist? Are you?

Why don’t you believe in God? I get that question all the time. I always try to give a sensitive, reasoned answer. This is usually awkward, time consuming and pointless. People who believe in God don’t need proof of his existence, and they certainly don’t want evidence to the contrary. They are happy with their belief. They even say things like “it’s true to me” and “it’s faith”. I still give my logical answer because I feel that not being honest would be patronizing and impolite. It is ironic therefore that “I don’t believe in God because there is absolutely no scientific evidence for his existence and from what I’ve heard the very definition is a logical impossibility in this known universe”, comes across as both patronizing and impolite.

Arrogance is another accusation. Which seems particularly unfair. Science seeks the truth. And it does not discriminate. For better or worse it finds things out. Science is humble. It knows what it knows and it knows what it doesn’t know. It bases its conclusions and beliefs on hard evidence -­‐ evidence that is constantly updated and upgraded. It doesn’t get offended when new facts come along. It embraces the body of knowledge. It doesn’t hold on to medieval practices because they are tradition. If it did, you wouldn’t get a shot of penicillin, you’d pop a leach down your trousers and pray. Whatever you “believe”, this is not as effective as medicine. Again you can say, “It works for me”, but so do placebos. My point being, I’m saying God doesn’t exist. I’m not saying faith doesn’t exist. I know faith exists. I see it all the time. But believing in something doesn’t make it true. Hoping that something is true doesn’t make it true. The existence of God is not subjective. He either exists or he doesn’t. It’s not a matter of opinion. You can have your own opinions. But you can’t have your own facts.

Why don’t I believe in God? No, no no, why do YOU believe in God? Surely the burden of proof is on the believer. You started all this. If I came up to you and said, “Why don’t you believe I can fly?” You’d say, “Why would I?” I’d reply, “Because it’s a matter of faith”. If I then said, “Prove I can’t fly. Prove I can’t fly see, see, you can’t prove it can you?” You’d probably either walk away, call security or throw me out of the window and shout, ‘’F—ing fly then you lunatic.”

This, is of course a spirituality issue, religion is a different matter. As an atheist, I see nothing “wrong” in believing in a god. I don’t think there is a god, but belief in him does no harm. If it helps you in any way, then that’s fine with me. It’s when belief starts infringing on other people’s rights when it worries me. I would never deny your right to believe in a god. I would just rather you didn’t kill people who believe in a different god, say. Or stone someone to death because your rulebook says their sexuality is immoral. It’s strange that anyone who believes that an all-­‐powerful all knowing, omniscient power responsible for everything that happens, would also want to judge and punish people for what they are. From what I can gather, pretty much the worst type of person you can be is an atheist. The first four commandments hammer this point home. There is a god”, I’m him, no one else is, you’re not as good and don’t forget it. (Don’t murder anyone, doesn’t get a mention till number 6.)

When confronted with anyone who holds my lack of religious faith in such contempt, I say, “It’s the way God made me.”

But what are atheists really being accused of?

The dictionary definition of God is “a supernatural creator and overseer of the universe”. Included in this definition are all deities, goddesses and supernatural beings. Since the beginning of recorded history, which is defined by the invention of writing by the Sumerians around 6000 years ago, historians have cataloged over 3700 supernatural beings, of which 2870 can be considered deities.

So next time someone tells me they believe in God, I’ll say “Oh which one? Zeus? Hades? Jupiter? Mars? Odin? Thor? Krishna? Vishnu? Ra?…” If they say “Just God. I only believe in the one God”, I’ll point out that they are nearly as atheistic as me. I don’t believe in 2,870 gods, and they don’t believe in 2,869.

I used to believe in God. The Christian one that is.

I loved Jesus. He was my hero. More than pop stars. More than footballers. More than God. God was by definition omnipotent and perfect. Jesus was a man. He had to work at it. He had temptation but defeated sin. He had integrity and courage. But He was my hero because He was kind. And He was kind to everyone. He didn’t bow to peer pressure or tyranny or cruelty. He didn’t care who you were. He loved you. What a guy. I wanted to be just like Him.

