Showing posts with label restoran. Show all posts
Showing posts with label restoran. Show all posts

Saturday, July 21, 2012

Dee, Raminten Kaliurang

Jalan-jalan ke Yogyakarta, belum afdol kalau belum singgah di Warung Raminten. Pemilik Raminten (menurut versi driver) adalah seorang waria yang sangat terkenal di Yogyakarta. Mungkin bunda Dorce-nya Yogyakarta, orang-orang bisa menerima dia sebagai wanita, tidak ada tuh yang demo-demo :))

Restoran Raminten dengan interior serba jawa ini memang cukup menarik perhatian, terlebih dengan kesan 'murah meriah' dan buka 24 jam, membuat Raminten menjadi destinasi favorit para wisatawan. Meja yang terbuat dari kayu, kursi dari rotan dan tentu saja harus lesehan dengan karpet di gelar di setiap meja. Unik memang, tentu saja warga perkotaan/turis mancanegara kangen untuk mencoba suasana ini. Area restoran cukup luas, dibuat saung-saung kecil sebagai tempat menyantap makanannya, ada beberapa kolam yang agak tidak terawat dan beberapa ayam yang dikandangi.

Warung Raminten



Cewek? Cowok ini aslinya

Ayam Raminten


Kunjunga kali ini, kami memilih duduk di bale-bale yang dipisahkan oleh kolam dari gedung utama agar tidak terdengar lagi suara hiruk pikuk lalu lintas, pengen suasana kampung, tanpa polusi suara. Kolam, suara burung, suara kecipuk ikan, musik keroncong jawa tetep sih ngak suasana di kampung halaman, kampong aku kan Melayu! Hahaha...

Kita dilayanin oleh salah satu pramusaji *yang datangnya lama banget, 5 menit duduk baru dilayani!*, yang ngomongnya pelan banget, iya sih mas orang Jawa, tapi tidak usah pelan-pelan juga sampai tidak kedengaran suaranya, tidak pake lemot juga. Tentu saja, dengan tambahan "TIDAK PAKE LAMA, KAMI LAPAR". Laper banget, abis hiking bukit Pronojiwo dan belum makan hingga pukul 2 siang! Bayangin, laparnya itu! *kalo ga bisa yah ga usah, anggap aja ga makan sehari*

Sekeliling restoran digantungi plang-plang kayu berisi pepatah dalam bahasa Jawa, lucu-lucu sih, tapi ada satu yang bikin kesel "Alon Alon Waton Kelakon" yang artinya biar lambat asal selamat. Mas/mbak, saya kasih tahu yah, kalo lambat ngasih makan itu bukan artinya selamat, berbahaya dunia persilatan di perut saya, naga-naga udah berantem kalo telat makan! =3

Lucky Number

Alon-Alon Waton Kelakon

Buku menu di Raminten cukup atraktif, pemilihan font, warna-nya cukup atraktif, boleh nih cari tau siapa yang nge-desain, lumayan match dengan konsep restorannya. Untuk makanan di Raminten, starts from IDR 1,000.- hingga tidak terhingga. Muraaah? Hmm.. Iya murah kalo situ-situ cuma pesen nasi kucing seribu doang, nasi + ikan teri + tempe seuprit? Mau makan itu doang? Aku sih ngak bisa.

Pilihan minuman juga cukup atraktif, dari sekedar teh saja hingga beer. Es beraneka ragam dengan harga IDR 10,000.- Beer IDR 20,000 Terserah mau pesen apa aja, dan tentu saja sih tidak murah juga kalau pesannya yang menarik perhatian =D

Raminten Menu

Raminten Menu

Raminten Menu

Raminten Menu

Raminten Menu

Raminten Menu

Raminten Menu
Setelah menunggu sekitar ermm... 15 menit minuman belum datang juga, iya lamaaaaaah! Tapi mau ngimana lagi sih, emang lama sih terkenalnya, mau cepat? Fast food aja noooh! Sabar-sabar akhirnya 5 menit kemudian es Raminten dihidangkan, 2 scoops ice cream 'Campina' dengan wafer stick, susu + sirup. Special? Tidak sama sekali, tapi udah lapar, langsung habisin!