One day when I was about 8 years old, I was drawing the crucifixion as part of my Bible-­‐studies homework. I loved art too. And nature. I loved how God made all the animals. They were also perfect. Unconditionally beautiful. It was an amazing world.

I lived in a very poor, working-­‐class estate in an urban sprawl called Reading, about 40 miles west of London. My father was a laborer and my mother was a housewife. I was never ashamed of poverty. It was almost noble. Also, everyone I knew was in the same situation, and I had everything I needed. School was free. My clothes were cheap and always clean and ironed. And mum was always cooking. She was cooking the day I was drawing on the cross.

I was sitting at the kitchen table when my brother came home. He was 11 years older than me, so he would have been 19. He was as smart as anyone I knew, but he was too cheeky. He would answer back and get into trouble. I was a good boy. I went to church and believed in God – what a relief for a working-­‐class mother. You see, growing up where I did, mums didn’t hope as high as their kids growing up to be doctors; they just hoped their kids didn’t go to jail. So bring them up believing in God and they’ll be good and law abiding. It’s a perfect system. Well, nearly. 75 percent of Americans are God-­‐fearing Christians; 75 percent of prisoners are God-­‐fearing Christians. 10 percent of Americans are atheists; 0.2 percent of prisoners are atheists.

But anyway, there I was happily drawing my hero when my big brother Bob asked, “Why do you believe in God?” Just a simple question. But my mum panicked. “Bob” she said in a tone that I knew meant, “Shut up.” Why was that a bad thing to ask? If there was a God and my faith was strong it didn’t matter what people said.

Oh … hang on. There is no God. He knows it, and she knows it deep down. It was as simple as that. I started thinking about it and asking more questions, and within an hour, I was an atheist.

Wow. No God. If mum had lied to me about God, had she also lied to me about Santa? Yes, of course, but who cares? The gifts kept coming. And so did the gifts of my new found atheism. The gifts of truth, science, nature. The real beauty of this world. I learned of evolution – a theory so simple that only England’s greatest genius could have come up with it. Evolution of plants, animals and us – with imagination, free will, love, humor. I no longer needed a reason for my existence, just a reason to live. And imagination, free will, love, humor, fun, music, sports, beer and pizza are all good enough reasons for living.

But living an honest life – for that you need the truth. That’s the other thing I learned that day, that the truth, however shocking or uncomfortable, in the end leads to liberation and dignity.

So what does the question “Why don’t you believe in God?” really mean. I think when someone asks that; they are really questioning their own belief. In a way they are asking “what makes you so special? “How come you weren’t brainwashed with the rest of us?” “How dare you say I’m a fool and I’m not going to heaven, f— you!” Let’s be honest, if one person believed in God he would be considered pretty strange. But because it’s a very popular view it’s accepted. And why is it such a popular view? That’s obvious. It’s an attractive proposition. Believe in me and live forever. Again if it was just a case of spirituality this would be fine. “Do unto others…” is a good rule of thumb. I live by that. Forgiveness is probably the greatest virtue there is. Buts that’s exactly what it is -­‐ a virtue. Not just a Christian virtue. No one owns being good. I’m good. I just don’t believe I’ll be rewarded for it in heaven. My reward is here and now. It’s knowing that I try to do the right thing. That I lived a good life. And that’s where spirituality really lost its way. When it became a stick to beat people with. “Do this or you’ll burn in hell.”

You won’t burn in hell. But be nice anyway.

Ricky Gervais is the writer and star of HBO’s “Ricky Gervais Out of England 2: The Stand-Up Specia

Sunday, December 5, 2010

Pacar atau Pasangan Hidup?

Seiring bertambahnya usia, pengalaman hidup makin bertambah, makin banyak pekerjaan yang akan dilakukan. Segala aktivitas kurang lengkap bila dilakukan sendiri. Kita butuh orang yang selalu disamping kita yang akan menemani kita melakukan aktivitas.

Melihat orang yang kita anggap cantik/ganteng adalah hal yang lumrah. Semua orang punya tipe tertentu yang disukai. Tapi apakah semuanya orang memilih tipe yang ia sukai untuk menjadi pacar atau bahkan pasangan hidup?

Tidak... Tidak semua orang mencari TYPE-nya!

Awalnya Anda akan terus memilih, mencari dan berteguh hati mencari 1001 kriteria yang harus dimiliki olehnya. Namun sampai pada tingkat kejenuhan, Anda akan merasa hidup ini berat, berbagai ragam sifat manusia pasti dimiliki oleh seseorang. Susah untuk menjadi sempurna walaupun Anda akan selalu berusaha menuju suatu kesempurnaan yang Anda harapkan.

Memiliki pasangan jauh dari harapan bukanlah suatu nightmare atau malapetaka. Namun akan menjadi suatu kebahagiaan yang tak terhingga nantinya, mencari kebahagiaan dalam perbedaan. Hidup ini akan lebih indah dengan adanya perbedaan bukan?!

Dengan berbeda akan berusaha untuk mengimbangi satu sama lain, akan berusaha untuk saling melengkapi. Namun tak jarang banyak yang berakhir pertengkaran dan break up. Hal inilah yang perlu dicegah dari awal sebelum Anda berkotmitmen untuk bersama.

Untuk pasangan dengan perbedaan, Anda perlu meluruskan segala macam kekurangan Anda pada pasangan. Jangan di tutup-tutupi, jujurlah pada pasangan Anda. Sehingga akan dapat menerima Anda apa adanya, mengenal Anda lebih dalam. Jangan hanya menunjukkan kehebatan Anda, kelebihan Anda, sehingga Anda terlihat sempurna didepan sang pujaan hati. Hal inilah yang sellau membuat Anda jatuh dilubang yang sama seperto keledai keledai yang lainnya.

Berusaha jujur kepada diri Anda sendiri terlebih dahulu dan dilanjutkan kepada orang lain. Jujur diawal pada calon pasangan Anda. Lebih baik tak berkomitmen dari awal bila ada perbedaan prinsip daripada harus break-up karena perbedaan prinsip. Ini masalah yang sangat klasik tapi terjadi berulang kali.

Jujur adalah inti permasalah, selalu berusaha menganggap dia adalah bagian dari keluarga sehingga seperti memiliki Anda.

Monday, November 29, 2010

Dunia Kerja ~ Teman Vs Lawan.

Wah, wisudawan baru udah diresmikan dimana-mana. Semuanya siap untuk memburu lapangan kerja yang udah seketat 'skinny pant'. Saling serang, sikut menyikut demi mengejar apa yang dicita-citakan. Tak ada lagi istilah teman sepenanggungan, teman seperjuangan, yang ada hanyalah istilah 'rival'.

Bagaimana menyikapi teman yang menjadi lawan?
Setelah mengalami beratnya dunia kerja, akan kelihatan siapa teman ataupun lawan Anda. Siapa juga rekan yang nantinya dapat membantu Anda mengejar cita-cita.
Mendapatkan rival yg selalu menyerang Anda, jangan merasa kecil hati. Jangan mendendam ataupun kesal. Dengan kepala dingin hadapi kenyataannya. Sabar kunci utamanya.
Tunjukkan bahwa Anda lebih daripada mereka. Tunjukkan Anda bisa walaupun dipandang sebelah mata oleh mereka. Tunjukkan bahwa Anda masih bisa berbuat baik diatas kejahatan mereka. Tunjukkan Anda tidak kalah dari mereka. Biarlah mereka bertambah iri, bertambah sirik kepada Anda. Tooooh Anda tidak akan dirugikan sama sekali.