Tentu saja kita memesan nasi kucing double, yang porsinya kayak liliput juga, murah sih IDR 2,000 dapat segitu, tapi ermm.. bingung mau ngomong apa! Kita memesan cukup banyak lauk untuk santap siang ini, mulai dari ikan gurame bakar, ayam bakar, pepes tuna, tauge ikan asin, roti bakar, udang, cumi, tempe, tahu, bakso, ah sampai lupa pesen apa aja! Pokoknya banyak banget saking laparnya. Dan setelah teman-teman kenyang, Dee yang habiskan semua dan masih lapar aja sih, tidak tahu kenapa makanan begini tidak akan bikin kenyang! Enak? Tidak juga, lapar banget soalnya, tapi masih eatable sih, tapi yah itu IMO Raminten itu tidak murah-murah banget, porsinya kecil sih apalagi untuk lauk-lauknya. Ikan per ons sekitar IDR 6,000 sama aja sih dengan restoran kan? Ikannya tidak segar!

Jeruk Kelapa, Beras Kencur, dan lain lain

Es Raminten

Es Raminten

Gurame Bakar Pedas

Nasi kucing double

Nasi Kucing Double, nasi dua porsi dengan lauk segitu doang?

Ayam bakar pedas

Overall, IMO Raminten overrated banget. Kalo kalian makan nasi kucing doang yah murah, kalau pesan lauk-lauk lainnya yah tidak murah-murah banget mengingat porsinya yang kecil. Ikan yang katanya 500gr, kecil banget, kira-kira 250gr doang *kalo ada yang tanya tau darimana, gw hidup di desa nelayan, tiap hari makan ikan, punya kapal penangkap ikan, tidak susah bagi kami untuk menebak berat ikan dengan sekedar melihat saja. Seriously, I prefer pay more tp get big portion.

Service 4/10 (banyak pesanan yang ga masuk, reorder nunggu setengah jam ga dibuat, bahkan pesan tambah nasi saja tidak bisa disajikan?)
Design Restoran 7/10
Suasana 7/10
Rasa 6/10
Harga 6/10

Overall yah standar (6/10), buat nongkrong boleh lah kalo tahan lama. Rasa biasa aja, walaupun saat itu lapar banget, masih berasa makan kurang segar atau kurang fresh.




NB : Setelah mau membayar, baru lihat ikan Nila/Guramenya dipelihara di kolam dangkal yang kotor, terang aja ga segar dan bau tanah, kalo lihat dari awal tidak akan pesan ikannya =3

Monday, June 18, 2012

Dee, Makan di Saung

Makan-makan kali ini, kita beranjak ke Batam. Kunjungan kali ini, saya dan teman-teman mengunjungi restoran seafood pinggir sungai yang bernama Indah Jaya. Setelah kunjungan ke Pulau Galang yang sudah menjelang sore di jembatan lima, kami memutuskan untuk mengisi amunisi di dekat jembatan empat dengan makan seafood langganan di Indah Jaya. Jangan bayangkan restoran besar dengan fasilitas yang wah, restoran ini jauh dari suasana wah, malah sangat kampung sekali, semua masih terbuat dari kayu dan papan.

Restaurant Seafood Indah Jaya

Rumah Makan Indah Jaya

Saya serasa dibawa pulang ke kampung lagi, menikmati saung di tepi sungai dengan ditemani suara kicauan burung. Makan sambil menikmati sunset di tepi sungai dengan atap pohon rumbia, dan melihat perahu kecil membelah sungai. Aaaah priceless moment yang tidak bisa kita temukan di hiruk pikuk perkotaan. Tetapi tidak bisa lama-lama menikmati suasana ini, perut sudah sangat lapar, saatnya makan seafood!