Bagaimana bisa sabar terhadap mereka yang selalu berbuat jahat?
Sabar tanpa batas.

Sabar kan ada batasnya?!
Sabar itu tiada batas. Batas kesabaran itu tidaklah nyata adanya. Anda sendiri yang membatasi diri Anda. Cobalah untuk membuka diri Anda. Jangan merasa marah. Coba untuk selalu tersenyum menghadapi masalah.

Kalau terus disakiti, dijahatin, masa harus diacuhkan saja?
Bukan diacuhkan, namun dilawan dengan cara yang diplomatis, cara yang lebih elegan, bukan melakukan hal yang sama seperti yang mereka lakukan. Cara yang lebih pintar, lebih sabar, lenih smart, lebih tak terlihat.
Bagaimana caranya itu Anda sendiri yang bisa menentukan bagaimana yang lebih tepat.

Wednesday, November 17, 2010

Eat Pray Love

Yah abis nonton Eat Pray Love, esensi hidup begitu terasa. Hidup dalam keseimbangan, tidak berlebihan dan memaksakan suatu keadaan, melepas sesuatu untuk mendapatkan keseimbangan hidup.

Harapan ke depannya untuk Eat, Pray, Love :
Eat ~ saya pilih di Indonesia saja, Asia boleh lah..
Surga kuliner dengan beraneka pilihan makanan yang unik-unik dan eksotik

Pray ~ Tibet, Bhutan, kota berkonsep buddhist nan eksotik, balancing your mind.

Love ~ Paris, ya inilah satu-satunya honeymoon yang aku harapkan bareng pacar. Ga tau kenapa berharap banget bisa kesini.. seperti ketemu surga dunia kalo kata orang, walaupun ga taw bagaimana disana :D

Namun karena budget yang terbatas ya sudahlah cukup di sederhanain aja:

Eat ~ My home... Citarasa makanan yang enak, yang telah men-train lidah menjadi begitu jago merasakan rasa makanan

Pray ~ Mendut, candi paling membuat hati tenang, walaupun sudah habis tertutup debu merapi, suatu hari saya akan kesana kembali

Love ~ Bandung, suasana nan dingin, banyak tempat wisata dan kuliner juga.. Ada Vipassana, disinilah balancing hidup..

Vagina vs Penis

Semenjak manusia diciptakan Tuhan (lebih tepatnya semenjak ibu hawa mendampingi ayah Adam), manusia memang ditakdirkan untuk memiliki kebutuhan biologis. Pemenuhan kebutuhan biologis itu sendiri telah diatur Tuhan, agar tidak terjadi kesewenang-wenangan layaknya binatang. Sayang, kenyataannya tidak seindah itu. Kebutuhan biologis ternyata dapat diperdagangkan, untuk memenuhi kebutuhan dasar lain yang lebih penting yaitu pangan, sandang dan papan. Memperdagangkan kebutuhan biologis dianggap sebagai sebuah dosa besar. Tapi apakah benar begitu ?


Memang tidak semua wanita maupun pria memperdagangkan kebutuhan biologis (melacur) demi mempertahankan hidup, ada juga yang melacur demi mengejar kekayaan atau materi itu sendiri. Semuanya beralasan terdesak atau ‘didesak’ oleh keadaan. Saya harap anda dapat membedakan kata terdesak dan ‘didesak’. Ya, yang membedakan adalah faktor kesengajaan dan niat.


Permisalan keadaan terdesak adalah sebagai berikut. Tuti seorang anak dengan tiga orang tanggungan hidup, yaitu seorang ibu dan 2 orang adik. Suatu ketika, ibu Tuti jatuh sakit dan setelah didiagnosis ternyata kondisinya membutuhkan perawatan lebih dan kemungkinan diperlukan operasi. Ibu Tuti sehari-hari bekerja sebagai penjaja makanan keliling yang tidak memiliki cukup dana untuk membiayai penyakitnya, serta beban hidup bagi ketiga anaknya. Setelah Tuti berusaha kesana kemari untuk memperoleh pinjaman, dan hasilnya tidak akan mencukupi biaya pengobatan Ibunya, maka Tuti memutuskan untuk menjual keperawanannya dan melacur. Tuti melakukan itu semua demi menyelamatkan nyawa ibu dan kelangsungan hidup dua orang adiknya. Saya sepakat, bahwa permisalan ini adalah sebuah kondisi dimana seorang Tuti terdesak.oleh keadaan.


Permisalan keadaan didesak adalah sebagai berikut. Anne adalah seorang anak yang duduk di bangku sekolah menengah. Anne hidup di dua lingkungan yang berbeda. Anne berasal dari lingkungan masyarakat dan keluarga yang pas-pasan (bisa makan sehari sekali saja sudah syukur). Sedangkan Anne belajar di lingkungan sekolah yang elite, yang kebanyakan berasal dari kalangan kelas atas dan ‘berotak’. Tidak dipungkiri, Anne berinteraksi dengan teman-teman yang berbeda strata sosial-ekonominya. Dari pandangan riil kehidupan sehari-hari, maka lambat laun hal itu beralih kepada pandangan hidup. Anne pun tidak sanggup menerima ‘kemiskinan’ yang membelenggu dirinya. Demi mensejajarkan diri, dalam hal cara pandang dan gaya hidup seperti teman-temannya, maka Anne menjual keperawanan dan melacurkan dirinya. Pada kondisi ini, saya sepakat bahwa Anne didesak oleh keadaaan. Pernyataan ‘didesak’ menyiratkan bahwa sebetulnya ada pilihan bagi Anne untuk memilih jalan hidupnya. Dan Anne memilih untuk melacur.


Sejujurnya, tulisan ini diinspirasi oleh Metropolis Cover Story di Jawa Pos sebanyak 2 seri back to back pada 18 dan 19 Mei 2008. Dalam rubrik tersebut, dideskripsikan fenomena tentang grey chicken atau lebih dikenal sebagai pelacur pelajar. Pada seri pertama dijelaskan tentang pelacur yang didesak keadaan. Sedangkan pada seri kedua dijelaskan tentang pelacur yang terdesak oleh keadaan. Saya sendiri sebetulnya emoh membedakan makna didesak dan terdesak. Hal itu karena bedanya ukuran saya dengan orang lain, bahkan dengan Tuhan mengenai standard kata ‘desak’. Dalam dua seri back to back tersebut, keduanya membuat hati saya benar-benar terbelah dua. Pada seri pertama saya benar-benar dibuat jengkel, sedangkan pada seri kedua saya benar-benar dibuat trenyuh (tapi tetep jengkel juga sih ?).


Pada seri pertama, dijelaskan bahwa mereka melacurkan diri hanya sebatas untuk bisa mengikuti gaya hidup sinetron dengan handphone dan laptop. Bila perlu, mereka secepatnya berambisi untuk membeli mobil dan rumah mewah. Dan itu bisa dilakukan, seri kedua membuktikan itu ! Bahkan dalam ‘operasional’ bisnisnya mereka juga tidak segan-segan menipu pelanggan dengan berbagai trick agar bisa dibilang ‘perawan’. Jadi kasarnya, mereka yang mengaku pelacur pelajar ini sebetulnya adalah perawan jadi-jadian. Ada yang keperawanannya direnggut pacar sendiri, ada juga yang benar-benar direnggut oleh si hidung belang.