Jalan menuju Saung

Jalan Menuju Saung

Serasa pulang kampung


Saung Indah Jaya
Kualitas seafood disini dijamin masih segar, rajungan diambil dalam keadaan masih hidup, langsung dari kolam yang dibuat di sungai. Rajungan disini cukup besar, kami yang ber-4 memesan 6 ekor rajungan. Untuk minum, tentu saja memilih kelapa muda, kelapa muda kan memang paling pas untuk menikmati sunset! Hahaha...

Rajungan Fresh from the water

The restraurant owner took the rajungan from the pond

Meja makan

Kelapa Muda

Tidak pakai babibubiba, kami minta pesanan kami segera dihidangkan. Kami memesan 6 ekor Steamed Rajungan, seporsi Steamend Prawn, 2 ekor Ikan Asam Pedas, seporsi Gongong Rebus, 2 porsi Cumi goreng tepung dan seporsi Kangkung Cah Terasi. Porsi-nya by request, kita pesan semua dalam porsi gede, jadi Ikan aja dikasih 2 ekor! Jujur saja, saya sudah cukup lama tidak menikmati seafood segar, IMO seafood di Jakarta sudah tidak segar lagi, walaupun katanya fresh dalam kolam atau akuarium, tapi ingat binatang juga memiliki tingkat stress, di kolam atau akuarium itu tingkat stress ikan yang sangat tinggi, jadi yah dagingnya sudah berbeda bila dibandingkan dengan habitat yang lebih menyerupai aslinya. Dan sorry to say, seafood yang telah di-eskan di Jakarta tidak bisa dibilang fresh, entah karena teknik peng-esan yang kurang atau karena memang kualitas air laut dan air es Jakarta yang tidak mumpuni lagi untuk menyajikan makanan yang baik.

Dan setelah menu pertama dan kedua dihidangkan (udang dan ikan) maaf sudah tidak ada waktu lagi buat foto-foto, sudah terlalu lapar dan finger licking good! Saya jauhkan segala peralatan dari tangan yang pasti kotor kalo makan! Tentu saja makan dengan orang daerah tidak boleh malu-malu berebutan makanan, kalo malu yah Anda tidak akan menikmati makanan yang banyak! So, jangan tahu malu kalo makan seafood! Makan sebanyak-banyaknya.

Steamed Prawn

Ikan Putih Asam Pedas

Saatnya makan!
Kami ber-4 menghabiskan makanan sambil menikmati sunset, maaf, tidak sempat buat foto-foto, tangan terlalu kotor dan adat kebiasaan orang daerah kalo sudah makan tidak sopan untuk berdiri/pindah tempat sebelum makan selesai. Yah begitulah cara kami menghormati makanan dan menghargai orang yang menyajikan makanan. Tentu saja, bila makan ikan, kepala pasti yang ditelantarkan, woooohooo heaven for me! 2 kepala ikan nganggur, saatnya dihabiskan! Makan sampai tetes terakhir! Hahaha..

Untung semua menu yang kami pesan, total bill yang harus kami nayar adalah IDR 420,000. Mahal? Relatif lah, untuk suasana priceless, finger licking good food dan nostalgic moment! Menu yang tidak bisa didapat di Jakarta, dan makan sampai puas harga tersebut sangatlah wajar. The taste is not bad at all, overall saya berikan nilai 7.5/10. Sebenarnya di Batam banyak restoran saung seperti ini, ada yang lebih murah atau lebh mahal, jadi tinggal pilih saja. You got what you paid!


Wednesday, June 6, 2012

Dee, Jejamuran Restaurant

Kunjungan ke Jejamuran sebenarnya udah lama, tapi belum sempat aja membahasnya. Tapi kalo belum nulis tentang restaurant yang lagi IN di Yogyakarta ini kayaknya ada sesuatu yang kurang. Jejamuran restoran tampil dengan desain yang sangat tradisional, dengan interior kayu dan kain-kain yang dihias seperti kelambu. Sebenarnya agak membingungkan, apa sih maunya sang desain interior, mau kesan etnik dan jadul banget atau etnic luxurious, kalo mau sekalian etnik jadul yan mendingan pake kain batik toh? Lebih dapat feel-nya, kalau mau etnic luxurious, yah semua furniture-nya kudu diganti, terserah sih pilih yang mana, tapi dari segi design sih agak 'rancu' mau dibawa kemana restoran ini.

Keambiguitas restoran ini tidak sampai disitu, bayangkan aja lagi di tanah jawa, di restoran yang design begini, kami yang menjadi customer di restoran ini disuguhi lagu Batak, iya ngak salah, lagu Batak bukan Jawa, aneh ngak sih? Semakin bingung mau dibawa kemana restoran ini, branding-nya gimana yah? 





Tapi ya sudahlah, perut benar-benar lapar banget dari Borobudur, mau pesan yaoloooh tipikal orang Jawa, lama teunan, kita yang lapar yah udah tidak sabar mau pesan malah 'dikacangin'. Udah tidak sabar, minta mbak-nya untuk memberikan menu ke kita, dan dengan cepat pesan sembarang menu yang penting cepat dan segera disajikan. Laparnya udah tidak tertahan lagi sih.





Yang paling menarik perhatian adalah mereka menyediakan Carica! Aaaah, wajib pesan, udah ngidam berat Carica Dieng, tetapi kenapa harus ditambahin batang serai?! (6/10) Yang belum pernah nyoba Carica wajib coba, ini buah terenak dan paling segar! Cuma ada di Dieng lho! Dan saya memesan wedang jahe karena lagi agak gerimis, tetapi wedang jahenya pahit minta ampun, tidak enak ditambah dengan bau serai yang begitu tajam, minuman ini tidak drinkable banget yah akhirnya kita tumpahin saja, jangan pesan! :S Saya juga sedikit heran, kenapa mereka menambahkan serai di setiap minuman, IMO rasa asli minuman Carica jadi terganggu dengan bau tengik dari serai.

Carica Squash

Wedang Jahe

Oke, selanjutnya kita bahas tentang makanan, karena tidak terlalu memperhatikan apa saja dan sudah banyak menu yang sudah not available, kita pesan saja apa yang ada. Dan the lucky menu yang dipesan adalah Dadar Shitake, Lumpia Jamur, Crispy Tiram, Jamur Pedas,  Rendang Jamur, dan Jamur Lombok Ijo. Sate Jamur, Asam Manis sudah sold out. Ya udahlah, kayaknya sudah lumayan banyak pesanan kami, padahal yang makan cuma 3 orang saja.

Dadar Shitake

Lumpia Jamur

Crispy Tiram

Jamur Pedas

Jamur Lombok Ijo

Rendang Jamur

Lunch Time at Jejamuran

Dan setelah icip-icip semua menu dengan perut yang lapar, tetapi lidah masih bisa mencicipi dengan baik. My favorite is Jamur Lombok Ijo, kenapa? It was very nostalgic, like my mom dish! Bit Spicy and crunchy mushrooms. (7.5/10). Dadar Shitake tidak terlalu spesial, yah anggap aja lagi bikin telor dadar, tambahin aja potongan jamur shitake (5/10). Lumpia jamur-nya cukup baik, dan hal yang penting adalah lumpia ini lumpia basah, tidak digoreng, jadi sangat sehat (6.5/10). Untuk Crispy Tiram, saya rasa tidak ada bahan MSG di tepungnya, ini sebuah nilai plus, jadi cukup layak dinikmati (6.5/10). Sedangkan jamur pedas-nya seperti yah daging-dagingan vegetarian di masak pedas aja sih, nothing special (6/10). Untuk rendang jamur, yah seperti rendang vegetarian, jadi oke lah dan wajib dipesan juga (6.5/10).

Untuk harga, relatif, murah tidak juga bila kita bandingkan dengan bahan yang mereka pakai. Untuk semua makanan + minuman yang kami pesan, total IDR 160,000 untuk bertiga, tidak murah juga kan untuk menu hanya jamur saja. Overall, restoran Jejamuran saya berikan rate (6.5/10). Apalagi dengan berbagai recommended dari berbagai pihak, IMO sebagian orang terlalu overratedIt just okay for me, how your opinion?