Pada seri kedua, dijelaskan bahwa salah seorang legenda pelacur pelajar menyatakan telah ‘berhenti’ dan hanya memberikan service khusus kepada beberapa langganannya yang exclusive. Alasannya sebagai balas budi, karena hidung belang exclusive itulah yang bisa membuatnya hidup ‘enak’ sekarang. Si legenda ini, alasannya melacur bolehlah saya bilang ke dalam kategori terdesak. Maklum, ketika melacurkan diri dia mengalami kejadian yang cukup mengejutkan. Dan secara otomatis membuat keluarganya tidak memiliki penghasilan apapun untuk menghidupi beban hidup keluarga. Selanjutnya, diceritakan kejadian-kejadian yang cukup memberi kita pengertian tentang sisi lain dunia si legenda. Satu hal yang cukup membuat saya jengkel kepada dia adalah ucapan yang menyatakan bahwa dia ‘senang’ dengan kehidupannya sekarang, dan rela jadi ‘bekas’ orang jelek-jelek daripada bekas orang baik-baik.


Tapi … ya sudahlah …


Jujur saja, saya kadang merasa pilu kenapa banyak orang menyadari dan melakukan suatu kejahatan, tapi tidak mengakui kejahatannya. Saya ini penggemar bokep dan komik porno, jika saya ditanya tentang “Apakah kamu merasa salah dan bersalah atas kegiatan yang kamu lakukan ?”, maka jawaban saya cukup singkat, “YA!”. Andaikata saya seorang pelacur, saya setuju bahwa saya bersalah, tapi saya tidak akan merasa bangga dengan mengatakan, “Itu bagian dari jalan hidup saya. Lagipula saya tidak akan bisa hidup enak kalau tidak melakukan pekerjaan itu. Lebih baik jadi bekas orang jelek-jelek daripada bekas orang baik-baik.”


Ah … dunia ini memang kompleks … dan di dalamnya kebenaran dan kejahatan adalah seperti dua sisi mata uang. Sulit bagi saya untuk menjustifikasi orang lain apalagi diri saya sendiri. Sebab, nilai kebenaran hakiki hanya Tuhan yang tahu, rahasia kehidupan, janji surga dan ancaman neraka adalah hal-hal ‘kuno’ yang tidak konkrit dan tidak memiliki wujud nyata, semuanya imajiner. Agaknya, slogan mau untung besar maka korbannya juga harus besar, itu benar adanya. Sekalipun pengorbanan itu agaknya menyakiti jiwa dan keyakinan kita akan kebenaran sejati … yang terkucil di pojok hati.


Belum cukup sampai di situ, banyak ketakutan lain yang harus dihadapi dalam menjalani hidup ini. Jujur saja saya takut dengan arah pikir dan cara pandang kita yang didominasi oleh nilai-nilai materi yang positivistik dan maskulin. Terbukti sudah, bahwa gaya pikir anak-anak muda zaman sekarang adalah gaya pikir yang sangat pragmatis (keseharian), instant, dan cenderung mengacuhkan nilai-nilai moral. Saya tidak pernah menyatakan bahwa bersikap rasional itu buruk, malah dalam era digital sekarang sikap rasional dan logis akan mengantarkan manusia pada kesuksesan. Tapi sukses itu sendiri apa ? Buat saya, sukses itu adalah ketenteraman bathin yang tidak melupakan ketenteraman lahir. Jadi, bagi saya nilai-nilai moral dan sikap rasional dibutuhkan secara seimbang, komplementer, dan bukan bersifat saling substitutif secara mendominasi.


Pola pikir yang ‘ajaib’ terutama dalam kasus-kasus pelacuran akan terus berkembang, dengan ‘paket’ yang kian hari kian inovativ. Bukan hanya untuk menangguk keuntungan dari penjualan penis dan vagina semata, namun juga untuk mensahihkan eksistensi mereka sebagai bagian dari lingkup sosial-ekonomi-budaya di belahan dunia manapun. Fenomena itu terbukti benar, dan kian hari kian menguat. Mereka yang bergerak di bidang pelacuran ini bahkan telah merenggut banyak keperawanan gadis-gadis di bawah umur. Saya tak peduli lagi dengan alasan, mengapa mereka me;acur ? tokh mereka juga berpikir EGP kepada saya. Tapi saya juga berhak menuntut tempat kepada mereka …


Saya paham bahwa perawan bukan hanya soal selaput dara !!! Perawan adalah soal yang kompleks terutama dalam domain ke-tradisi-an di negeri ini. Oke !!! Saya harus mengaku bahwa saya termasuk ke dalam kalangan tradisionalis itu, walaupun juga bisa dibilang menjalani proses metamorfosis ke arah progresiv thinking. Oke, selaput dara sobek ! Tapi disebabkan oleh apa ? Apakah disetubuhi (diperkosa) ? Atau menjual diri ? Apakah dilakukan dengan niat suka-sama-suka ? Atau keterpaksaan ? Jujur saja, saya belum bisa menerima seorang gadis yang telah kehilangan keperawanan karena bersetubuh dengan laki-laki lain. Saya tidak pernah berharap mendapatkan gadis semacam itu sebagai istri.


Terkadang saya mencoba berpikir sebijaksana mungkin untuk menanyakan masalah ini kepada diri saya sendiri. Saya ingin sesekali memikirkan ini, untuk meredam emosi saya jika akhirnya diketahui bahwa istri saya memang punya sejarah ‘kelam’. Saya mencoba berpikir bijaksana, antara harga diri saya sebagai lelaki yang dapat barang ‘bekas’, dengan nilai-nilai komitmen dalam sebuah pernikahan. Semua itu karena pernikahan bukan hanya soal seks semata, namun lembar baru ‘kehidupan bersama’ sampai mati. Yang di dalamnya sebuah keluarga akan bertumbuh bersama baik dari sisi kuantitas juga kualitas. Kasarnya, saya ingin punya istri yang bisa saya sayang dan saya bina menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelum waktu menikah. Begitu juga harapan istri saya kepada saya. Saya akan berjuang menjadi lelaki yang lebih baik bagi istri dan anak-anak saya.


Namun, kini sebagai lelaki normal yang mampu membaca perkembangan prostitusi dan pergaulan remaja zaman sekarang, hati saya jadi gundah. Saya jadi punya pikiran ‘jangan-jangan’ … Jangan-jangan calon istri saya tidak perawan ? Jangan-jangan saya dapat ‘barang bekas’ ? Jangan-jangan calon istri saya masih akan ‘giat’ bersetubuh dengan lelaki lain ? Jangan-jangan saya tidak mencintai calon istri saya dan hanya menginginkan tubuhnya, sama halnya dengan lelaki hidung belang ?! Jangan-jangan saya memang hidung belang ? Jangan-jangan …

Jakarta oh Jakarta

Jakarta tercinta.. Jakarta menyebalkan..
Ibukota yang lebih kejam daripada ibu tiri, uang lah yang diperlukan untuk tetap hidup di Jakarta. Ada uang teman datang, ga ada uang bye bye lah. hahaha...

Yah beginilah kenyataan yang perlu di hadapi..
Teman hanyalah topeng, ga ada keuntungan lagi saatnya kau cari teman yang lain.
Sejak di dunia kerja, aku tau beratnya hidup ini, kerasnya berjuang di ibukota.
Gaji pas-pasan untuk membiayai hidup sendiri, nabung sedikit demi sedikit untuk liburan. Biaya hidup yang lumayan tinggi, tidak ada waktu untuk memanjakan diri sendiri. Tiap hari ke kantor, pulang istirahat, besok ke kantor lagi, hidup monoton.
Ga taw sampai kapan rutinitas seperti ini akan terus dilakukan. Sampai kapan aku akan bertahan seperti ini.

06:00 => Bangun pagi
07:00 => Berangkat ke kantor
18:00 => Nyampe ke kos
19:00 => Makan malam
22:00 => Tidur

Besok diulang lagi, hidup ini sungguh monoton :D